<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-9068598759995211418</id><updated>2012-02-15T23:28:27.501-08:00</updated><title type='text'>artikel</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://lanskap-artikel.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lanskap-artikel.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>LANSKAP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16525646099308139572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_GeVrtHBSwVI/SNiCsaeAeTI/AAAAAAAAAz4/Pl5X__vx_Nc/S220/Logo+LANSKAP.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>60</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9068598759995211418.post-6501074117251481061</id><published>2008-10-19T15:57:00.000-07:00</published><updated>2008-10-20T20:48:08.288-07:00</updated><title type='text'>Artis, Tokoh Lokal, atau Wajah Lama di Banten I</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;" id="reporter"&gt;Penulis : Kennorton Hutasoit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;" id="content1"&gt;DI daerah pemilihan Banten I, 38 parpol peserta pemilu memperebutkan sekitar 1,5 juta suara pemilih yang tersebar di Kabupaten Lebak dan Kabupaten Pandeglang untuk 6 kursi DPR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah pemilihan Banten I menjadi arena pertarungan sejumlah artis, tokoh intelektual, dan tokoh lokal yang diajukan sebagai calon anggota legislatif (caleg) DPR oleh partai politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada perbedaan daerah pemilihan bila dibandingkan dengan Pemilu 2004. Pada waktu itu, Provinsi Banten terbagi menjadi dua daerah pemilihan. Banten 1 yang meliputi Serang, Pandeglang, dan Lebak memperebutkan 11 kursi. Sedangkan pada Pemilu 2009, Banten terbagi menjadi tiga daerah pemilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PDI Perjuangan mengandalkan pelawak TB Dedi Suwandi Gumelar atau yang akrab dipanggil Miing di nomor urut 1. Sosok artis juga dijagokan Partai Amanat Nasional (PAN) yang mengajukan penyanyi Ahmad Zulfikar Fawzi yang lebih dikenal dengan nama Ikang Fawzi di nomor urut 1. Partai Demokrat menempatkan artis sinetron Jane Shalimar di nomor urut 6.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penempatan artis tidak diikuti Partai Golkar di daerah itu. Partai berlambang beringin itu menjagokan tokoh lokal dan tokoh intelektual sebagai caleg. Di daerah tersebut, Golkar mengusung Ketua DPD Golkar Provinsi Banten Mamat Rahayu Abdullah di nomor urut 1. Mamat sudah teruji pada Pemilu 2004 dengan berhasil menjadi anggota DPR dari daerah Banten 1. Golkar juga mengajukan Ketua DPD Golkar Kabupaten Lebak Herry Djuhaeri sebagai caleg nomor urut 4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain tokoh lokal, Golkar juga mengajukan peneliti Indonesian Institute for Civil Society (Incis) Tubagus Ace Hasan Syadzily sebagai tokoh intelektual dengan nomor urut 2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Staf ahli Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) Entjeng Shobirin maju sebagai caleg dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dengan nomor urut 2. Partai berlambang Kabah itu juga menjagokan Bupati Pandeglang Achmad Dimyati Natakusuma di nomor urut 6.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah wajah lama yang sudah menjadi anggota DPR juga masih diajukan sebagai caleg dari daerah pemilihan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikang Fawzi berkeyakinan bisa meraup suara signifikan. Sebab, ia sudah berkeliling ke daerah untuk menghibur masyarakat. "Saya mendatangi masyarakat ke desa-desa sambil menghibur dengan gitar. Rakyat kan sudah susah, jadi mereka harus dihibur. Ini bentuk kepedulian saya kepada masyarakat sebagai artis, politisi, sekaligus putra daerah," katanya di Jakarta, kemarin.&lt;br /&gt;Ikang juga sudah melakukan kalkulasi politik dan mempelajari peta politik di Banten I. "Setiap parpol punya pemikiran dan strategi. Saya putra daerah nomor 1 dari PAN. Saudara saya di sana banyak. Saya melakukan pola yang berbeda dengan parpol lain. Saya memperkuat hubungan interpersonal," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan mengenai kehadiran Miing, menurut dia, tidak masalah. "Saya akan bertarung dengan artis lain di sana seperti Mas Miing. Tapi kami akan bertarung sehat, karena selama ini sesama artis memiliki hubungan baik," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wakil Sekjen DPP Partai Golkar Rully Chairul Azwar menjelaskan partainya lebih memilih kader dan intelektual sebagai caleg di Banten I. Menurutnya, Golkar sudah cukup dikenal, jadi tidak perlu menggunakan figur terkenal seperti artis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau mengambil figur dari luar, berarti partai gagal melakukan kaderisasi. Kami yakin mempertahankan bahkan menambah perolehan kursi dengan menempatkan kader senior yang memiliki kedekatan dengan Banten I seperti Mamat Rahayu," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Entjeng Shobirin mengaku tidak terlalu &lt;i&gt;ngotot&lt;/i&gt; dalam berkampanye. Pasalnya, PPP tidak menerapkan sistem pemeringkatan perolehan suara dalam penentuan caleg terpilih. &lt;br /&gt;"Karena masih pakai sistem nomor urut, tidak usah ngoyo karena nomor urut teratas yang menikmati. Kalau sistem suara terbanyak, orang harus bekerja keras untuk menguji akseptabilitas dirinya di masyarakat," katanya.&lt;strong&gt;(P-1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ken@mediaindonesia.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;h3 style="text-align: right;" class="post-title entry-title"&gt;&lt;a href="http://lanskap-menu.blogspot.com/2008/10/pemilu-2009.html"&gt;PEMILU 2009&lt;/a&gt;&lt;/h3&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9068598759995211418-6501074117251481061?l=lanskap-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/6501074117251481061'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/6501074117251481061'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lanskap-artikel.blogspot.com/2008/10/artis-tokoh-lokal-atau-wajah-lama-di.html' title='Artis, Tokoh Lokal, atau Wajah Lama di Banten I'/><author><name>LANSKAP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16525646099308139572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_GeVrtHBSwVI/SNiCsaeAeTI/AAAAAAAAAz4/Pl5X__vx_Nc/S220/Logo+LANSKAP.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9068598759995211418.post-7952261007531457778</id><published>2008-10-19T15:50:00.000-07:00</published><updated>2008-10-20T20:49:46.636-07:00</updated><title type='text'>Kesimpulan, Pemilu 2009 &amp; Demokrasi</title><content type='html'>&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Menjadi&lt;span&gt; &lt;/span&gt;sebuah pertanyaan yang cukup mendasar, apakah reformasi yang telah kita jalani selama kurang lebih 10 tahun terakhir adalah sesuatu yang telah gagal. Reformasi, yang tadinya dibangga-banggakan sebagai jalan terang dan pintu masuk kepada era baru pemerintahan yang mengutamakan rakyat dan mau mendengar segala keluhannya melalui lonceng pagi parlemen ternyata, menurut banyak orang adalah sistem yang gagal. Demokrasi itu mahal, Demokrasi itu bodoh, Demokrasi itu terlalu bebas, terlalu liar! Kata orang. Kembali menjadi satu pertanyaan, benarkah tuduhan akan keberhasilan Demokrasi di Indonesia ini benar adanya? Tergantung dari sudut pandang dalam memandang permasalahan, &lt;span&gt; &lt;/span&gt;jawaban dari pertanyaan diatas bisa benar atau salah. Tapi apa sebenarnya dasar dari kesimpulan bahwa reformasi yang menghasilkan Demokrasi dan membebaskan rakyat dari rezim otoriter Soeharto telah dan hanya menghasilkan kegagalan?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span id="more-307"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Well&lt;/em&gt;, salah satu dasar yang jelas atas opini ini adalah banyaknya koruptor yang tertangkap. Menurut banyak orang, jaman Soeharto damai, kriminalitas lebih terkontrol, koruptor yang keluar masuk penjara hampir tidak ada, bisa dibilang setiap harinya televisi hanya mengabarkan berita yang menciptakan opini di luar negeri sedang terjadi keributan dengan skala massal sementara di Indonesia semuanya adem ayem. Gemah ripah loh jinawi, seperti senyum sang Smiling General Soeharto. Ada lagi yang mendasarkan kesimpulannya bahwa Demokrasi telah gagal ke mahalnya harga sembilan bahan pokok atau sembako. BBM, yang dalam 5 tahun terakhir telah naik tidak kurang dari dua kali dan seringnya terjadi kelangkaan keperluan dasar membuktikan bahwa pemerintah saat ini telah gagal dalam menjalankan fungsi micro-managementnya. Mereka tidak hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Tidak seperti Soeharto, yang tiap minggunya rajin menyapa kaum menengah kebawah lewat acara Dari desa ke Desa dan pidatonya di Istana yang bisa serentak memberhentikan seluruh tayangan televisi. Kaget, mereka bahwa pemerintah kini hanya muncul di TV untuk mengomentari isu-isu negatif dan isu positif yang pada akhirnya akan dikomentari negatif juga. Jujur, kadang kita kelewat cepat menelan mentah-mentah air rangkuman yang setiap harinya dikabarkan di televisi. Kalau TV dengan tendensinya menciptakan suatu isu sebagai sesuatu yang negatif, maka ya, ia adalah jelas negatif. Kalau TV melakukan pemberitaan yang sifatnya netral atau positif maka ia bisa berarti positif atau negatif. Jarang dapat kita temukan komentar yang muncul di TV dari rakyat lewat hubungan &lt;em&gt;hotline&lt;/em&gt; sebagai komentar yang dalam, penuh pemikiran dan kebijaksanaan. Kebanyakan adalah ungkapan emosi, tumpahan masalah dan perkiraan atau interpretasi yang berlebihan. Semakin sering seseorang muncul di TV dengan imej positif, maka ia adalah seorang yang positif.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Contoh yang paling jelas bisa kita lihat dari iklan salah satu kandidat Capres dari satu partai politik yang menayangkan iklan berkali-kali dalam sehari dengan teks penuh retorika yang sangat jelas adalah hapalan. Lucunya, retorika ini betul-betul mentah, apalagi ditambah dengan kehadiran sang pengisi suara yang membisikkan nama partai berkali-kali ditengah kalimat, seakan ingin menciptakan kesan magis. Sepertinya saking inginnya si kandidat menjadi Presiden, ia memenuhi satu spot iklan itu dengan list issue yang akan ia selesaikan saat ia menjadi Presiden. Pembahasannya pendek dan cepat, walau sama sekali tidak padat. Karakternya muncul justru seperti pengemis setengah gila dengan safari berharga jutaan rupiah yang muncul tiba-tiba berteriak kalau ia bisa membuat orang terbang dalam sekejap tanpa menjelaskan caranya. Wow.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Bayangkan bagaimana excitednya para penonton yang memang mendambakan agar bisa terbang selama bertahun-tahun. Mereka sekejap percaya. Padahal belum dijelaskan caranya. Mereka juga tidak ingin tahu apa saja yang sebenarnya sudah dilakukan si kandidat di pengalaman masa lalunya. Apa memang di masa lalu ia mamnpu menerbangkan orang ke angkasa atau mengirim darah muda masa depan ke alam baka?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Cerita mudahnya rakyat kita dibohongi oleh penampilan dan retorika memang bukan barang baru. Bahkan Presiden pun, dalam langkahnya untuk mendapat popularitas dan “pengalaman” untuk memenangkan pemilu berikutnya, bisa dibohongi oleh “penemu” jadi-jadian yang ternyata memang cuma jadi-jadian. Dan woop, secepat kilat Presiden disalahkan, semua orang disalahkan, minta ganti rugi, padahal sendirinya sudah gagal mempelajari dan menciptakan kesimpulan yang benar. Salah duga, salah kata, kena tipu. Bukan maksud untuk menyalahkan petani yang mungkin dalam kenyataan tekhnisnya memang sudah rumit hidupnya dengan kesulitan hingga menginginkan sesuatu yang cepat dan mudah, tapi kadang kita harus bertanggung jawab atas keputusan kita sendiri. SBY-JK kini disumpah-sumpah bagai kambing bau yang berlari ditengah barisan massa, lalu kenapa mereka mendapat suara mayoritas saat pemilu kemarin? Bukankah kita semua harusnya sudah tahu bahwa dua orang ini di masa lalu bukanlah orang yang memprioritaskan rakyat sebagai segalanya? Media pun sepertinya tidak pernah mau memasuki sisi rumit dari mempelajari masa lalu seorang kandidat. Mungkin karena takut kehilangan penonton yang malas melihat kerumitan ditengah hidup yang sudah penuh kerumitan, tapi memberitakan salah satu kandidat tidur dirumah nelayan tidak akan membantu rakyat untuk menciptakan penilaian yang fair. Ia hanya menimbulkan simpati, meminta darah popularitas untuk diminum! Ini membuat kampanye pemilu 2009 seperti ajang pencarian idola yang tidak mementingkan isu, hanya menarik simpati rakyat. Jelas, bahwa kita semua selalu terlalu cepat untuk mengambil kesimpulan berdasarkan emosi dan simpati, bukan berdasarkan logika dan data. Padahal yang kita akan pilih disini bukan sarung guling, tapi Presiden.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" face="trebuchet ms" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-style: italic;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;sumber: setengahmateng.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;h3 style="text-align: right;" class="post-title entry-title"&gt;&lt;a href="http://lanskap-menu.blogspot.com/2008/10/pemilu-2009.html"&gt;PEMILU 2009&lt;/a&gt;&lt;/h3&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9068598759995211418-7952261007531457778?l=lanskap-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/7952261007531457778'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/7952261007531457778'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lanskap-artikel.blogspot.com/2008/10/kesimpulan-pemilu-2009-demokrasi.html' title='Kesimpulan, Pemilu 2009 &amp; Demokrasi'/><author><name>LANSKAP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16525646099308139572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_GeVrtHBSwVI/SNiCsaeAeTI/AAAAAAAAAz4/Pl5X__vx_Nc/S220/Logo+LANSKAP.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9068598759995211418.post-4430506856138324674</id><published>2008-10-19T15:49:00.001-07:00</published><updated>2008-10-20T20:51:37.055-07:00</updated><title type='text'>Prospek Partai-Partai Islam dalam Pemilu 2009</title><content type='html'>&lt;h5  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;" class="author"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Oleh Burhanuddin Muhtadi&lt;/span&gt;&lt;/h5&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;" class="article_content"&gt;   &lt;div class="summary"&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mengikuti asumsi politik aliran, kelompok abangan yang diidentifikasi sebagai penganut muslim kurang taat cenderung memilih partai nasionalis. Sedangkan kelompok santri dipercaya akan menyalurkan suaranya pada partai Islam. Warga NU lebih nyaman mencoblos partai yang dekat dengan NU. Sebaliknya, pendukung Muhammadiyah dan organisasi modernis lain cenderung memilih partai yang berlatar belakang Islam modernis.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Peta politik di Indonesia sulit dilepas dari pertarungan kelompok Islam versus nasionalis. Polarisasi Islam-nasionalis ini biasanya merujuk pada politik aliran yang diteoritisasi Clifford Geertz pada 1950-an. Inti dari teori ini adalah adanya kesamaan ideologis yang ditransformasikan ke dalam pola integrasi sosial yang komprehensif Mengikuti asumsi politik aliran, kelompok abangan yang diidentifikasi sebagai penganut muslim kurang taat cenderung memilih partai nasionalis. Sedangkan kelompok santri dipercaya akan menyalurkan suaranya pada partai Islam. Warga NU lebih nyaman mencoblos partai yang dekat dengan NU. Sebaliknya, pendukung Muhammadiyah dan organisasi modernis lain cenderung memilih partai yang berlatar belakang Islam modernis.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Pertanyaannya, apakah politik aliran masih relevan untuk menjelaskan pemilu pasca Orde Baru? Untuk menjawab pertanyaan ini, ada dua penelitian pada skala nasional. Pertama, studi R. William Liddle dan Saiful Mujani yang menyimpulkan politik aliran telah pudar. Tesis Liddle dan Mujani ini didasarkan pada survei skala nasional pada 1999 yang menyebutkan bahwa mayoritas pemilih PDIP (63%) dalam pemilu 1999 adalah santri.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Kedua, studi Dwight Y. King yang menyimpulkan bahwa politik aliran masih &lt;i&gt;viable&lt;/i&gt; pada tingkat &lt;i&gt;grassroot.&lt;/i&gt; Dengan data hasil Pemilu 1955 dan 1999, King menyatakan bahwa partai Islam dan Golkar mendapatkan suara di daerah-daerah yang pada tahun 1955 merupakan kekuatan utama partai-partai santri (misalnya Masyumi, NU). Sementara partai nasionalis seperti PDIP mendapatkan dukungan di daerah-daerah yang pada tahun 1955 merupakan lumbung suara partai abangan (misalnya PNI dan PKI). Jika studi King benar, maka perlu redefinisi politik aliran. Bahwa parameter menjalankan shalat dan ritual lainnya tak lagi akurat untuk membedakan afialiasi politik Islam dan nasionalis. Juga, pertanyaan semisal “apakah anda sering, cukup, atau tidak pernah menjalankan shalat” termasuk kategori socially desirable. Kalau politik aliran berlaku, seharusnya suara partai Islam melonjak pada pemilu 1999 dan 2004. Karena, sebagaimana dalam survei Liddle dan Mujani (1999), tingkat ketaatan umat Islam Indonesia dalam menjalankan ibadah makin tinggi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Faktanya, perolehan partai Islam pada pemilu 1999 dan 2004 mengalami penurunan jika dibandingkan dengan pemilu 1955. Gabungan partai Islam pada pemilu 1955 sebesar 43.7%, sedangkan total suara partai-partai nasionalis sebanyak 51.7%. Pada pemilu 1999, total suara partai Islam (PKB, PPP, PAN, PK, PKNU) anjlok menjadi 36.8%. Pada pemilu 2004 lalu, suara partai Islam naik menjadi 38.1%. Perlu dicatat, total suara ini masih memasukkan PAN dan PKB. Jika PAN dan PKB dikeluarkan dari partai Islam, maka suara partai Islam lebih sedikit.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Karakteristik partai Islam biasanya dilihat dari dua hal, asas dan basis massa. Dari asas partai, PPP, PBB dan PKS bisa disebut partai Islam karena asas dan ideologinya adalah Islam. Sementara PKB dan PAN bisa dikelompokkan Islam karena meskipun menjual ideologi pluralis, dua partai itu mengandalkan basis massa muslim. Namun, partai Islam tak homogen. PKS, PPP, dan PBB bisa dikategorikan Islamis. Ketiganya memosisikan Islam bukan semata-mata konstruksi teologis, tapi juga menyediakan perangkat sosial politik yang tak memisahkan agama dan negara (Monshipuri, 1998; Roy, 1993). Tak heran jika ketiga partai itu masih memiliki agenda semisal penerapan Piagam Jakarta atau mendukung pelaksanaan perda Syariat. Sebaliknya, PAN dan PKB tak bisa disebut Islamis karena keduanya lebih menitikberatkan pada nilai-nilai niversal Islam dan tak punya agenda menghidupkan Piagam Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Uniknya, perbedaan karakter ideologis Islamis dan non-Islamis itu tak terlalu berpengaruh dalam perolehan suara partai Islam. Hasil korelasi pemilu 1999 dan 2004 yang dilakukan Baswedan, suara PDI-P beralih ke partai nasionalis. Sementara, peningkatan suara PKS berasal dari partai berbasis Islam (PAN dan PPP). Suara PKB relatif tetap karena partai ini menangguk suara dari kalangan Islam tradisionalis di Jawa Timur dan sebagian Jawa Tengah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Kesimpulan Baswedan di atas sejalan dengan &lt;i&gt;exit polls&lt;/i&gt; yang diadakan LP3ES pada hari pemilu 5 April 2004; bahwa peningkatan suara PKS merupakan hasil migrasi dari suara pemilih berbasis Islam, kecuali PKB. Sebanyak 16 persen PAN dan PPP pada pemilu 1999 berpindah ke PKS. Tingkat loyalitas pemilih tertinggi juga jatuh ke PKS (56%), disusul pendukung PKB (54%). Ini menunjukkan, kenaikan suara satu partai Islam lebih disebabkan turunnya suara partai Islam lain. Papartai Islam tidak atau belum berhasil meluaskan pangsa pasarnya. Hubungan antara satu partai Islam dengan partai Islam yang lain bersifat &lt;i&gt;zero-sum game&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Bagaimana prospek partai Islam pada pemilu 2009? Hasil survei opini publik yang diadakan lembaga jajak pendapat menunjukkan bahwa perolehan suara partai Islam tak akan jauh dari hasil pemilu 2004. Survei CSIS Jakarta misalnya, bisa dipakai sebagai tolok ukur untuk melihat pemilu tahun depan. Benar bahwa suara yang belum menentukan pilihannya (&lt;i&gt;undecided voters&lt;/i&gt;) masih cukup besar, 30%. Ini artinya, jika ditanyakan partai apa yang dipilih pada saat survei itu digelar, sepertiga pemilih belum menentukan pilihan. Di antara yang sudah menentukan pilihan, menurut survei CSIS, 20.3% menyatakan akan memilih PDI-P. 18.1% memilih Golkar, 11.8% sudah menyatakan pilihannya ke PKS. Pemilih yang sudah menentukan pilihan ke PKB sebesar 6.8%, PD sebesar 5.2%, PPP sebesar 2.7%, dan PAN sebesar 1.7%.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Sementara itu, dilihat dari tingkat loyalitas pemilih, pemilih PKS pada pemilu 2004 yang akan tetap memilih PKS pada pemilu 2009 sebesar 75,4%. Ini rekor tertinggi loyalitas pemilih. Peringkat kedua, Golkar (61%), disusul PDI-P (55,1%) PKB (48, 5%). Sementara tingkat loyalitas PAN terhitung rendah; 31% pemilih PAN pada pemilu 2004 yang akan tetap memilih PAN pada 2009 nanti. Uniknya, ada sekitar 22,5% pemilih PAN pada pemilu 2004 yang akan menjatuhkan pilihan pada PKS pada pemilu 2009 nanti. Tingkat loyalitas pemilih partai Demokrat terhitung paling rendah (18.7%). Ini bukti bahwa pemilih partai Demokrat adalah swing voters dan fenomena sesaat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Suara PKS yang menanjak menurut hasil survei ini sebagian besar mengambil dari suara PAN dan PPP. Ini berarti, pangsa suara PKS bersinggungan langsung dengan partai Islam modernis lain; PAN, PPP dan PBB. Suara PKB yang akan jatuh ke PKS diprediksi kecil. Di samping karena pemilih PKB memiliki loyalitas tinggi, juga karena karakteristik sosio-religious dan demografis pemilih PKB dan PKS berbeda. Pemilih PKB rata-rata berdomisili di wilayah rural, berpendidikan rendah dan berpendapatan menengah ke bawah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Mengaca pada hasil jajak pendapat tersebut, partai-partai yang berasas Islam atau berbasis massa Islam perlu mencari strategi yang matang untuk mengembangkan suara di luar suara tradisional Islam. Cara yang paling tepat adalah dengan membidik suara pemilih pemuda karena segmen suara inilah yang relatif bebas dari historical baggage dan immune dari polarisasi Islam dan nasionalis. Apakah partai-partai Islam mampu mengembangkan jaringan suaranya? Kita lihat hasilnya nanti!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;h3 style="text-align: right;" class="post-title entry-title"&gt;&lt;a href="http://lanskap-menu.blogspot.com/2008/10/pemilu-2009.html"&gt;PEMILU 2009&lt;/a&gt;&lt;/h3&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9068598759995211418-4430506856138324674?l=lanskap-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/4430506856138324674'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/4430506856138324674'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lanskap-artikel.blogspot.com/2008/10/prospek-partai-partai-islam-dalam.html' title='Prospek Partai-Partai Islam dalam Pemilu 2009'/><author><name>LANSKAP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16525646099308139572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_GeVrtHBSwVI/SNiCsaeAeTI/AAAAAAAAAz4/Pl5X__vx_Nc/S220/Logo+LANSKAP.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9068598759995211418.post-7196094118798206803</id><published>2008-10-19T15:33:00.000-07:00</published><updated>2008-10-20T20:52:38.581-07:00</updated><title type='text'>Membaca Potensi Golput pada Pemilu 2009</title><content type='html'>&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;Pengantar&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;Dari hasil pemilihan kepala daerah (pilkada) diketahui tingkat partisipasi masyarakat sangat rendah. Jumlah warga yang tidak menggunakan hak pilih atau lazim disebut golongan putih (golput) semakin banyak, bahkan melampaui perolehan suara pemenang pilkada. Wartawan &lt;/i&gt;SP&lt;i&gt; &lt;b&gt;Alex Madji, Kiblat Said, &lt;/b&gt;dan&lt;b&gt; Aries Sudiono&lt;/b&gt;, menuliskan laporan seputar fenomena golput menjelang Pemilu 2009.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pilkada di DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur sudah digelar. Meskipun, pilkada Jawa Timur terpaksa harus melalui dua putaran karena tidak ada satu pun pasangan calon yang meraih suara minimal 30 persen untuk menjadi pemenang, seperti disyaratkan undang-undang. Tetapi yang menarik dari pilkada-pilkada itu, juga di daerah-daerah lain, adalah bahwa tingkat partisipasi masyarakat yang rendah. Bahkan, persentase masyarakat yang tidak menggunakan hak pilih atau golput lebih tinggi dari pasangan calon terpilih.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Contoh paling anyar adalah pilkada Jawa Timur. Pada putaran pertama angka golputnya mencapai 39,20 persen. Sedangkan, pasangan peraih suara terbanyak, berdasarkan hitung cepat berbagai lembaga, yakni pasangan Soekarwo dan Syaifullah Yusuf hanya berkisar 25-26 persen. Sedangkan urutan keduanya Khofifah Indarparawansa-Mudjiono hanya 25 persen. Keduanya diprediksi maju pada putaran kedua.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Sebelumnya, dalam pilkada Jawa Tengah angka golput cukup tinggi. Sebanyak 10.744.844 pemilih atau 41,5 persen dari 25.861.234 pemilih yang terdaftar dalam daftar pemilih tetap adalah golput. Sementara itu, pasangan Bibit Waluyo-Rustriningsih yang dicalonkan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dipilih 43,44 persen pemilih.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Dalam pilkada Jawa Barat, angka golput mencapai 9.130.604 suara. Sementara Ahmad Heriawan-Dede Yusuf terpilih sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat hanya memperoleh 7.287.647 suara atau 40,50 persen. Dua pasangan lainnya, Agum Gumelar-H Nu'man Abdul Hakim (Aman) meraih 6.217.557 suara (34,55 persen) dan pasangan Danny Setiawan-Iwan Sulanjana (Da'i) memperoleh 4.490.901 suara (24,95 persen).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Dalam pilkada DKI Jakarta, masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya mencapai 39,2 persen atau 2.241.003 orang dari total 5.719.285 pemilih. Fauzi Bowo-Prijanto yang dicalonkan oleh banyak partai politik, termasuk Partai Golkar dan PDI-P, hanya meraih 2.010.545 atau 35,1 persen suara. Sedangkan pesaingnya yang dicalonkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Adang Daradjatun dan Dani Anwar hanya meraih 1.467.737 atau 25,7 persen suara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Sedangkan dalam pilkada Sumatera Utara, golput mencapai 40,01 persen. Pasangan Syamsul Arifin-Gatot Pujo Nugroho (Syampurno) yang menjadi pemenang hanya meraup 28, 31 persen suara. Sedangkan pasangan peraih suara terbanyak kedua, yakni pasangan yang diusung PDI-P Tritamtomo-Benny Pasaribu (Triben) meraih 21,97 persen suara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Sementara itu, dalam pilkada Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Maluku, yang dimenangi pasangan calon dari PDI-P, angka golputnya cukup rendah. Bali, misalnya, angka golputnya hanya 25,32 persen dan NTT 20 persen. Pilkada NTT dimenangi Frans Lebu Raya-Esthon L Foenay, pilkada Bali dimenangi Made Mangku Pastika-Anak Agung Ngurah Puspayoga, dan pilkada Maluku dimenangi mutlak oleh pasangan Karel Albert Ralahalu-Said Assagaff&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;Amburadul&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Tingginya angka golput dalam pilkada itu disebabkan oleh macam-macam faktor. Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) melihat, penyebab paling dominan adalah proses pendaftaran pemilih yang amburadul. Persoalan dasarnya ada pada data penduduk potensial pemilih pemilu (DP4) yang dibuat pemerintah. DP4 itu diserahkan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil kepada KPU provinsi dan KPU kabupaten/kota. Selanjutnya KPU provinsi dan KPU kabupaten/kota memverifikasi data itu, kemudian menyusun daftar pemilih sementara (DPS). Ternyata, banyak DP4 yang diserahkan itu tidak valid. Berkali-kali, data itu dikembalikan ke Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, tetapi tidak ada perbaikan signifikan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Akibatnya, kata Koordinator Nasional JPPR Jeirry Sumampow, data fiktif masuk dalam daftar pemilih tetap (DPT) karena data dasarnya saja sudah kacau. Maka, tidak heran kalau angka orang yang tidak menggunakan hak pilih sangat tinggi. Bahkan di hampir setiap tempat pemungutan suara (TPS), jumlah angka fiktif itu mencapai 50 persen.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Jeirry mencontohkan dalam pilkada Jawa Timur, berdasarkan pemantauan JPPR di Kabupaten Banyuwangi, ada sebuah TPS yang seluruh pemilihnya fiktif. Orang-orang yang terdaftar sebagai pemilih tetap ternyata sudah lama pindah, ada yang sudah meninggal, dan sedang ke luar kota. Akibatnya, tidak satu pun pemilih yang memberikan suara di TPS itu. Yang memilih di situ hanya petugas TPS.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Contoh lain, dalam pilkada di Sumatera Utara. Jeirry menemukan tumpukan kartu pemilih yang tidak terbagi. "Artinya &lt;i&gt;kan&lt;/i&gt; orang-orang itu tidak mungkin memilih," ujarnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Jeirry yakin, bila data awalnya akurat, maka DPS dan DPT juga akan akurat. Pada akhirnya, tingkat partisipasi pemilih dalam pilkada juga akan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Meski demikian, dia juga mengakui adanya faktor apatisme dari masyarakat terhadap pilkada. Tetapi, menurut dia, persentasenya sangat kecil.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Kesaksian yang sama juga disampaikan mantan anggota KPU Mulyana W Kusumah. Berdasarkan pembicaraannya dengan sejumlah anggota KPU provinsi, disimpulkan bahwa tingginya angka golput dalam pilkada karena proses pendataan pemilih yang amburadul. Dan itu semua berawal dari data yang diserahkan pemerintah ke KPU provinsi dan KPU kabupaten/kota.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Apalagi, metode pendaftarannya menggunakan sistem daftar pemilih aktif, di mana masyarakat sendiri yang aktif bertanya dan mendaftarkan diri sebagai pemilih, bila belum tercantum dalam DPS. Sementara itu, petugas sifatnya pasif menunggu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Sistem ini, kata Mulyana, turut menyumbang tingginya angka golput. Sebab, masyarakat yang sudah jenuh, masa bodoh, dan apatis, dengan seluruh proses pemilu, tidak terbantu untuk terdaftar sebagai pemilih.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Sedangkan, HM Darwis, dosen Fakultas Ilmu Sosial Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar menyatakan seseorang yang tak menggunakan hak suara, tidak selalu berarti golput. Penyebabnya, justru bersumber dari kelalaian pemerintah saat melakukan pendataan pemilih.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; "Ada orang mau memilih tetapi namanya tak terdaftar, ada yang namanya terdaftar tetapi orangnya tidak ada, bahkan ada yang sudah meninggal. Semua itu bersumber dari ketidakakuratan data dari Dinas Kependudukan kabupaten dan kota," ujarnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;Pemilu 2009&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Tingginya angka golput pada hampir seluruh pilkada di Indonesia itu, potensial terjadi lagi pada pemilu legislatif dan pemilu presiden dan wakil presiden 2009. Jeirry melihat, proses pendaftaran pemilih untuk pemilu 2009 tidak beda dengan proses pendataan pemilih dalam pilkada di berbagai daerah itu. KPU mendasarkan diri pada data yang diserahkan pemerintah. Sementara data itu tidak valid. Padahal, data pemerintah itu menjadi penentu valid-tidaknya data pemilih sementara dan pemilih tetap yang akan dibuat KPU.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; "Kalau kita tanya ke KPU, mereka bilang data yang diterima dari Depdagri tidak valid. Tetapi &lt;i&gt;kan &lt;/i&gt;KPU kita ini tidak mau &lt;i&gt;ngomong &lt;/i&gt;itu ke publik," kata Jeirry.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Belum lagi sosialisasi KPU tentang pendaftaran pemilih, sampai saat ini masih sangat sepi. Tidak ada gaungnya sama sekali. Masyarakat tidak mendapat informasi sepotong pun tentang bagaimana, di mana, dan kapan masyarakat harus mendaftarkan diri sebagai pemilih untuk Pemilu 2009. Padahal, pengumunan DPS tidak lama lagi diumumkan. "Nah, coba kita tanya masyarakat, siapa yang tahu sedang melakukan pendataan pemilih, pasti tidak ada yang tahu. Apalagi sosialisasi KPU tidak ada sama sekali. Sementara waktu perbaikan DPS oleh masyarakat hanya satu minggu," tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Dengan dua fakta itu saja, baik Jeirry maupun Mulyana, menyimpulkan bahwa angka golput pada pemilu 2009 akan sangat tinggi. Kecuali, kalau KPU cepat sadar dan segera membenahi sistem pendataan pemilih dan mengintensifkan sosialisasi. Bila masih seperti saat ini, kesimpulan seperti itu akan valid.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Senada dengan mereka, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Malang Imam Suprayogo memprediksi golput akan mencapai lebih dari 35 persen pada Pemilu 2009, jika semua pihak tidak menyosialisasikan pemahaman pentingnya pemilu sebagai bagian dari demokrasi. Sosialisasi itu bukan hanya dengan berpidato, namun dengan teladan. "Kalau mayoritas rakyat merasa pemilu itu memilih pejabat, dapat diprediksi golput akan menggelembung, karena mereka merasa aneh, pejabat &lt;i&gt;kok &lt;/i&gt;dipilih. Beda &lt;i&gt;lho &lt;/i&gt;kalau rakyat diminta memilih pemimpin. Tanpa diminta, mereka pasti datang berbondong-bondong, karena mereka memang butuh pemimpin, bukan butuh pejabat," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Untuk menekan golput, semua pihak, baik pemerintah, KPU, partai politik, serta seluruh elemen masyarakat sipil, harus bekerja keras. KPU harus gencar melakukan sosialisasi dam memastikan bahwa semua pemilih sudah terdaftar dalam DPS. Karena itu, KPU jangan lagi menggunakan sistem daftar pemilih aktif. Sebab di tengah situasi rakyat yang mengalami kejenuhan politik, sistem seperti itu tidak berjalan. Petugas KPU harus aktif mendatangi masyarakat, kapan dan dimana pun mereka berada.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p face="trebuchet ms" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p face="trebuchet ms" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Selain itu, partai politik juga harus memobilisasi pendukungnya untuk mendaftarkan diri sebagai pemilih. Partai politik harus memastikan konstituen dan masyarakat pada umumnya terdaftar sebagai pemilih. Apalagi, dalam undang-undang yang baru, diatur bahwa DPS sebelum ditetapkan sebagai DPT harus diserahkan ke partai politik peserta pemilu. Dengan aturan seperti itu diharapkan, bila dalam DPS ada konstituen partai yang belum terdaftar, partai politik bersangkutan segera melapor ke petugas KPU untuk kemudian didaftarkan sebagai pemilih. Apalagi, pengurus partai politik itu ada sampai tingkat kecamatan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p face="trebuchet ms" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Hanya dengan memperbaiki DP4, sosialisasi yang gencar, mengubah sistem pendaftaran pemilih oleh KPU, pendidikan politik dan mobilisasi masyarakat dan konstituen oleh partai politik peserta pemilu serta oleh berbagai elemen masyarakat sipil lainnya agar terdaftar sebagai pemilih, maka partisipasi pemilih pada Pemilu 2009 bisa meningkat, dibanding pilkada-pilkada di seluruh Indonesia, terutama pilkada di Jawa. Usaha-usaha seperti itu diharapkan mampu menggairahkan masyarakat terlibat dalam pesta demokrasi paling akbar, sekaligus dapat menekan angka golput pada Pemilu 2009. Semoga. *&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify; font-style: italic;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;sumber: suarapembaruan.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;h3 style="text-align: right;" class="post-title entry-title"&gt;&lt;a href="http://lanskap-menu.blogspot.com/2008/10/pemilu-2009.html"&gt;PEMILU 2009&lt;/a&gt;&lt;/h3&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9068598759995211418-7196094118798206803?l=lanskap-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/7196094118798206803'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/7196094118798206803'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lanskap-artikel.blogspot.com/2008/10/membaca-potensi-golput-pada-pemilu-2009.html' title='Membaca Potensi Golput pada Pemilu 2009'/><author><name>LANSKAP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16525646099308139572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_GeVrtHBSwVI/SNiCsaeAeTI/AAAAAAAAAz4/Pl5X__vx_Nc/S220/Logo+LANSKAP.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9068598759995211418.post-2134843412498809160</id><published>2008-10-19T15:29:00.000-07:00</published><updated>2008-10-20T20:53:32.330-07:00</updated><title type='text'>Meragukan Kualitas Legislatif Hasil Pemilu 2009</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;“Tulisan ini bukan sebuah pengingkaran atas hak setiap warga negara untuk memilih dan dipilih, namun lebih kepada pengkritisan atas inkonsistensi profesi, sekiranya politisi kita kategorikan sebagai profesi. Karena kami percaya profesi apapun selalu membutuhkan proses untuk melahirkan skil profesi yang matang. Karena sejujurnya hadirnya fenomena penyimpangan yang dilakukan partai politik dalam merekrut calon anggota legislatif, yang lebih mengutamakan popularitas ketimbang kualitas. Serta turut bersimpati kepada kawan-kawan aktivis, tokoh LSM, OKP dan Ormas yang telah berproses puluhan tahun karena tuntutan profesionalisme pilihan karir, namun pada akhirnya tidak terpakai dalam perekrutan calon politisi senayan atau diabaikan karena partai politik sedang latah untuk lebih memilih artis “pelawak dan pesohor sinetron. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Pemilu 2009, adalah pemilu yang diawal persiapan perhelatannya telah melahirkan banyak kontroversi, menarik perhatian publik, fenomena yang mengusik atau mungkin bisa dikatakan anomali. Mulai dari pra seleksi anggota KPU yang menendang figur-figur ternama dan bahkan anggota KPU incumbent, sampai muncul gugatan salah satu pengamat politik atas tidak transparannya pola seleksi calon anggota KPU. Lalu kita kembali dikejutkan dengan terpilihnya anggota KPU dan muncul persoalan terkait dengan penundaan pelantikan salah satu anggota KPU. Hingga kinerja KPU perlahan-lahan semakin diragukan bakalan bisa mulus mengawal pemilu, entah karena minim pengalaman pada level nasional atau memang lemah kinerjanya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Tidak berhenti sampai disitu, produk calon legislatif yang dimunculkan dari tiap partai politik belakangan juga menuai banyak kritikan dan cercaan. Munculnya banyak kalangan artis yang tampil menjadi calon anggota legislatif pada Pemilu 2009, bagi banyak kalangan patut dipertanyaan kesiapan partai dalam mencetak kader-kader partai. Minimnya pengalaman berorganisasi dan pengalaman politik para artis yang banyak menempati nomor urut jadi dalam DCS anggota DPR RI pemilu 2009 melahirkan pesimisme baru akan produk legislatif 2009 yang bakalan diisi oleh kalangan pelawak, pesohor dan para pemain sinetron. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Fakta teranyar dan sungguh ironis merujuk pada hasil suvey LSI yang dikutip dari (RM dan Berpolitik.com) popularitas politisi ternyata masih jauh dibawah caleg artis yang nota bene adalah pelawak, pemain sinetron dan foto model. Presiden PKS Tifatul Sembiring dan Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum misalnya, masih berada di bawah pelawak Eko Patrio. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Dari hasil survei tersebut, popularitas Eko yang jadi caleg dari PAN ini mengantongi 5,6 persen, Tifatul Sembiring 1,5 persen, dan Anas Urbaningrum 1,9 persen. Selebihnya, Ketua Umum PBB MS Kaban 1 persen, Pramono Anung 2,5 persen, Muhaimin Iskandar 2,9 persen. Sedangkan Ferry Mursidan Baldan menempati posisi buncit dengan tingkat popularitas 0,1 persen. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Sangat tragis nasib para aktivis kepemudaan, mahasiswa dan perempuan yang berproses begitu lama, melewati berbabagai tahapan proses, mempelajari kitab-kitab ideologi, stratag, metode persidangan, hingga menuju kematangan berpolitik dan menguasai berbagai persoalan dan dinamika kebangsaan, namun kalah bersaing  karena popularitas bisa menjadi faktor yang lebih penting ketimbang kompentensi dalam mengarahkan perilaku pemilih.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Pada akhirnya Curiculum vitae menjadi tidak penting, rakyat sakit mata membaca kurikulum vitae, rakyat lebih suka melihat pelawak. Terbukti Anas Urbaninggrum mantan Ketua Umum PBHMI (periode 1997-1999) yang menjadi kebanggaan kader-kader HMI tidak populer dibanding eko Patrio-sang pelawak. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Kalau demikian situasinya kita pantas mempertanyakan kualitas produk pemilu legislatif 2009 yang meraup anggaran triliunan rupiah. Pesta rutin lima tahunan rakyat ini tidak menjanjikan harapan, justeru melahirkan pesimisme yang dalam. Kami meragukan kemampuan anggota ledislatif hasil pemilu 2009 untuk memikirkan nasib rakyat karena kualitas caleg yang tidak jelas latar belakang karir politiknya. Memang benar kata Rasulullah Muhammad SAW, jika sesuatu diserahkan bukan pada ahlinya, maka tunggu saja kehancurannya. Dapat ditebak bahwa udah pasti legislatifnya bakalan amburadur, kalau gedung senayan isinya para pelawak dan pemain sinetron serta caleg dari latar belakangan lainnya yang selama ini tidak bersentuhan dengan substansi persoalan politik kebangsaan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Coba kita simak petikan komentar Pakar komunikasi politik UI Effendi Ghazali mengatakan, jika ingin menjadi wakil rakyat, para politisi sekarang harus rajin mejeng di media massa, dan menjadi selebriti politik. "Selebriti politik itu artinya orang yang terus-menerus tampil di koran, televisi, dan media lainnya dengan menyuarakan isu tertentu yang menarik perhatian publik," katanya. Namun, Effendy khawatir dominasi kalangan artis dalam perolehan suara pada Pemilu 2009 ini dikhawatirkan akan membuat kualitas DPR menurun, meskipun ada caleg artis yang memiliki pendidikan tinggi. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Kalau sudah demikian faktanya, nampaknya semakin lama nasib bangsa ini semakin tidak jelas arahnya. (Allahu allam ………..) &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Jay Paranddy &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Aktivis Barisan Muda Merah Putih&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3 style="text-align: right;" class="post-title entry-title"&gt;&lt;a href="http://lanskap-menu.blogspot.com/2008/10/pemilu-2009.html"&gt;PEMILU 2009&lt;/a&gt;&lt;/h3&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9068598759995211418-2134843412498809160?l=lanskap-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/2134843412498809160'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/2134843412498809160'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lanskap-artikel.blogspot.com/2008/10/meragukan-kualitas-legislatif-hasil.html' title='Meragukan Kualitas Legislatif Hasil Pemilu 2009'/><author><name>LANSKAP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16525646099308139572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_GeVrtHBSwVI/SNiCsaeAeTI/AAAAAAAAAz4/Pl5X__vx_Nc/S220/Logo+LANSKAP.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9068598759995211418.post-388583421563574331</id><published>2008-10-19T15:25:00.000-07:00</published><updated>2008-10-20T20:55:31.955-07:00</updated><title type='text'>Kiat Sukses Menjadi Caleg 2009</title><content type='html'>&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;JAKARTA, KAMIS - &lt;/strong&gt;Para calon legislatif (caleg) harus mempunyai strategi baru dalam berkampanye dan dianjurkan untuk melakukan terobosan dalam berkomunikasi selama kampanye. Oleh karenanya, ada beberapa faktor penting yang harus diperhatikan para caleg agar para pemilih menangkap pesan inti yang disuarakan. Demikian diungkapkan Managing Partner Veloxxe Consulting, AM Putut Prabantoro, praktisi komunikasi dan konsultan PR, di Jakarta, Kamis (16/10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan Putut Prabantoro ini dilatarbelakangi oleh banyaknya partai, caleg, dan calon anggota DPD yang bertarung dalam Pemilu 2009.  Pesta demokrasi Indonesia ketiga, katanya setelah Reformasi ini, katanya terhitung ada  44 partai, 10.073 caleg  dan juga ditambah 1132 para calon anggota DPD.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;"Dalam kondisi seperti ini, kesuksesan pemilu kali ini masih merupakan tanda tanya besar mengingat ancaman para pemilih Golput cukup banyak. Menurut data yang ada Golput dalam pilkada berkisar 25% hingga 45%. Bahkan menurut perkiraan Gus Dur dalam pernyataannya pekan lalu, Golput akan mencapai 70%," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putut Prabantoro menjelaskan bahwa demokrasi di dunia itu menjiplak budaya demokrasi bangsa Romawi. Ada peribahasa bangsa Romawi yang bisa digunakan untuk menjelaskan bagaimana pemilu itu harus dilihat.  “Humana vita est alea, in qua vincere tam fortuitum quam necesse perdere – hidup manusia itu seperti permainan dadu, di mana kemenangan merupakan suatu kebetulan dan kekalahan menjadi sebuah keharusan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan jumlah partai dan para caleg peserta pemilu sedemikian besar, para calon harus berhitung seberapa besar peluang kemenangannya. Faktor pertama yang harus diketahui oleh para caleg sebelum berkampanye adalah sistem perhitungan suara yang digunakan partai yakni nomor urut atau suara terbanyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika nomor urut yang digunakan, sistem ini akan melemahkan semangat para caleg ketika harus bertempur untuk partainya. “Masukan yang saya dapatkan di lapangan adalah, para caleg tidak akan mengikuti pemilu jika nomor urut sebagai sistem perhitungan suara. Para caleg melihat nomor urut hanya menempatkan para caleg dengan nomor urut besar sebagai poin getter (pengumpul suara/nilai) bagi nomor urut kecil atau di atasnya,” jelas Putut Prabantoro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut mantan wartawan Surya Surabaya itu, faktor-faktor seperti branding partai - personal branding - kesesuaian antara daerah asal dan dapil - media komunikasi yang digunakan - profil pemilih (dan bukan profil caleg) merupakan tantangan bagi para caleg. "Personal branding adalah yang paling utama untuk dikerjakan. Pemetaan yang akurat terhadap faktor-faktor tersebut akan sangat membantu para caleg dalam sukses berkampanye," katanya. Ditambahkan, nomor urut pada sistem suara terbanyak, tidak memberi dampak yang cukup berarti karena semua caleg mempunyai kesulitan dan kans yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Visi dan Misi Nyaris Mirip&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Target utama dalam berkampanye adalah bagaimana para calon pemilih mengingat nama caleg, nomor urut, dan nama partai.  Sementara itu, slogan, visi, dan misi tidak perlu ditekankan karena para pemilih tidak akan memikirkan slogan yang dibuat para caleg yang hampir mirip semua. Oleh karena itu, menurut pengamatannya,  dari keseluruhan faktor  yang harus ditaklukan, cara dan jenis media berkomunikasi akan sangat menentukan pencapaian target dalam berkampanye.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasar pengamatan di lapangan, para caleg masih menggunakan pola lama dalam berkomunikasi, seperti spanduk dan sms.  Dengan perubahan peta jumlah partai peserta pemilu dan jumlah caleg seharusnya harus diubah pola dan media komunikasi yang digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Para caleg harus pandai menentukan media komunikasi yang tepat untuk mengedukasi pemilih agar mengingat nama caleg, partai dan nomor urut. Untuk pemilu 2009, era spanduk sudah selesai. Spanduk hanya diingat sesaat dan tidak meninggalkan ingatan (memori) yang mendalam bagi para pembacanya yang sebagian besar adalah pelintas jalan dengan kendaraan bergerak. Pembaca tidak mungkin diedukasi untuk mengingat karena pemasang spanduk tidak sedikit dan para pembaca sebagian terkonsentrasi pada jalan,“ ujar Putut Prabantoro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama juga terjadi pada alat komunikasi melalui Short Message Service (SMS),  Putut Prabantoro menambahkan, juga tidak bisa digunakan sepenuhnya. Bagi para caleg yang tempat tinggal adalah sama dengan daerah pilihan (dapil), ada kemungkinan untuk menggunakan SMS. SMS itu hanya salah satu alternatif komunikasi yang bisa digunakan sebagai tambahan, namun bukan yang pokok.  Jika memang dipilih untuk digunakan, SMS memiliki kelemahan karena nomor yang dituju adalah acak sehingga tidak terjamin keberhasilannya dan efektifitas media ini sangat kurang dan tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pokoknya, strategi yang dipilih harus benar-benar tepat sasaran dan tidak dapat menggunakan benchmarking atau duplikasi pola komunikasi yang digunakan caleg lain. Masyarakat pemilih kota dan desa berbeda cara berkomunikasinya dan media yang digunakan.  &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="font-family: trebuchet ms;"&gt;ABI&lt;/b&gt;       &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;         Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;sumber: kompas.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3 style="text-align: right;" class="post-title entry-title"&gt;&lt;a href="http://lanskap-menu.blogspot.com/2008/10/pemilu-2009.html"&gt;PEMILU 2009&lt;/a&gt;&lt;/h3&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9068598759995211418-388583421563574331?l=lanskap-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/388583421563574331'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/388583421563574331'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lanskap-artikel.blogspot.com/2008/10/kiat-sukses-menjadi-caleg-2009.html' title='Kiat Sukses Menjadi Caleg 2009'/><author><name>LANSKAP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16525646099308139572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_GeVrtHBSwVI/SNiCsaeAeTI/AAAAAAAAAz4/Pl5X__vx_Nc/S220/Logo+LANSKAP.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9068598759995211418.post-3883042589675348851</id><published>2008-10-19T13:57:00.000-07:00</published><updated>2008-10-19T13:58:26.713-07:00</updated><title type='text'>Menghapus Pilkada Langsung</title><content type='html'>&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Oleh : Eko Prasojo &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dikutip dari Kompas, Selasa, 5 Februari 2008  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Polemik tentang pemilihan kepala daerah langsung muncul kembali.  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Jika pada pembahasaan naskah akademik UU No 32 Tahun 2004, polemik terkait pertanyaan apakah pilkada langsung dapat meredam politik uang selama 2001-2004, kini debat terarah pada mahal dan rendahnya kualitas pilkada. Maka, Ketua Umum PB NU KH Hasyim Muzadi mengusulkan agar pilkada dihapus (Kompas, 26/1/2008). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Demokrasi itu lokal  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pemilihan kepala daerah langsung adalah instrumen untuk meningkatkan participatory democracy dan memenuhi semua unsur yang diharapkan. Apalagi, sebenarnya demokrasi bersifat lokal, maka salah satu tujuan pilkada adalah memperkuat legitimasi demokrasi. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Meski demikian, di negara-negara lain, keberhasilan pilkada langsung tidak berdiri sendiri. Ia ditentukan kematangan partai dan aktor politik, budaya politik di masyarakat, dan kesiapan dukungan administrasi penyelenggaraan pilkada. Kondisi politik lokal yang amat heterogen, kesadaran dan pengetahuan politik masyarakat yang rendah, jeleknya sistem pencatatan kependudukan, dan penyelenggaraan pemilihan (electoral governance) sering menyebabkan kegagalan tujuan pilkada langsung. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Manor dan Crook (1998) menyebutkan, dalam banyak hal pemilihan langsung kepala daerah dan pemisahan antara mayor (kepala daerah) dan counceilor (anggota DPRD) di negara berkembang menyebabkan praktik pemerintahan kian buruk. Faktor utamanya adalah karakter elite lokal yang kooptatif dan selalu menutup kesempatan pihak lain untuk berkompetisi dalam politik, pengetahuan dan kesadaran politik masyarakat yang rendah, dan tidak adanya pengawasan DPRD terhadap kepala daerah. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Faktor-faktor itu terefleksi di Indonesia. Kooptasi kekuasaan dilakukan incumbent dengan memanfaatkan akses birokrasi. Akibatnya tidak jarang data kependudukan dimanipulasi, proses penyelenggaraan pilkada tidak obyektif dan tidak independen. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sebagian besar problem dan gugatan pilkada di Indonesia bermula dari data kependudukan yang tidak valid. Demikian pula, rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap esensi pilkada menyebabkan praktik politik uang dalam pilkada. Khusus untuk Indonesia, problem pilkada diperberat kualitas partai politik dan aktor politik yang tidak memadai. Kasus Pilkada Malut dan Sulsel menunjukkan betapa sulitnya menghasilkan pilkada berkualitas dan diterima semua pihak. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Demokrasi ”versus” efisiensi  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tuntutan untuk menghapus pilkada langsung bukan tanpa alasan. Di negara-negara demokrasi modern yang memiliki tradisi pemilihan langsung, penyelenggaraan pemilu dilakukan secara terintegrasi dengan sistem birokrasi lokal. Lebih konkret, pilkada langsung di negara-negara itu dilakukan Biro Statistik Lokal atau Dinas Kependudukan Lokal yang memiliki perangkat dan sistem kependudukan memadai. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dengan cara itu, ada dua manfaat efisiensi. Pertama, penyelenggara pemilu tidak dibayar hanya untuk menyelenggarakan pemilu. Hal ini kontradiktif terjadi di Indonesia, bahwa biaya KPUD menjadi amat mahal untuk menyelenggarakan semua tahapan, mulai dari pendaftaran pemilih hingga penetapan pemenang. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kedua, pilkada adalah pesta demokrasi biasa yang menjadi hal biasa pula sehingga tidak dibutuhkan persiapan dan biaya khusus untuk penyelenggaraan. Mahalnya pilkada di Indonesia karena merupakan pesta akbar dan harus dibiayai secara khusus, mulai dari pendaftaran ulang yang sering tidak valid, pengadaan barang dan jasa untuk pencoblosan yang berulang tiap pemilihan, sampai kampanye jorjoran yang dilakukan parpol dan calon. Dengan kata lain, pilkada adalah ”proyek besar”, harus dibiayai anggaran besar pula. Akibatnya, inefisiensi terjadi dalam paradigma proyek pilkada. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Logika berpikir proyek dalam pilkada ini tidak saja merasuki pemikiran penyelenggara pilkada, tetapi juga partai politik, aktor politik, calon kepala daerah, birokrasi di pusat dan daerah, serta masyarakat pemilih. Proyek ini berlanjut sampai esensi dan tujuan kemenangan pilkada. Tidak heran jika partai politik dan aktor politik rela mengeluarkan miliaran rupiah untuk dapat mengikuti kompetisi pilkada. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Uang ini digunakan mulai dari menentukan parpol pengusung, kampanye besar-besaran untuk mendongkrak popularitas calon, sampai upaya memengaruhi pilihan masyarakat. Tentu saja tidak ada yang gratis dalam pesta akbar pilkada. Biaya yang dikeluarkan ini harus diganti oleh uang rakyat dalam APBD melalui arisan proyek bagi investor politik yang ikut membiayai pilkada. Jadi, apa yang dikhawatirkan banyak pihak tentang mahal pilkada mendekati kebenaran. Pilkada bukan hanya mahal dari sisi biaya penyelenggaraan yang harus ditanggung APBD, tetapi juga mahal dari ongkos yang harus dibayar masyarakat dalam arisan proyek bagi investor politik. Cukup valid untuk mengatakan pilkada langsung memboroskan uang negara dan belum memberi hasil optimal. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Meski demikian, saya kurang sependapat jika pilkada langsung dihapus. Perubahan kebijakan yang radikal dapat menimbulkan situasi chaos. Yang harus dilakukan, mengubah cara pandang pilkada sebagai pesta biasa. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Untuk jangka panjang, birokrasi yang netral dan profesional dapat menjadi pilihan penyelenggara pilkada untuk menjadikan pilkada sebagai hal biasa dalam kehidupan parpol, aktor politik, dan masyarakat pemilih. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Eko Prasojo Guru Besar FISIP UI; Anggota Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah (DPOD)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9068598759995211418-3883042589675348851?l=lanskap-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/3883042589675348851'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/3883042589675348851'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lanskap-artikel.blogspot.com/2008/10/menghapus-pilkada-langsung.html' title='Menghapus Pilkada Langsung'/><author><name>LANSKAP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16525646099308139572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_GeVrtHBSwVI/SNiCsaeAeTI/AAAAAAAAAz4/Pl5X__vx_Nc/S220/Logo+LANSKAP.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9068598759995211418.post-1266791550501272425</id><published>2008-10-19T13:39:00.000-07:00</published><updated>2008-10-19T13:45:33.868-07:00</updated><title type='text'>Memahami Eksistensi Golput Dalam Demokrasi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Oleh: GANDUNG ISMANTO&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Tertarik dengan judul berita “Ketua MUI Serang Haramkan Golput” sebagaimana diberitakan harian ini akhir Juli lalu (31/07), serta pernyataan serupa dari KH. Hasyim Muzadi saat kunjungannya ke Serang pada waktu yang berdekatan. Tanpa bermaksud ”menghakimi” pernyataan kedua Ulama yang saya cintai tersebut, penulis merasa perlu untuk menghadirkan perspektif lain guna memenuhi tanggung jawab untuk melakukan check and ballances dalam kehidupan politik dan demokrasi kita.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;" id="more-1517"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Perspektif Sejarah&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;”Tiada asap tanpa api”, demikian kira-kira pepatah yang tepat untuk memahami eksistensi golput. Golput tidak terjadi secara serta merta, tanpa ada penyebabnya. Inilah fakta empiris yang harusnya kita rujuk untuk melihat fenomena golput itu secara komprehensif, tanpa terjebak pada sikap salah-menyalahkan, apalagi haram-mengharamkan. Betapapun benar bahwa tindakan golput itu cenderung mubazir karena tidak akan menghasilkan perubahan apapun, namun eksistensinya yang kontekstual seiring dengan dinamika perjalanan sejarah anak bangsa itu tidak dapat dan tidak boleh digeneralisir sebagai salah keseluruhannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Golput telah ada sepanjang sejarah politik bangsa-bangsa, kendati dengan alasan dan konteks yang berbeda-beda. Dan karena perbedaan konteks inilah maka masyarakat harus jeli dan obyektif mensikapi fenomena golput, khususnya hal-hal yang melatarbelakangi kemunculan golput di tiap periode Pemilu. Pada Pemilu 1955, di tengah maraknya kehidupan kepartaian di Indonesia, golput muncul karena didorong oleh perseteruan yang cenderung saling intimidatif antara kaum unitaris dan kaum federalis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sementara golput pada tahun 80-an hingga 90-an, lebih dilatarbelakangi karena adanya “paksaan” yang sistematis untuk memilih Golkar sebagai partai pemerintah. Akhirnya gerakan golput menjadi pilihan bagi orang-orang yang takut memilih partai lain di luar Golkar. Golput pada era ini lebih dimotivasi oleh semangat perlawanan terhadap rejim otoriter, yang tidak memberi ruang gerak bagi masyarakat untuk berekspresi, berpolitik dan bersikap beda. Dan semangat ini tetap mewarnai gerakan golput setidaknya hingga akhir era 90-an. Sedangkan, golput pada era pasca Orba cenderung bukan lagi disemangati oleh perlawanan terhadap rejim yang berkuasa, melainkan oleh kekecewaan yang mendalam terhadap sikap para pemimpin pemerintahan, para elite politik dan partai yang dinilai mengkhianati amanat penderitaan rakyat. Beberapa kasus “pembangkangan” dan eksodus kader partai tertentu ke partai lain atau membentuk partai baru – yang pada Pemilu 1999 mencapai 48 partai - dapat menjadi indikasi hal tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Demikian pula golput pada Pemilu 2004 yang secara umum lebih dipicu oleh kekecewaan terhadap elit-elit partainya serta pada pemerintah yang dianggap tidak mampu memperbaiki nasib rakyatnya. Di samping itu, terjadinya polarisasi kepemimpinan politik dalam masyarakat pun mendorong terjadinya golput atas dasar simbiosis antara patron dan client-nya manakala sang patron tidak terakomodasi dalam struktur politik tertentu. Di samping itu, secara empirik terdapat pula fakta bahwa sebagian masyarakat kita sangat loyal pada partainya, hingga sukar beralih ke partai lain. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kekecewaan kepada pemimpin dan elite partai tidak serta merta membuat mereka pindah partai, umumnya sekedar menunda memilih sembari menunggu munculnya figur-figur yang mereka sukai, dan kalaupun pindah partai suatu saat dapat pulang kandang karena fanatisme yang bersifat laten. Budaya patron-client yang masih sangat kuat serta tipologi budaya politik karena ideologi “tidak memungkinkan” orang dengan mudah pindah parpol. Rasanya tidak sreg bagi orang PDI-P untuk memilih pindah ke Golkar. Bahkan di antara partai islam sekalipun, bagi orang PKB secara psikologis bukan persoalan mudah mau menyeberang ke PAN atau PPP. Begitu pula sebaliknya, sangat sulit orang yang darahnya PAN beralih ke PKB. Dan seterusnya, dan sebagainya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Di tengah fenomena inilah maka – di samping golput – muncul pula fenomena makin nyata dan besarnya jumlah swinging voters, yang beberapa diantaranya cenderung kritis, non-ideologis, ataupun pragmatis. Bila sampai saatnya mereka tidak menemukan pilihan, mereka cenderung menjadi golput oleh sebab ketiadaan wadah (parpol) dan atau figur yang dapat dipercayainya untuk membawa perubahan.&lt;br /&gt;Fenomena di atas tentu menjelaskan perilaku pemilih dalam konteks Parpol, yang tentu sangat berbeda dengan Pilkada yang lebih merupakan kontestasi figur daripada parpol. Itulah sebabnya kenapa pilihan pada parpol tertentu hampir selalu tidak berkorelasi dengan pilihan pada figur calon kepala daerah tertentu. Dan karena fakta inilah maka secara empiris golput dalam Pilkada seringkali unpredictable karena menyangkut apresiasi subyektif pemilih terhadap calon yang dikenal baik track record-nya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Perspektif Teori&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dalam teori politik, golput (non-voting behaviour) dipahami sebagai bentuk partisipasi politik warga negara yang muncul karena beragam latar belakang. Memilih adalah hak (right) politik warga negara yang by its nature mengandung arti legal or moral entitlement (authority to act), yang mengandung kebebasan pemilik hak itu untuk menggunakan atau tidak menggunakannya. Bukan kewajiban (duty) yang mengandung makna moral or legal obligation. Karena essensi filosofis inilah maka demokrasi – yang bersendi kedaulatan rakyat, dan yang setiap orang legally equal hak-hak politiknya – memberi ruang bagi pilihan untuk golput secara setara dengan pilihan untuk memilih itu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dan karena demokrasi meng-agungkan vox populii sebagai vox Dei maka menjadi golput diberi ruang dalam demokrasi, guna meluruskan demokrasi, meluruskan politik dan pemerintahan yang korup melalui gerakan moral. Ya, hanya gerakan moral, karena hanya itulah yang mampu dilakukan rakyat kebanyakan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dengan demikian, harusnya para pemimpin membuka mata hatinya manakala menemukan kenyataan golput, berapapun besarnya. Karena golput mengindikasikan adanya beberapa hal berikut ini: (1) perlawanan terhadap rejim; (2) ketidakpercayaan terhadap sistem dan calon yang ada; (3) kekecewaan yang besar terhadap pemerintah dan sistem; serta (4) putusnya harapan rakyat akan lahirnya sistem dan kepemimpinan yang mampu mengayomi mereka. Dan terkadang, hanya dengan cara demikian kemapanan demokrasi yang mengandalkan berfungsinya check and ballances itu dapat tercipta, kendati tidak selalu demikian adanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dalam konteks sosiologi politik, dijelaskan empat sebab sikap golput, yaitu: (1) apatisme politik, yaitu sikap tidak berminat atau tidak menaruh perhatian terhadap orang, situasi, atau gejala-gejala umum yang berkait dengan persoalan politik dan kelembagaannya; (2) sinisme politik merupakan sikap yang dimiliki sebagai penghayatan atas tindakan dan motif orang atau lembaga lain dengan perasaan curiga. Orang-orang sinis selalu menganggap politik itu kotor, bahwa semua politisi tak dapat dipercaya, bahwa rakyat selalu menjadi korban manipulasi partai dan penguasa, dan bahwa setiap rejim selalu dipimpin orang tak amanah, dsb., sehingga mereka cenderung hopeless; (3) alienasi merupakan perasaan keterasingan dari kehidupan politik dan pemerintahan, sehingga selalu memandang segenap peraturan yang ada sebagai tidak adil dan menguntungkan penguasa; dan (4) anomi yaitu perasaan kehilangan nilai dan orientasi hidup, sehingga tak bermotivasi untuk mengambil tindakan yang berarti karena hilangnya kepercayaan terhadap lembaga-lembaga politik yang ada.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tanpa bermaksud menafsirkan, penulis meyakini bahwa kisah yang diceritakan dalam Surah Al-Kahfi ayat 9-26, merupakan manifestasi dari keimanan dan kepasrahan total kepada Allah atas kesadaran akan ketidakmampuannya untuk melawan, mengubah, atau sekedar untuk hidup bersama sistem yang kufur dan dibawah pemerintahan yang korup dan dzalim. Dan di tengah kesadaran itu, mereka memilih ‘golput’ dengan cara menghindari dan menjauhi sistem dan kehidupan yang kufur itu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tak pelak lagi, kendati dengan konteks yang berbeda, menjadi golput itu sangat di-halal-kan, kendati tetap saja membutuhkan pemikiran mendalam guna dapat dipertanggungjawabkan secara moral dan legal. Dengan kata lain, golput tidak boleh dilakukan karena dendam, kecewa, maupun alasan-alasan personal lainnya sehingga menjadi anarchy. Golput hanya boleh dilakukan di tengah ketiadaan celah untuk melakukan perubahan yang lebih baik, termasuk pula ketiadaan pilihan yang lebih baik kendati diantara alternatif pilihan yang buruk.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dalam jangka pendek tindakan golput memang sia-sia karena tidak mengubah apapun, namun dalam jangka panjang justru menjadi bagian penting dari pendidikan politik menuju ke tingkat kematangan berpolitik dan berdemokrasi (maturity). Golput adalah salah satu instrumen gerakan moral rakyat yang dilakukan dengan cara mengekspresikan ekspresinya dengan tidak berekspresi (silent movement). Dan harusnya, tanpa harus menunggu menjadi silent majority, pemimpin dan elite politik harusnya mampu membuka mata, hati, dan telinganya untuk berintrospeksi guna memahami gejala public distrust dan mass disobedience ini guna lebih mengabdikan dirinya bagi sebesar-besar kemaslahatan rakyat. Kalaupun ini tidak terjadi, yakinlah bahwa golput tidak pernah menjadi sia-sia di mata Sang Maha Penguasa. &lt;strong&gt;(*)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Penulis, Dosen FISIK Untirta yang pemerhati sosial politik&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;a href="http://lanskap-menu.blogspot.com/2008/10/pemilu-2009.html"&gt;PEMILU 2009&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9068598759995211418-1266791550501272425?l=lanskap-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/1266791550501272425'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/1266791550501272425'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lanskap-artikel.blogspot.com/2008/10/memahami-eksistensi-golput-dalam.html' title='Memahami Eksistensi Golput Dalam Demokrasi'/><author><name>LANSKAP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16525646099308139572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_GeVrtHBSwVI/SNiCsaeAeTI/AAAAAAAAAz4/Pl5X__vx_Nc/S220/Logo+LANSKAP.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9068598759995211418.post-4576515742655183024</id><published>2008-10-19T13:19:00.000-07:00</published><updated>2008-10-20T21:04:53.173-07:00</updated><title type='text'>Dicari Legislator Berkarakter</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;font-family:trebuchet ms;" id="fullpost" &gt;Oleh Bachtiar Aly&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Masa kampanye pun telah dua minggu berlalu. Sebagian masyarakat keheranan karena ternyata kampanye tidak “semeriah” dulu. Mereka tahunya kampanye adalah ajang dangdutan dan hura-hura.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sebagian lain acuh tak acuh dengan yang disampaikan. Sementara para pengamat sibuk berteriak tentang kekecewaannya atas ketidakmampuan partai politik (parpol) mengemas kampanye yang cerdas. Format kampanye berdasarkan UU No 10 Tahun 2008 sudah cukup menjelaskan bahwa kampanye Pemilu 2009 lebih memberi aksentuasi pada kampanye yang bersifat dialogis dengan khalayak yang terbatas, tapi dapat dilakukan berkali-kali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Hadirnya 34 parpol lama dan baru telah menyemarakkan arena demokrasi kita. Harapan mempertunjukkan pertarungan yang sportif pun dibebankan di pundak mereka.Masyarakat tidak ingin parpol sikut-sikutan, apalagi membantai lawan politiknya dengan kampanye negatif.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Bagi pers yang meliput tentu harus jeli dan cerdik sehingga peliputannya jangan sampai menjadi alat politik kelompok tertentu yang dengan tangan pers melakukan pembunuhan karakter (character assassination). Di pihak lain pers tak dapat disalahkan apabila ia memberitakan ke publik tentang cela seorang tokoh yang tidak memiliki karakter terpuji.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;" id="fullpost" &gt;Ajang Para Caleg&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Kampanye pun bukan hanya gawean parpol. Calon anggota legislatif (caleg) mulai sibuk kasak-kusuk agar sukses dicoret (dulu dicoblos).Mereka menawarkan dirinya kepada masyarakat sebagai pemimpin yang dapat membawa suara mereka ke Senayan. Para caleg ini harus sadar benar bahwa seorang anggota legislatif–– posisi yang mereka impikan––adalah pemimpin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dia diharapkan memiliki integritas dan kompetensi. Dia adalah sosok yang patut menjadi teladan. Memiliki moral terpuji, sangat peka terhadap aspirasi rakyat, dan sepak terjangnya tidak grusa-grusu, tapi bersandarkan pada etika. Hari-hari ini petinggi parpol kita disibukkan dengan penentuan caleg.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Tiap parpol punya kriteria dan standar dalam memilih calon.Faktor loyalitas, kesetiaan, disiplin, tidak tercela, dan segudang prasyarat lain diberlakukan tidak lain untuk dapat menggaet calon yang paling ideal dan realistik. Menjadi calon legislatif periode ini tak mudah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Begitu seseorang terindikasi melakukan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) akan dikejar media dan diprotes masyarakat serta diincar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Beban moralnya sungguh berat dan yang menderita adalah keluarga. Bahwa di negeri kita menghormati asas praduga tidak bersalah elok-elok saja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Namun kalau sempat terlansir sang tokoh kecipratan dana siluman, wah repot juga menepisnya. Namun ini menjadi sarana pengingat juga bagi para caleg agar tak menyelewengkan kekuasaannya. Lagipula mereka tak perlu takut karena pers harus selalu menghormati asas praduga tidak bersalah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Pers selalu didorong untuk tidak mencampurkan fakta dan opini, berimbang, dan selalu meneliti kebenaran informasi serta tidak melakukan plagiat Kalau caleg kita sosok yang bersih, berintegritas, dan berkarakter, silakan melenggang terus dengan aman menghadang deburan ombak, berkeringat diterpa mentari, dan bersyahdu dengan sentuhan rembulan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Anda sosok terpilih, jadilah pribadi yang memegang amanah. Berkarakter kata kuncinya. Bung Hattta sempat berujar,“ Seorang politikus itu harus punya karakter. Kalau tidak punya karakter berarti tidak punya pendirian.” (Pribadi Manusia Hatta,Seri Orang Besar Jiwa Besar,2002).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Bagi parpol baru tentu memerlukan kecermatan dalam menentukan figur caleg.Mengapa? Karena mitra atau pesaingnya parpol yang telah berjibaku pada pemilu sebelumnya tentu lebih berpengalaman dan relatif memiliki stok sumber daya manusia (SDM) yang telah punya jam terbang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Namun, jangan risau, caleg parpol baru tentu mulai dengan spirit baru, visi, dan konsep baru. Masih segar bugar, belum terkontaminasi oleh angin puting beliung, bak kita menikmati roti fresh from the oven. Masalahnya harus memiliki kepercayaan diri untuk nantinya bertatap muka dengan calon khalayak pemilih pada acara kampanye yang bersifat dialogis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Anda perlu menguasai materi diskusi dengan baik. Jangan anggap enteng. Masyarakat kita banyak yang sudah pandai dan kritis. Kita pun boleh bersyukur bahwa ini juga bagian dari keberhasilan pembangunan kita. Warga memiliki akses untuk menikmati berbagai fasilitas dan informasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Mungkin untuk mengantisipasi bola liar boleh pula caleg kita didampingi oleh staf ahli.Kalau kesulitan dana jangan pula berkecil hati, tawarkan saja kepada para ahli secara sukarela agar mereka ikut meramaikan kampanye dialogis. Percayalah, masih banyak orang Indonesia yang idealis. Jauh dari sikap matre, rakus materi. Para ahli ini akan membantu Anda. Namun Anda pun harus bekerja keras, jangan tak bergairah, berleha-leha belaka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;" id="fullpost" &gt;Persaingan yang Elegan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dalam berbagai dialog dan diskusi perlu dibuat aturan main yang elegan. Jangan pula forum tersebut tempat sumpah serapah, carut-marut, dan tuding-menuding. Forum kampanye tentu akan mengupas tuntas permasalahan yang dibincangkan. Di sana akan terlihat apakah caleg ini sanggup berargumentasi dengan logis jauh dari sikap emosional. Jangan terpancing untuk marah-marah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Caleg harus berjiwa besar dan sanggup menjadi pendengar yang baik. Kiatnya adalah teguh dalam pendirian,lincah dalam pendekatan. Perlu diingat, kritik jurnalis kawakan Mochtar Lubis yang sempat heboh dan menjadi polemik setelah berceramah di Taman Ismail Marzuki (6/4/77) dengan tajuk “Manusia Indonesia”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dia menengarai,”Manusia Indonesia punya watak yang lemah. Karakter kurang kuat.Manusia Indonesia kurang kuat mempertahankan atau memperjuangkan keyakinannya. Dia mudah, apalagi jika dipaksa dan demi untuk ‘survive’, bersedia mengubah pendiriannya.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Amatan ini tentu berguna bagi caleg kita dari parpol mana pun.Jangan mudah tergiur dengan godaan dunia.Jaga reputasi Anda, jangan kecewakan pemilih dan konstituen Anda. Bukankah kita juga dibekali nasihat nenek moyang: sekali lancung ke ujian,seumur hidup orang tak percaya? Begitu pun nobody is perfect. Harus terus belajar dan jangan mengulang kesalahan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Pemilu kali ini kita harapkan akan berjalan aman dan damai, jauh dari kecurangan dan kekerasan. Syukurlah kita tidak menjadi seperti negara Taiwan yang menurut Prof Liao Da Chi dari Universitas Sun Yat-sen menghalalkan segala cara yang tidak demokratis untuk menjatuhkan seorang pemimpin atau seperti di Thailand yang menggunakan intervensi militer (Newsweek,14/7/08).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Masyarakat kita sudah sangat letih menyaksikan bentrok fisik yang menjadi perbuatan sia-sia.Kampanye dialogis yang terbatas salah satu cara mengantisipasi keributan itu. Pengerahan massa memang dibatasi. Masyarakat kita dengan format kampanye dialogis akan semakin lebih dewasa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Mereka diajak untuk berdiskusi dengan berargumentasi sembari saling menghormati. Karena sesungguhnya ujung dari perjalanan kampanye ini kita akan sampai pada pilihan wakil-wakil rakyat yang mumpuni dan selalu setia dengan janjinya memperjuangkan aspirasi rakyat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Bolehlah kita becermin pada ungkapan penyair Kahlil Gibran tentang manusia kemarin dan manusia hari esok.”Apakah kamu adalah seorang politisi yang berkata pada dirinya sendiri: aku akan menggunakan negaraku untuk keuntungan diriku sendiri? Jika demikian, kamu hanyalah sebuah duri yang hidup dalam daging orang lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Atau kamu adalah seorang patriot yang setia, yang membisiki telinga jiwanya sendiri: aku mencintai negaraku dan melayaninya. Aku mencoba menjadi seorang pelayan yang baik. Jika demikian, kamu adalah sebuah oasis di padang gersang yang siap melepaskan dahaga bagi para musafir.” Kalau demikian halnya, akankah kita menemukan calon legislatif berkarakter seperti itu? Semoga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:trebuchet ms;" id="fullpost" &gt;Prof. Bachtiar Aly, Pakar Komunikasi Politik. (Koran Sindo)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3 style="text-align: right;" class="post-title entry-title"&gt;&lt;a href="http://lanskap-menu.blogspot.com/2008/10/pemilu-2009.html"&gt;PEMILU 2009&lt;/a&gt;&lt;/h3&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9068598759995211418-4576515742655183024?l=lanskap-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/4576515742655183024'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/4576515742655183024'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lanskap-artikel.blogspot.com/2008/10/dicari-legislator-berkarakter.html' title='Dicari Legislator Berkarakter'/><author><name>LANSKAP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16525646099308139572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_GeVrtHBSwVI/SNiCsaeAeTI/AAAAAAAAAz4/Pl5X__vx_Nc/S220/Logo+LANSKAP.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9068598759995211418.post-3918167639043231444</id><published>2008-10-18T07:04:00.000-07:00</published><updated>2008-10-18T07:06:43.186-07:00</updated><title type='text'>Program BOS Belum Mengenai Sasaran</title><content type='html'>&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt; Program BOS (Bantuan Operasional Sekolah) yang sudah satu tahun terakhir digembar-gemborkan pemerintah, tampaknya belum memenuhi harapan masyarakat tentang pendidikan bermutu dan gratis. Pasalnya, berdasarkan penelitian yang dilakukan Yappika yang mencakup 15 Kabupaten di 8 Propinsi, sebanyak 62.20% dari 1031 responden mengatakan, keluarga mereka yang bersekolah di tingkat SD dan SMP masih dikenai berbagai biaya pendidikan. Terutama di wilayah Sumatra Barat, Banten, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;"Anak saya tahun ini masuk SD, untuk uang masuknya saja, saya sudah merogoh kocek sebesar 500 ribu",� ungkap Joko (29), salah seorang wali murid. Selain biaya pendidikan tersebut, orang tua murid juga dikenakan bermacam biaya, antara lain SPP, biaya ujian, pendaftaran ulang, uang seragam, pembangunan sekolah, dan uang bangku. Dari semua jenis biaya yang harus mereka tanggung, biaya pembelian buku dan seragam sekolah menempati tingkat teratas.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt; Dana BOS sedianya untuk membebaskan biaya pendidikan (baca: gratis), sebagaimana yang diiklankan Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Agama di berbagai media elektronik. Kenyataan yang ada, pendidikan malah semakin mahal dan memicu adanya dana-dana lain yang terbilang tidak murah. Hal ini menjadi indikasi lemahnya pengawasan layanan pendidikan di negara kita, karena masih banyak pungutan yang memberatkan masyarakat. Dalam hal ini, keberadaan dan fungsi komite sekolah yang seharusnya melakukan kontrol terhadap kebijakan sekolah patut dipertanyakan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;Program BOS merupakan realisasi dari Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) yang disahkan DPR pada tanggal 11 Juni 2003, dan ditandatangani Presiden pada tanggal 8 Juli 2003. Isi UUSPN sudah sesuai dengan Konvensi Internasional bidang Pendidikan yang dilaksanakan di Dakkar, Senegal, Afrika, 2000. Konvensi tersebut menyatakan bahwa semua negara diwajibkan memberikan pendidikan dasar yang bermutu secara gratis kepada semua warga negaranya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt; Salah satu butir UUSPN adalah "Pemerintah dan pemerintah daerah wajib menjamin tersedianya anggaran guna terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun"� (Pasal 2 Ayat 1). Butir tersebut menyatakan bahwa pemerintah wajib menyelenggarakan pendidikan setingkat SD sampai dengan SMP secara cuma-cuma, atau minimal murah (Kompas, 5/8/2004). Namun sampai saat ini, pemerintah belum berhasil menciptakan pendidikan gratis. Untuk pendidikan yang murah pun pemerintah belum mampu, sebagaimana hasil penelitian Yappika yang dilaksanakan awal tahun 2006 ini, sebanyak 54.10% responden menilai bahwa biaya pendidikan yang dipungut oleh sekolah terlalu mahal. Penilaian ini dinyatakan oleh masyarakat yang berpenghasilan di bawah 1 juta rupiah sampai 3 juta rupiah per bulan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;em style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Oleh: Abdul Hamid, Relawan Yappika&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9068598759995211418-3918167639043231444?l=lanskap-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/3918167639043231444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/3918167639043231444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lanskap-artikel.blogspot.com/2008/10/program-bos-belum-mengenai-sasaran.html' title='Program BOS Belum Mengenai Sasaran'/><author><name>LANSKAP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16525646099308139572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_GeVrtHBSwVI/SNiCsaeAeTI/AAAAAAAAAz4/Pl5X__vx_Nc/S220/Logo+LANSKAP.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9068598759995211418.post-997502509513076139</id><published>2008-10-18T07:02:00.000-07:00</published><updated>2008-10-18T07:09:59.323-07:00</updated><title type='text'>Setelah Sewindu Reformasi: Perjalanan (masih) Panjang menuju Masyarakat Sipil</title><content type='html'>&lt;p  align="justify" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ringkasan ini menyajikan temuan-temuan pokok dan menggarisbawahi beberapa implikasi penting untuk agenda ke depan dari Indeks Masyarakat Sipil (IMS) proyek di Indonesia yang dilaksanakan oleh YAPPIKA; suatu Aliansi Masyarakat Sipil untuk Demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  align="justify" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  align="justify" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Selama hampir satu tahun, dari Oktober 2005 sampai dengan Agustus 2006, penyusunan IMS dilakukan dengan mengumpulkan informasi dan masukan mengenai keadaan masyarakat sipil Indonesia dari kalangan tokoh masyarakat sipil sendiri, pejabat pemerintahan, anggota DPR, warganegara Indonesia biasa, para ahli dan peneliti. Data dikumpulkan dengan berbagai metodologi antara lain melalui community survey, regional stakeholder survey, media review, fact-finding &amp;amp; studi kasus serta data sekunder; kemudian disajikan ke dalam kerangka komperehensif berupa 74 indikator.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  align="justify" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;" class="MsoNormal" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Berdasarkan data yang disajikan, National Advisory Group (NAG) yang terdiri dari 16 orang yang berasal daritokoh-tokoh masyarakat sipil dan pemangku kepentingan lainnya kemudian mendiskusikan, menilai dan memberikan skor untuk masing-masing 74 indikator tersebut. Penilaian tersebut diringkas ke dalam bentuk grafik visual berupa â€œIntan Masyarakat Sipilâ &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  align="justify" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  align="justify" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;IMS Republik Indonesia yang untuk pertama kalinya disajikan ini ternyata telah memberikan beberapa pengetahuan yang baru bagi kita mengenai masyarakat sipil Indonesia, yang sebagian diantaranya tampak menantang beberapa keyakinan tokoh-tokoh OMS selama ini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  align="justify" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  align="justify" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Diagram intan di atas memberikan gambaran keadaan masyarakat Indonesia saat ini. Tiga dari empat dimensi yang ada, yaitu lingkungan, struktur dan dampak masih menunjukkan kelemahan dengan keadaan yang hampir seimbang, dan masih jauh dari dari kondisi ideal (skor 3). Skor dimensi nilai yang mendekati 2 memberikan gambaran bahwa masyarakat sipil Indonesia cukup berhasil dalam mempraktekkan dan mempromosikan nilai-nilai yang dianutnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  align="justify" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  align="justify" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Beberapa temuan pokok dicoba diringkaskan di bawah ini: &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin: 0in 0in 6pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;font-family:trebuchet ms;" class="MsoNormal" align="justify"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin: 0in 0in 6pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;font-family:trebuchet ms;" class="MsoNormal" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;1. Rakyat Indonesia itu dermawan (filantropis) dan aktif berorganisasi&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  align="justify" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Rakyat Indonesia sesungguhnya termasuk golongan yang menaruh kepedulian terhadap nasib orang lain dengan membantu berupa uang, barang atau tenaga. Empat dari lima orang Indonesia pernah memberikan sumbangan dalam bentuk uang atau barang serta membantu warga masyarakat lain. Meskipun demikian, jumlah sumbangan yang diberikan dalam bentuk uang belum signifikan karena sebagian besar masyarakat Indonesia masih tergolong miskin. Lebih dari separuh rakyat Indonesia pernah menjadi anggota suatu organisasi masyarakat sipil (OMS) dan satu dari tiga orang Indonesia pernah menjadi anggota lebih dari satu organisasi. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin: 0in 0in 6pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;font-family:trebuchet ms;" class="MsoNormal" align="justify"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin: 0in 0in 6pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;font-family:trebuchet ms;" class="MsoNormal" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;2. Sumberdaya masyarakat sipil sangat terbatas&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;font-family:trebuchet ms;" class="MsoNormal" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Secara umum OMS Indonesia menghadapi masalah keterbatasan sumberdaya keuangan, SDM, teknologi dan prasarana. OMS pada umumnya belum mempunyai sumberdaya mandiri dan berkelanjutan yang memadai sehingga belum mampu mencapai tujuan yang sudah ditetapkan secara efektif. OMS juga kurang mampu menarik, mengkader dan mempertahankan SDM yang mereka butuhkan agar organisasi berfungsi secara efektif. Untuk organisasi yang berbasiskan keanggotaan, iuran anggota sudah lama tidak berjalan. Ornop Indonesia tergantung dari bantuan luar negeri. Dana domestik yang berasal dari publik, bantuan pemerintah dan sumbangan sektor swasta relatif masih kecil. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin: 6pt 0in 6pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;font-family:trebuchet ms;" class="MsoNormal" align="justify"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin: 6pt 0in 6pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;font-family:trebuchet ms;" class="MsoNormal" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;3. Lingkungan eksternal belum kondusif&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  align="justify" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Meskipun rakyat Indonesia sudah menikmati hak-hak politik serta kebebasan-kebebasan dasar lainnya, akan tetapi masih banyak faktor-faktor lainnya yang belum kondusif bagi perkembangan masyarakat sipil yang sehat dan kuat. Indonesia dewasa ini ditandai dengan lemahnya penegakan hukum. Hampir tidak ada kepercayaan rakyat Indonesia bahwa hukum telah ditegakkan secara adil dan semua pihak tunduk pada hukum; dan bahwa pengadilan telah mandiri dan bebas dari pengaruh kekuasaan politik dan uang. Indonesia masih tetap salah satu negara terkorup di dunia dan itu mempengaruhi budaya dan nilai-nilai masyarakat. Selain itu satu dari empat orang Indonesia masih hidup di bawah garis kemiskinan dan di beberapa daerah pernah terdapat konflik etnis dan agama yang berujung kekerasan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin: 6pt 0in 6pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;font-family:trebuchet ms;" class="MsoNormal" align="justify"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin: 6pt 0in 6pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;font-family:trebuchet ms;" class="MsoNormal" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;4. Hubungan OMS-negara: Bagaimana meningkatkan dialog dan kerjasama&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  align="justify" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Meskipun era reformasi telah berlangsung delapan tahun namun hubungan antara negara-masyarakat sipil masih ditandai dengan iklim saling curiga. Negara masih dilihat sebagai musuh yang harus dilawan dan banyak taktik masyarakat sipil masih konfrontatif dan tidak mencari dasar-dasar untuk kompromi. Dialog yang murni antara negara dan masyarakat sipil masih terbatas, demikian pula halnya dukungan dan kerjasama negara dengan OMS. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin: 6pt 0in 6pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;font-family:trebuchet ms;" class="MsoNormal" align="justify"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin: 6pt 0in 6pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;font-family:trebuchet ms;" class="MsoNormal" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;5. Perlu ada insentif perpajakan untuk OMS sebagai sektor nirlaba&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  align="justify" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sistem perpajakan di Indonesia belum membedakan dengan tegas antara sektor nirlaba dengan badan usaha. Belum ada ketentuan yang mengatur tentang pembebasan atau pengecualian (tax exemption) pajak penghasilan badan yang diberlakukan kepada sektor nirlaba yang semata-mata bekerja untuk kepentingan umum. Juga pengurangan pajak (tax deduction) untuk individu atau badan yang memberikan sumbangan kepada kegiatan-kegiatan sosial, keagamaan dan kemanusiaan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin: 6pt 0in 6pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;font-family:trebuchet ms;" class="MsoNormal" align="justify"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin: 6pt 0in 6pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;font-family:trebuchet ms;" class="MsoNormal" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;6. Sektor swasta masih kurang peduli dengan OMS&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  align="justify" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Meskipun sejumlah perusahaan besar nasional (konglomerat) dan perusahaan multinasional membantu/melakukan program CD (community development) atas nama tanggungjawab sosial perusahaan (corporate social responsibility) akan tetapi kalangan OMS pada umumnya berpendapat bahwa sektor swasta masih kurang peduli atau acuh tak acuh dengan OMS. Kalangan Ornop advokasi memandang bahwa perusahaan (swasta) masih tetap tidak transparan dan merusak lingkungan hidup. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin: 6pt 0in 6pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;font-family:trebuchet ms;" class="MsoNormal" align="justify"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin: 6pt 0in 6pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;font-family:trebuchet ms;" class="MsoNormal" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;7. Terdapat kekuatan-kekuatan yang tidak toleran, menggunakan kekerasan dan diskriminatif&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  align="justify" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pada umumnya masyarakat sipil Indonesia menganut dan aktif mempromosikan nilai-nilai demokrasi, toleransi, tranparansi, anti-kekerasan, kesetaraan gender penanggulangan kemiskinan dan keberlanjutan lingkungan hidup. Akan tetapi dari survei komunitas yang dilakukan terungkap bahwa di dalam masyarakat sipil sendiri masih terdapat kelompok-kelompok tertentu yang menggunakan cara-cara kekerasan, tidak toleran, dan diskriminatif terhadap kaum perempuan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin: 6pt 0in 6pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;font-family:trebuchet ms;" class="MsoNormal" align="justify"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin: 6pt 0in 6pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;font-family:trebuchet ms;" class="MsoNormal" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;8. Kepercayaan terhadap LSM dan serikat buruh masih rendah&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;font-family:trebuchet ms;" class="MsoNormal" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Rakyat Indonesia menaruh kepercayaan yang tinggi kepada organisasi sosial keagamaan. Lebih dari delapan puluh persen rakyat Indonesia menyatakan bahwa organisasi keagamaan (NU, Muhammamdiyah, organisasi yang bernaung di bawah gereja, dan lain-lain) adalah institusi yang sangat dipercaya. Akan tetapi sangat berbeda halnya dengan tingkat kepercayaan kepada LSM dan serikat buruh yang masih rendah. Hanya sekitar 37% rakyat Indonesia yang percaya kepada LSM dan 30% kepada serikat buruh. Namun LSM dan serikat buruh di Indonesia, bagaimana pun juga, masih merupakan fenomena masyarakat perkotaan sehingga tidak begitu dikenal oleh mayoritas rakyat Indonesia yang berdiam di daerah pedesaan. Sebanyak 35% rakyat Indonesia ternyata tidak tahu atau tidak menjawab pertanyaan yang diajukan tentang LSM dan 40% untuk serikat buruh. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin: 6pt 0in 6pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;font-family:trebuchet ms;" class="MsoNormal" align="justify"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin: 6pt 0in 6pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;font-family:trebuchet ms;" class="MsoNormal" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;9. Masyarakat sipil belum transparan dan tidak bebas dari korupsi&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  align="justify" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Informasi yang diberikan OMS kepada publik yang berhubungan dengan kegiatan yang dilakukan, sumberdaya yang dimiliki, termasuk mekanisme untuk mengakses informasi tersebut masih sangat terbatas. Dalam bidang keuangan sedikit sekali OMS Indonesia yang memberikan informasinya kepada publik. Kerahasiaan masih merupakan â€œnormaâ€� baik itu dimaksudkan secara sengaja atau tidak. Sumber pendanaan, budget, upah, biaya administrasi dan keseluruhan informasi yang menunjukkan hubungan alokasi sumberdaya dengan misi organisasi biasanya tidak tersedia. Padahal budget, sumberdana dan seharusnya bersifat publik, jelas dan dapat diakses dengan mudah oleh semua pihak. OMS Indonesia mengalami defisit informasi dalam hubungannya dengan transparansi keuangan. Korupsi juga terdapat di kalangan OMS, walaupun diyakini tidaklah sebesar dan seluas yang terjadi pada birokrasi pemerintahan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="margin: 6pt 0in 6pt 0.25in; text-indent: -0.25in;font-family:trebuchet ms;" class="MsoBodyText" align="justify"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="margin: 6pt 0in 6pt 0.25in; text-indent: -0.25in;font-family:trebuchet ms;" class="MsoBodyText" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;10. OMS Indonesia aktif dan sukses dalam mempromosikan demokrasi, HAM dan memberdayakan warga negara&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt; &lt;/p&gt; &lt;p  align="justify" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;OMS Indonesia mempunyai peran aktif dan berhasil dalam mempengaruhi kebijakan publik dalam bidang pengembangan demokrasi dan perlindungan HAM serta memberdayakan warganegara. Di pihak lain meskipun OMS aktif namun relatif belum begitu berhasil dalam mempengaruhi kebijakan publik dalam bidang penganggaran, membuat sektor swasta lebih akuntabel, menciptakan lapangan kerja serta memenuhi kebutuhan kelompok-kelompok marginal. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  align="justify" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  align="justify" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Temuan-temuan di atas menyimpulkan bahwa, bagaimana pun juga, masyarakat sipil Indonesia mempunyai beberapa kekuatan seperti semangat filantropi, aktif berorganisasi, komunikasi dan kerjasama yang baik antar sesama OMS, menikmati berbagai kebebasan dan hak-hak politik, relatif otonom terhadap negara serta berhasil dalam mempromosikan demokrasi, HAM dan memperkuat rakyat (warganegara). Di pihak lain tantangan yang dihadapi oleh masyarakat sipil pada dirinya juga cukup besar. Studi ini menemukan bahwa sumberdaya OMS masih sangat terbatas, akuntabilitas dan transparasi OMS masih sangat lemah. OMS juga tidak terbebas dari korupsi, hubungan dengan negara dan terutama dengan sektor swasta belum positif, serta kepercayaan terhadap LSM dan serikat buruh yang masih rendah. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  align="justify" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  align="justify" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Menurut hemat penulis ketiga dimensi yang lemah, lingkungan, struktur dan dampak, sesungguhnya saling berkaitan satu dengan yang lain. Keadaan ekonomi Indonesia yang masih sulit dengan tingkat kemiskinan yang tinggi, tercermin pada kurangnya sumber daya yang dimiliki masyarakat sipil. Ketiadaan sumberdaya menyebabkan keberadaan masyarakat sipil tidak terlalu berhasil dalam memenuhi kebutuhan masyarakat miskin dan kaum marginal lainnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  align="justify" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  align="justify" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Cukup menarik pula untuk mengomentari dimensi nilai yang paling tinggi dihargai oleh NAG. Terkesan bahwa kita sebagai pemangku kepentingan mempunyai kecenderungan menilai lebih tinggi nilai-nilai yang dianut, dipraktekkan dan diperjuangkan masyarakat sipil. Ini dilandasi oleh gagasan bahwa masyarakat sipil sebagai civilized society yang ditujukan untuk mencapai kebaikan bersama (public good) yang secara otomatis mengandung nilai-nilai kewargaan yang positif. Akan tetapi, nilai-nilai masyarakat sipil yang â€œkuatâ€� jika tidak didukung oleh nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat secara keseluruhan, termasuk pemerintah; maka juga tidak banyak ruang bagi masyarakat sipil untuk mempengaruhi struktur masyarakat. Sudah sejak lama masyarakat sipil khususnya organisasi non-pemerintah dibangun dengan bantuan dari luar negeri sehingga dapat terjadi bahwa nilai-nilai maupun tujuan-tujuan yang ingin dicapai tidak sesuai dengan basis domestiknya seperti rakyat dan pemerintah. Oleh karena itu mungkin dapat difahami mengapa masyarakat sipil khususnya Ornop yang dikenal sebagai pelopor pembaharuan dan demokrasi justeru banyak dikecam sebagai alat kepentingan asing. Perbedaan nilai-nilai dan juga fenomena Ornop dan Serikat buruh yang mempunyai karakteristik perkotaan menyebabkan tidak banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia secara keseluruhan sehingga kepercayaan masyarakat terhadap mereka rendah. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  align="justify" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  align="justify" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Oleh karena itu perbaikan pada dimensi lingkungan, struktur dan dampak merupakan kunci bagi perkembangan masa depan masyarakat sipil. Perhatian perlu diberikan pada upaya menggalang sumberdaya domestik seperti dari anggota, publik, pemerintah dan swasta untuk memperkuat sumberdaya dan kapasitas masyarakat sipil. Upaya memberantas korupsi, penegakan hukum serta reformasi birokrasi negara perlu terus digalakkan agar negara lebih efektif dan birokrasi benar-benar menjalankan fungsinya sebagai pelayan masyarakat. Kepercayaan publik kepada masyarakat sipil khususnya LSM dan serikat buruh perlu terus ditingkatkan. Ini akan terjadi apabila masyarakat sipil Indonesia lebih mampu menjangkau kepentingan kelompok-kelompok sosial yang terpinggirkan termasuk kaum buruh serta mampu memberikan sumbangan yang efektif dalam pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pokok warganegara. Juga OMS perlu meningkatkan pemantauannya terhadap perilaku perusahaan swasta agar lebih akuntabel dan transparan dalam kegiatannya serta benar-benar menjalankan tanggungjawab sosialnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  align="justify" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  align="justify" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Meskipun sejak reformasi dianggap sebagai â€œera kebangkitan masyarakat sipil di Indonesiaâ€�, kelihatannya masih jauh perjalanan untuk mencapai kondisi ideal yang diharapkan. Dan OMS Indonesia perlu merumuskan agenda dan strategi bersama untuk mencapainya. Semoga!!! &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  align="justify" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-weight: bold; font-style: italic;font-family:trebuchet ms;"  align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Oleh: Rustam Ibrahim&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  align="justify" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9068598759995211418-997502509513076139?l=lanskap-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/997502509513076139'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/997502509513076139'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lanskap-artikel.blogspot.com/2008/10/setelah-sewindu-reformasi-perjalanan.html' title='Setelah Sewindu Reformasi: Perjalanan (masih) Panjang menuju Masyarakat Sipil'/><author><name>LANSKAP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16525646099308139572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_GeVrtHBSwVI/SNiCsaeAeTI/AAAAAAAAAz4/Pl5X__vx_Nc/S220/Logo+LANSKAP.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9068598759995211418.post-5144434433102429842</id><published>2008-10-18T07:01:00.000-07:00</published><updated>2008-10-18T07:02:19.468-07:00</updated><title type='text'>INOVASI PEMERINTAHAN DAERAH: MEMPERTANYAKAN PARTISIPASI MASYARAKAT</title><content type='html'>&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Cerita sukses dan keberhasilan beberapa pemerintahan daerah paska diberlakukannya otonomi daerah telah membuktikan bahwa desentralisasi memberi dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat di daerah. Kabupaten Jembrana, misalkan, sebuah kabupaten yang dahulu tidak terkenal dan bahkan tergolong miskin di provinsi Bali, dalam kurun waktu kurang lebih 10 tahun telah menjelma menjadi kabupaten percontohan bagi penyelenggara pemerintahan daerah belakangan ini dengan pendapatan asli daerah (PAD) meningkat drastis dan signifikan. Kegigihan dan ketekunan Bupati Jembrana yang melakukan berbagai gebrakan kebijakan yang berpihak kepada masyarakat luas yaitu pendidikan gratis, asuransi kesehatan dan pemberdayaan ekonomi rakyat, membuktikan hasilnya pada dukungan nyata masyarakat dalam Pilkada tahun 2006 kepada Bupati Winasa untuk melanjutkan kepemimpinannya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Hal yang sama juga terjadi pada Kabupaten Sragen Jawa Tengah. Bupati Untung melakukan reformasi pada struktur birokrasi pemerintahan agar memudahkan penyelenggaraan pelayanan yang terpadu. Tujuannya sangat jelas, mudahnya pelayanan memiliki implikasi bagi kepercayaan kepada pemerintah. Peningkatan pendapatan daerah pun secara perlahan meningkat seiring dengan kepercayaan masyarakat dan investasi terhadap pelayanan yang diberikan. Dalam hal politik, kepercayaan tersebut diwujudkan dengan terpilihnya kembali Bupati Untung dalam Pilkada tahun 2006. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dua daerah yang terkenal dengan inovasi dalam penyelenggaraan pemerintahan tersebut memiliki karakter yang juga hampir sama yaitu memiliki kepemimpinan pemerintahan yang kuat disertai political will dalam memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat luas. Hal ini ditandai dengan komitmen yang luar biasa dari pemimpin daerah tersebut sedari awal dengan melakukan reformasi dan restrukturisasi birokrasi untuk menunjang berbagai kebijakan yang berpihak kepada rakyat. Namun demikian, kedua daerah tersebut masih menyisakan persoalan dalam hal tiadanya partisipasi masyarakat dalam proses pembuatan kebijakan. Sebagian besar program dan kegiatan pembangunan daerah berasal dari inisiatif pemerintah, baik dari kepala daerah ataupun jajarannya. Pembangunan model top down yang dikembangkan oleh kedua daerah tersebut memang terbukti efektif dikarenakan figur kepala daerah yang memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan rakyat. Persoalannya kemudian, seberapa besar dan luas masyarakat dilibatkan dalam setiap pembangunan yang ada di daerah tersebut? Dan seberapa besar pula pemerintah daerah memahami seluruh kebutuhan dan keinginan masyarakat di masing-masing daerah? Artinya bagaimana keterlibatan masyarakat dalam proses pembuatan kebijakan dan pembangunan masih perlu dieksplorasi lebih lanjut kenyataan di kedua daerah ini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Partisipasi dalam Pembuatan Kebijakan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Demokrasi perwakilan yang menekankan pentingnya perwakilan dari berbagai unsur masyarakat untuk terlibat dalam pembuatan kebijakan tengah dikritik. Keinginan masyarakat untuk terlibat dan tahu secara rinci mengenai proses pembuatan kebijakan tidak menjadi menarik manakala hal ini dinafikkan oleh para anggota legislatif dan pihak eksekutif bahwa yang mempunyai kewenangan atas proses pemutusan kebijakan adalah mereka atas dasar mandat dari rakyat. Akibatnya yang terjadi adalah masyarakat menjadi penonton di pinggir arena pembuatan kebijakan, dan hanya berperan baik sebagai penerima manfaat dan juga yang dimanfaatkan oleh para pembuat kebijakan.&lt;a name="_ftnref1" href="file:///C:/My%20Web%20Sites/http___www.yappika.or.id_/www.yappika.or.id/kampanye7429.html?id=15#_ftn1" title="_ftnref1"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;[1]&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ide dalam perluasan partisipasi berasal dari Juergen Habermas yang memberi inspirasi bahwa perlu adanya ruang publik yang otonom di luar dari domain negara sebagai prasyarat pelibatan aktivitas masyarakat yang tidak semudahnya mendapat legitimasi terhadap sistem politik.&lt;a name="_ftnref2" href="file:///C:/My%20Web%20Sites/http___www.yappika.or.id_/www.yappika.or.id/kampanye7429.html?id=15#_ftn2" title="_ftnref2"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;[2]&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; Ruang publik tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sarana debat opini, bersuara dan menyeleraskan posisi yang sama dengan argumentasi yang rasional. Habermas sebenarnya berkeingan agar setiap individu menjadi aktor yang penting dan berarti dalam komunitas politik. &lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Penekanan Habermas sebenarnya adalah tersedianya ruang publik yang ada dan terjamin di dalam konstitusi. Karena negara sebagai aktor dan institusi politik punya kewenangan yang luar biasa dalam mengarahkan maksud dan tujuan pembangunan, dengan atau tanpa keterlibatan masyarakat. Padahal objek dan penerima manfaatnya adalah masyarakat itu sendiri. Dalam hal tersebut, masyarakat sudah waktunya dilibatkan dalam pembuatan kebijakan dengan memanfaatkan ruang publik yang disampaikan oleh Habermas tadi. Pada masa lampau, untuk mengatasi adanya kesenjangan antara pemerintah dan masyarakat, pemerintah melakukan berbagai tindakan politik dalam rangka memperkuat partisipasi dimana kelompok marjinal diberi kesempatan dan ruang untuk menyuarakan aspirasinya. Di samping itu, penguatan kelembagaan juga dilakukan oleh pemerintah untuk menjadi lebih responsif, akuntabel dan transparan terhadap berbagai tuntutan dari masyarakat. Pertanyaannya kemudian, dimana kelompok marjinal dan kelompok miskin bisa memperoleh ruang dan mampu mempengaruhi kebijakan pemerintah serta dimana pemerintahan yang berubah dapat mempertanggung jawabkan akuntabilitasnya?&lt;a name="_ftnref3" href="file:///C:/My%20Web%20Sites/http___www.yappika.or.id_/www.yappika.or.id/kampanye7429.html?id=15#_ftn3" title="_ftnref3"&gt;[&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dalam beberapa tahun belakangan, konsep partisipasi politik telah berkonvergen dengan memperhatikan aspek pelibatan warga dalam formulasi kebijakan dan implementasi kebijakan tersebut. Partisipasi politik yang dimaksud menjadi lebih dalam sebagai upaya warga dalam mempengaruhi pemerintah dan meminta komitmen terhadap akuntabilitasnya.&lt;a name="_ftnref4" href="file:///C:/My%20Web%20Sites/http___www.yappika.or.id_/www.yappika.or.id/kampanye7429.html?id=15#_ftn4" title="_ftnref4"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;[4]&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/a&gt; Partisipasi masyarakat dalam proses pembuatan kebijakan tadinya hanyalah sebuah mekanisme konsultatif. Namun belakangan menguatnya kebutuhan dan perspektif dalam pelayanan seperti apa dan kebijakan yang semestinya harus ada, meyakinkan bahwa perlu ada peningkatan dan pendalaman partisipasi yang nantinya akan menjadi kontrol terhadap kehidupan mereka secara keseluruhan. Partisipasi warga dengan demikian dapat didefenisikan sebagai perluasan agenda masyarakat, di mana masyarakat dapat memobilisasi dan merumuskan tuntutannya.&lt;a name="_ftnref5" href="file:///C:/My%20Web%20Sites/http___www.yappika.or.id_/www.yappika.or.id/kampanye7429.html?id=15#_ftn5" title="_ftnref5"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;[&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dalam banyak negara, upaya pelibatan kelompok marjinal dan kelompok miskin sudah terlihat. Hanya saja hal ini meyakinkan kita bersama bahwasanya mekanisme perwakilan tidaklah efektif dapat memberi pengaruh terhadap kebutuhan dan keinginan kelompok minoritas. Penekanannya kemudian masyarakat memiliki hak atas pembangunan tidak lagi diposisikan sebagai penerima manfaat. Hak akan menjadi kenyataan bila warga negara dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan terutama menyangkut hidupnya. Laporan UNDP terlihat jelas bahwa pemilu tidak lagi cukup untuk pemenuhan hak dari warga negara. Cara baru yang mesti ditempuh adalah bagaimana menjamin hak-hak ekonomi, sosial dan budaya tidak dicabut/dilanggar dan untuk memastikan partisipasi dalam proses pengambilan keputusan.&lt;a name="_ftnref6" href="file:///C:/My%20Web%20Sites/http___www.yappika.or.id_/www.yappika.or.id/kampanye7429.html?id=15#_ftn6" title="_ftnref6"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;[6]&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; Disini terlihat bahwa negara memiliki kewajiban untuk menjamin terwujudnya hak-hak dari warga negara, termasuk di dalamnya turut berpartisipasi dalam pembangunan. &lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Refleksi&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Berangkat dari konteks teori serta konsep partisipasi yang tengah berkembang belakangan, maka patut dipertimbangkan untuk mendalami lagi apakah berbagai inovasi yang dilakukan oleh pemerintahan daerah sepenuhnya melibatkan masyarakat sebagai penerima layanan. Argumennya bila dikaitkan dengan cerita sukses pemerintahan daerah seperti Jembrana dan Sragen akan menjadi lebih bermakna bagi pemerintah dan juga masyarakat terhadap pembangunan yang dilakukan. Pemerintah daerah tahu dan mengerti apa yang dibutuhkan masyarakat dan masyarakat pun sadar bagaimana memanfaatkan ruang untuk mengartikulasikan kepentingan dan kebutuhannya kepada pemerintah daerah. Hal ini yang semestinya harus dikembangkan bagi daerah agar terciptanya keadilan bagi semua. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Oleh: Aditya Perdana (Peneliti Pusat Kajian FISIP UI)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;sumber: www.yappika.or.id&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9068598759995211418-5144434433102429842?l=lanskap-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/5144434433102429842'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/5144434433102429842'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lanskap-artikel.blogspot.com/2008/10/inovasi-pemerintahan-daerah.html' title='INOVASI PEMERINTAHAN DAERAH: MEMPERTANYAKAN PARTISIPASI MASYARAKAT'/><author><name>LANSKAP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16525646099308139572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_GeVrtHBSwVI/SNiCsaeAeTI/AAAAAAAAAz4/Pl5X__vx_Nc/S220/Logo+LANSKAP.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9068598759995211418.post-8880171941317967760</id><published>2008-10-18T06:59:00.000-07:00</published><updated>2008-10-18T07:00:47.470-07:00</updated><title type='text'>Memenangkan Perda Partisipasi Perempuan</title><content type='html'>&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mutmainah Korona atau biasa dipanggil Neng, setengah tidak percaya ketika dia menerima anugerah Saparina Sadli. Badannya gemetar ketika panitia meminta dia memberikan sambutan pada malam penghargaan atas pencapaian perempuan Indonesia, Jumat 24 Agustus 2007. Neng terpilih atas komitmennya terhadap perjuangan keadilan, pemberdayaan dan perbaikan kondisi perempuan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ibu tiga anak anggota Federasi Kontras Sulawesi, Solidaritas Perempuan, dan Anggota Perkumpulan Evergreen Indonesia ini berhasil mengolkan Perda No. 12/2006 tentang Partisipasi dan Keterwakilan Perempuan dalam Pemerintahan Desa Lembaga kemasyarakatan Desa dan Proses pembangunan desa Kabupaten Donggala. Keberhasilan yang lain adalah digolkan Peranturan Bupati tentang alokasi anggaran kesehatan yang responsif gender untuk Kabupaten Donggala dan mendesak dibuatknya MOU dengan Pemda Kota Palu tentang penerapan anggaran yang responsif gender dan pro rakyat miskin. Neng juga dinilai sebagai perempuan yang secara konsisten mengadvokasi anggaran berbasis gender dan realokasi APBD pro perempuan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Berawal sebagai Korban&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Keterlibatan Neng di LMND (Liga Mahasiswa Nasional untuk Demorkasi) tahun 2000 membuka kesadaranya akan realitas struktur masyarakat yang selama ini telah dirasakanya tidak berpihak pada perempuan. Dari keterlibatannya di gerakan demokrasi, Neng  melihat ada  keterkaitan antara struktur penindasan yang terjadi didalam masyarakat dengan proses marginalissi terhadap perempuan. Dia sadar bahwa selama ini perempuan selalu didiskriditkan, tidak hanya dalam kultur namun juga hegemoni kekuasaan negara. Dengan berorganisasi,  Neng sadar bahwa perubahan akan dapat dicapai tidak dengan diam tapi dengan  bangkit dan berjuang melawan penindasan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;â€œMeskipun LMND organisasi mahasiswa, tapi dia tidak melulu membicarakan persoalan mahasiswa, tapi persoalan rakyat pada umumnya termasuk perempuanâ€ kata Mutmainah yang dalam perjalanannya kemudian ditempatkan di Divisi Perempuan LMND. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Selain aktif di LMND, Neng juga bekerja di salahsatu Ornop lingkungan di Palu. Kegeramanannya atas perlakukan yang diskriminatif mengalami puncaknya ketika dia dinonaktifkan oleh Ornop tempat dia bekerja, ketika dia ingin menikah. Pengalaman ini juga seperti mengingatkan pada kisah pahitnya dimasa lalu ketika  lolos dari perkosaan yang dilakukan oleh  orang yang masih punya relasi keluarga dengan dirinya. â€œSaya pernah hampir menjadi korban pemerkosaan, dan penonaktifan saya ketika ingin menikah oleh organisasi yang selama ini saya hormati sebagai pejuanhg keadilan menyadarkan saya bahwa dimanapaun berada perempuan masih terpinggirkanâ€, ungkapnya dengan galau. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pengalaman  pribadi  Neng  tersebut ditambah dengan kenyataan sosial yang kurang memihak perempuan, membuatnya semakin gigih untuk memperjuangkan hak-hak perempuan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Keinginan kuatnya untuk merubah strutur masyarakat yang senantiasa meminggirkan perempuan menemui jalan ketika dia terlibat di acara KPI (Koalisi Perempuan Indonesia) dan SP2I (Solidaritas Perjuangan Perempuan Indonesia) yang memberikan pendidikan politik perempuan. Hingga akhirnya dia mendirikan sendiri lembaga perempuan yang diberi nama KPPA (Komunitas Peduli Perempuan dan Anak). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Mengusung Perda Keterwakilan Perempuan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Gagasan KPPA mendorong lahirnya Perda keterwakilan dan pertisipasi perempuan tidak bisa dilepaskan dari keberadaan program Tata Pemerintahan Lokal yang Demokratis (TPLD) yang diprakarsai oleh Yappika. Setidaknya, program dimaksud telah memungkinkan adanya dana hibah yang diperlukan. Betul bahwa semula inisiatif ini hanyalah sebatas mengoganisir komunitas, dalam hal ini kelompok perempuan, agar mereka dapat terlibat dalam proses pengambilan keputusan di desa. Target utama ketika itu adalah adanya Peraturan Desa (Perdes) yang mengakomodasi keterlibatan perempuan dalam berbagai kelembagaaan desa. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sasaran pertama agar keinginan itu terwujud adalah dengan menumbuhkan kesadaran perempuan dan aparat desa akan pentingnya keterlibatan perempuan dalam pemerintahan desa. Ternyata upaya itu positif. Pada tahap berikutnya tumbuh keinginan kaum perempuan desa untuk melakukan kontrol atas berbagai kebijakan yang ada di desa. Lalu munculah keinginan bukan hanya keterlibatan perempuan dalam kelembagaan desa, tapi juga berpartisipasi penuh dalam proses pembangunan desa. Keterlibatan harus diluaskan dalam lembaga-lembaga kemasyarakatan desa lainnya, jelas Mutmainah Korona, yang harus menempuh jarak 200 km dari Palu menuju Donggala untuk berdiskusi dengan kaum perempuan Kulawi. Jarak yang jauh, hujan panas dan berlikungan jalan menuju Donggala tidak menyurutkan perempuan kurus kecil ini untuk memberikan kesadaran pada kaum perempuan Donggala untuk menuntut hak-hak mereka dan terlibat secara aktif dalam politik dan melakukan lobby serta bernegosiasi dengan Pemda dan DPRD Kabupaten Donggala. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dalam perkembangannya kemudian proyek TPLD Yappika ini mengalami metamorfosa yang luar biasa bagi kelembagaan KPPA. Dari melakukan pengorganisiran masyarakat berubah menjadi pengusulan sebuah Perda. Berhubungan dengan pihak-pihak pengambil kebijakan yang selama ini tidak pernah dilakukan pun menjadi strategi perjuangan mereka. Kesadaran pemanfaatan ruang politik yang ada di eksekutif maupun legislatif mulai terbuka, karena di sana-lah berbagai kebijakan dibuat. Mau tidak mau mereka harus memasuki ruang politik dan mempengaruhi proses politik yang ada, agar kebijakan yang muncul sesuai dengan kehendak masyarakat. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dengan dana proyek TPLD Yappika inilah KPPA kemudian mempelopori sebuah gagasan untuk mendorong perempuan terlibat dalam pembangunan. KPPA telah mengeser peran-peran perempuan yang hanya terlibat di dalam urusan domestik, bergeser ke urusan yang lebih politis, dengan duduk dalam lembaga-lembaga desa dan terlibat dalam proses pembangunan di desanya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kehadiran Perda pro perempuan di Donggala seperti angin segar ditengah maraknya perda yang mendiskriditkan perempuan diberbagai daerah. Perda yang pro perempuan di Donggala memberikan ruang partisipasi bagi perempuan untuk terlibat dalam lembaga pemerintahan desa dan pembangunan daerah. Keberhasilan memenangkan Perda Keterwakilan dan Partisipasi Partisipasi Perempuan di Kabupaten Donggala tentu saja sebuah kemenangan demokratis yang penting di tengah maraknya Perda yang&lt;br /&gt;antiperempuan di beberapa daerah lain. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Nengpun sadar bahwa dengan disahkannya perda bukanlah akhir dari sebuah perjuangan. Masih banyak tantangan yang menghadang di depan. "&lt;em&gt;Saat ini saya juga sedang terlibat dalam merancang substansi inti Perda untuk pemenuhan hak anak Sulawesi Tengah yang sedang digodong di DPRD Provinsi Sulawesi Tengah&lt;/em&gt;," ujar Neng yang baru-baru ini juga disibukan menyusun naskah akademik Perda anti perdanganan perempuan dan anak Sulawesi Tengah. Naskah akademik ini sudah diterima di DPRD dan dijadwalkan dimasukkan dalam pembahasan triwulan berikutnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Untuk mempersiapkan perempuan merebut ruang politik, Neng dan kawan-kawannya di KPPA membuat Sikolah Mombine (Sekolah perempuan) yang merupakan laboratorium pendidikan politik untuk perempuan. Disinilah dibuatkan kurikulum pendidikan khusus untuk perempuan demi menyiapkan kader perempuan desa sektoral yang termajinalkan untuk dapat bersuara. Selain itu untuk mempersiapkan kader aktivis perempuan, KPPA juga membuatBanua Nu Ngana (Rumah Anak) sebagai media pendidikan anak alternatif dan pengembangan kurikulum pendidikan gender, humanisme, pluralisme dan perdamaian di usia dini. â€œHarapan saya, anak-anak bisa belajar di Banua Nu Ngana tentang banyak hal dan ini akan menjadi vokal point bagi anak-anak lain dan anak-anak ini dapat menjadi penerus perjuangan feminis dan kesetaraan gender di mana datangâ€,ujar Neng dengan nada optimis. **NH&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;sumber: www.yappika.or.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9068598759995211418-8880171941317967760?l=lanskap-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/8880171941317967760'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/8880171941317967760'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lanskap-artikel.blogspot.com/2008/10/memenangkan-perda-partisipasi-perempuan.html' title='Memenangkan Perda Partisipasi Perempuan'/><author><name>LANSKAP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16525646099308139572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_GeVrtHBSwVI/SNiCsaeAeTI/AAAAAAAAAz4/Pl5X__vx_Nc/S220/Logo+LANSKAP.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9068598759995211418.post-3366657151128304753</id><published>2008-10-18T06:57:00.000-07:00</published><updated>2008-10-18T06:58:55.266-07:00</updated><title type='text'>Inspirasi dari Sragen: Pelayanan Publik untuk Masyarakat (Bagian 2)</title><content type='html'>&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Setidaknya terdapat 29 inovasi program yang dilaksanakan oleh Kabupaten Sragen. Gambaran umum inovasi program ini jika dikelompokkan berdasarkan lokus, fokus, obyektif/sasaran, dan metode adalahada 14 program inovasi yang diselenggarakan di luar institusi pemerintah kabupaten, dan 15 di dalam institusi pemerintah kabupaten; 10 program inovasi yang fokus pada peningkatan kapasitas aparat pemerintah kabupaten, 3 program fokus pada peningkatan kesejahteraan pegawai pemerintah kabupaten, 11 program fokus pada upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat, dan sisanya sebanyak 5 program fokus pada perbaikan proses pelayanan yang lebih baik; 15 program dijalankan untuk mencapai peningkatan efektivitas dan efisiensi organisasi/aparat pemerintah kabupaten, dan 14 program untuk menangani permasalahan-permasalahan sosial dan ekonomi masyarakat; serta 15 program dilaksanakan dengan metode pelibatan masyarakat, sedangkan 14 program lainnya dilaksanakan secara dominan mengandalkan aparat pemerintah kabupaten sendiri.  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dari keseluruhan program inovasi tersebut, Pemkab Sragen menetapkan tiga kelompok agenda besar inovasinya. Pertama, reformasi birokrasi sebagai wujud pembenahan aspek-aspek internal kelembagaan pemerintah daerah. Kedua,re-engineering pelayanan publik dengan penataan pelayanan prima dalam fasilitasi dan pemberian dukungan terhadap upaya masyarakat membangun dirinya sendiri. Ketiga, pemberdayaan masyarakat dan PNS dengan paket-paket program yang mendorong masyarakat dan PNS menjadi maju dengan kapasitas yang mereka miliki. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Tiga program inovasi unggulan di Kabupaten Sragen&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Program inovasi unggulan ini adalah mempermudah perijinan, melatih ketrampilan masyarakat, dan membantu permodalan. Ciri utama tiga program inovasi unggulan ini adalah ketiganya merupakan upaya-upaya pemkab untuk memajukan perekonomian dengan berwirausaha. Hanya tiga program ini sajalah yang selanjutnya diukur level inovasinya dengan menggunakan indikator-indikator best-practices. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Program inovasi unggulan pertama, mempermudah perijinan. Hal ini dilatarbelakangi pengalaman pahit masyarakat dan dunia usaha di Indonesia saat harus berhadapan dengan birokrasi dalam hal pengurusan perizinan dan nonperizinan lainnya, terlebih ketika kebijakan otonomi daerah diberlakukan. Oleh karena itu, pemkab mendirikan Kantor Pelayanan Terpadu (KPT) melalui perda no. 15/2003 yang sebenarnya merupakan pengembangan dari Unit Pelayanan Terpadu (UPT) yang telah didirikan sebelumnya. Kepala KPT diberi sebagian pelimpahan wewenang di bidang perijinan oleh Bupati, sehingga dia dapat menandatangani secara langsung sejumlah perijinan dan nonperijinan. Ini membuat pelayanan menjadi lebih cepat dan efisien. Saat ini status KPT ini telah ditingkatkan menjadi Badan Pelayanan Terpadu (BPT). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ada perbedaan pemangkasan jalur birokrasi untuk pelayanan perijinan dan nonperijinan. Pelayanan perijinan warga hanya melalui satu pintu. Pengurusan lanjutan ke dinas atau instansi terkait akan diurus oleh BPT. Sementara untuk pelayanan nonperijinan masih satu atap, yang menyisakan pelibatan dinas atau instansi terkait dalam interaksi dengan warga dengan tambahan peran intermediasi oleh BPT. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dalam pelaksanaan program BPT membuka prosedur dan biaya secara terbuka kepada warga dengan cara memasang leaflet atau brosur dan membuat proses penyerahan biaya pelayanan dapat dilihat oleh warga. Ini merupakan upaya melibatkan masyarakat dalam pelaksanaan program. Upaya lainnya adalah sosialisasi paradigma dan mekanisme pelayanan publik yang baru, menyediakan saluran pengaduan bagi masyarakat pengguna jasa, dan melaksanakan survey kepuasan pelanggan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Program inovasi unggulan kedua, melatih ketrampilan masyarakat. Program ini didorong oleh cukup tingginya angka pengangguran (31,5%), yang mayoritas berpendidikan SD dan SMP. Berdasarkan tingkat pendidikan penganggur ini jelas sulit bagi mereka bersaing di dunia kerja jika hanya mengandalkan modal kemampuan akademik dan minimnya ketrampilan. Sebagai upaya mendorong warga berwirausaha, pemkab membuka Badan Diklat bagi masyarakat umum. Ini berbeda dengan Badan Diklat daerah lain yang hanya menyediakan pelatihan bagi PNS. Badan Diklat Pemkab Sragen melatih pesertanya untuk terampil dan siap membuka usahanya sendiri atau siap bersaing dengan pencari kerja lain di sektor informal. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pelibatan masyarakat dalam program inovasi ini cukup signifikan karena pelatihan yang disediakan oleh Badan Diklat akan berdasarkan permintaan dari masyarakat. Mekanisme pengajuannya melalui musrenbang. Dalam musrenbang ini dibuat skala prioritas atas permintaan masyarakat dengan melihat potensi desa yang bersangkutan. Namun jika tidak ada permintaan dari masyarakat, Badan Diklat yang proaktif melihat potensi desa dan menyelenggarakan pelatihan sesuai areanya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Program inovasi unggulan ketiga, membantu permodalan. Program ini bertujuan untuk membantu kebutuhan permodalan masyarakat. Program ini digulirkan melalui recovery fund yang dianggarkan dalam APBD. Sifat permodalan ini bergulir sehingga diarahkan untuk hal-hal produktif dalam bentuk bantuan modal kerja/usaha bagi kelompok-kelompok masyarakat. Nantinya recovery fund ini akan kembali ke APBD dalam bentuk PAD. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Koordinasi dan operasi recovery fund ini berada di bawah kendali satuan kerja pemkab, yaitu satker yang ada di Dinas Perindagkop dan UKM, Dinas Perikanan dan Peternakan, Dinas Pasar, serta Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan. Satu contoh keberhasilan program ini adalah bantuan bagi masyarakat dalam bentuk Lembaga Penguatan Ekonomi Kecamatan (LPEK) di bawah koordinasi Dinas Perindagkop dan UKM bekerja sama dengan Dinas Pasar. Keberadaan LPEK ini melepaskan para pedagang pasar dari ketergantungan pada rentenir yang memberikan bantuan modal dengan bunga yang sangat tinggi. Program yang juga disalurkan melalui Lembaga Keuangan Desa membuat pelaksanaan program ini tidak sektoral tetapi menyentuh multisektor. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Serupa dengan program unggulan melatih ketrampilan, keterlibatan masyarakat dalam program ini juga cukup signifikan. Masyarakat dilibatkan dalam menyusun rencana --dalam bentuk proposal miniâ€”kebutuhan mereka. Model perguliran yang tanggung-renteng ini sesungguhnya membutuhkan soliditas tinggi dari masyarakat penerimanya, sehingga diperlukan mekanisme saling jaga di antara anggota kelompok. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Bagaimana level inovasi dan kinerja ketiga program inovasi unggulan?&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Level inovasi diukur menggunakan indikator-indikator best-practices dari UN Habitat yang telah dimodifikasi. Indikator-indikator tersebut adalah dampak, kemitraan, keberlanjutan, kepemimpinan, pemberdayaan masyarakat, kemungkinan untuk ditransfer, konteks lokal, dan kesetaraan masyarakat. Sedangkan indikator untuk mengukur level kinerja adalah input, proses, output, dan dampak. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Berdasarkan persepsi masyarakat level inovasi program kemudahan perijinan, pelatihan kerja, dan dana bergulir masing-masing mencapai 73%, 82%, dan 70,3%. Ini mengindikasikan bahwa masyarakat, khususnya pengguna jasa BPT; peserta pelatihan kerja; dan debitur, merasakan bahwa program ini menghasilkan dampak positif, adanya jalinan kemitraan yang memadai, terjaminnya keberlanjutan program, ditopang dengan kepemimpinan yang bisa diandalkan, pemberdayaan masyarakat yang cukup baik, cukup sesuai dengan konteks daerah dan dapat diterapkan di daerah atau program lain, serta tingkat kesetaraan yang cukup. Meskipun untuk program kemudahan perijinan masih memerlukan tinjauan lebih lanjut untuk meningkatkan keberhasilannya di masa depan dan untuk program dana bergulir masih memerlukan peningkatan upaya pemberdayaan masyarakat dan perbaikan dalam pengaturan keuangan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Level kinerja program dana bergulir, pelatihan kerja, dan dana bergulir secara umum masing-masing mencapai tingkat 87,1%, 89,6%, dan 76,2%. Ini menunjukkan Pemkab Sragen telah mengoptimalkan pemanfaatan sumber-sumber daya, landasan infrastruktur, serta prasyarat lainnya dalam proses penyelenggaraan program kemudahan perijinan, pelatihan kerja, dan dana bergulir hingga masyarakat dan pihak-pihak berkepentingan lain merasakan manfaatnya. Khusus program dana bergulir menghasilkan manfaat yang tidak bisa dianggap kecil terhadap upaya peningkatan taraf perekonomian masyarakat Kabupaten Sragen. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Potensi replikasi ke daerah lain&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Setelah membaca seluruh pencapaian-pencapaian utama Kabupaten Sragen ini, pertanyaan selanjutnya adalah apa prasyarat yang harus dipenuhi oleh daerah yang ingin mereplikasinya. Ada beberapa pertimbangan penting dalam upaya replikasi: pertama, political will Kepala Daerah. Bukan hanya komitmen Bupati yang dibutuhkan tetapi juga dukungan dan motivasi aparat birokrasi dalam membangun kesamaan visi, misi, dan tujuan. Kedua, kemampuan Kepala Daerah dan aparat untuk melibatkan organisasi lokal seperti lembaga dan tokoh masyarakat, serta LSM dalam penyusunan prioritas untuk pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi program. Ketiga, pembelajaran dari Sragen, yaitu program efisiensi pembangunan di semua sektor serta upaya mengubah paradigma dan budaya birokrasi. Keempat, pemilihan prioritas program. Keberhasilan program-program inovasi ditentukan juga oleh keberpihakannya pada kebutuhan masyarakat. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;* Diringkas dari buku Reformasi dan Inovasi Birokrasi Studi di Kabupaten Sragen&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;sumber: www.yappika.or.id&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9068598759995211418-3366657151128304753?l=lanskap-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/3366657151128304753'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/3366657151128304753'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lanskap-artikel.blogspot.com/2008/10/inspirasi-dari-sragen-pelayanan-publik.html' title='Inspirasi dari Sragen: Pelayanan Publik untuk Masyarakat (Bagian 2)'/><author><name>LANSKAP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16525646099308139572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_GeVrtHBSwVI/SNiCsaeAeTI/AAAAAAAAAz4/Pl5X__vx_Nc/S220/Logo+LANSKAP.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9068598759995211418.post-9190074132843099871</id><published>2008-10-18T06:56:00.000-07:00</published><updated>2008-10-18T06:57:15.125-07:00</updated><title type='text'>BLT yang Tidak Melayani</title><content type='html'>&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Program bantuan langsung tunai (BLT) plus sebagai kompensasi pengalihan subsidi BBM menjadi dialektika menarik selain kebijakan pencabutan subsidi itu sendiri. Suara penolakan disuarakan baik oleh pengamat kebijakan, praktisi politik, hingga kepala-kepala daerah yang berkeberatan program ini dijalankan karena kekhawatiran potensi konflik yang timbul.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Meringankan Masyarakat Miskin&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Berkaca dari pelaksanaan program serupa pada 2005 yang menimbulkan friksi di daerah hingga jatuh korban akibat kekisruhan pembagian dana BLT, membuat beberapa kepala daerah berani menyuarakan penolakannya. Terlepas dari asas kepatutan penolakan kepala daerah terhadap kebijakan pemerintah pusat dalam kacamata ketatanegaraan Indonesia, namun mengingat gejolak yang timbul pada 2005 silam penolakan itu menjadi sisi menarik untuk disimak lebih mendalam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kepastian pemerintah untuk menaikkan BBM sebesar 28,7% tentu ikut mengatrol jumlah masyarakat miskin. Maka tidak heran alokasi penghematan APBN dari pencabutan subsidi BBM sebesar Rp.35,5 trilyun, seperti yang diungkapkan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan Anggito Abimanyu, akan digunakan sebesar Rp18,15 triliun untuk membiayai program BLT, raskin, dan ketahanan pangan. Sedangkan Rp15,2 triliun sebagai dana cadangan risiko fiskal dan menurunkan defisit, serta Rp1 triliun guna menambah dana jaminan pada kredit usaha rakyat (KUR) sebagai kompensasi meringankan beban masyarakat miskin.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Rp.18,5 triliun anggaran untuk program BLT plus tersebut akan dialokasikan kepada 19,1 juta KK atau tak kurang dari 80 juta jiwa yang dikategorikan masyarakat miskin Indonesia. Besarnya rentang masyarakat yang harus dijangkau oleh program ini serta besarnya anggaran yang dialokasikan membuat program ini rentan terhadap kesalahan-kesalahan elementer. Mulai dari penentuan kriteria masyarakat miskin, pencacahan dan pendataan, pembagian kartu, hingga pendistribusian dana BLT adalah ruang-ruang di mana program BLT pada 2005 silam menjadi titik lemah. Hal ini semakin diperparah dengan ketidakjelasan mekanisme pengaduan masyarakat sebagai akibat minimnya sosialisasi yang dilakukan oleh aparat pemerintah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Jika kebijakan BLT plus ini dipandang sebagai program kompensasi pengalihan subsidi BBM yang bertujuan meringankan beban masyarakat miskin, maka seyogyanya pemerintah perlu mempersiapkan sebuah mekanisme penyaluran yang sistematis, transparan, dan ramah pengguna (&lt;em&gt;user-friendly&lt;/em&gt;).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;BLT yang Tak Efektif&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sementara belajar dari pelaksanaan program BLT 2005, permasalahan justru timbul dari sistem penyaluran BLT yang semwrawut. Hal ini sebagai akibat pengelolaan informasi data Rumah Tangga Miskin (RTM) yang tidak terpadu dan tidak transparan, pelaksanaan pelayanan pencairan dana BLT yang tidak memiliki acuan dasar standar pelayanan, tidak adanya mekanisme integral pusat-daerah untuk menerima pengaduan masyarakat yang merasa dirugikan, serta tidak adanya mekanisme pengawasan baik yang dilakukan internal aparat maupun eksternal oleh lembaga independen.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Penyimpangan penyaluran itu sebenarnya telah jauh-jauh hari diutarakan oleh banyak pihak. Selain karena keterburu-buruan pemerintah dalam menyalurkan BLT tanpa mempersiapkan mekanisme penyaluran yang rinci, konsep BLT yang berupa &lt;em&gt;unconditional cash transfer&lt;/em&gt; (UCT) membuat banyak masyarakat berlomba-lomba ”memiskinkan” dirinya sendiri. Dengan UCT, masyarakat yang menerima BLT tidak memiliki kewajiban dan pedoman akan digunakan sebagai apa BLT yang diterima, apakah akan digunakan untuk membeli kebutuhan pokok, menyekolahkan anak, atau hanya sebagai pleasure semata. Maka tak heran banyak masyarakat yang sebenarnya tidak berhak menerima menjadi tergiur untuk memperoleh BLT.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Penyalahgunaan BLT 2005 silam terbukti berdasarkan survei dari BAPPENAS pada Maret 2006 mengenai efektifitas pelaksanaan program BLT. Hasil survei sosial ekonomi nasional (Susenas) menunjukkan, pada pembayaran BLT Oktober-Desember 2005, sekitar 5,83% RTM tidak menerima BLT secara utuh. Sedangkan pada pembayaran Januari-Maret 2006 10,38% RTM tidak menerima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titik-titik kebocoran BLT 2005 pun terjadi pada saat penyaluran, antara lain adanya uang untuk keamanan, honor petugas desa, transportasi, serta biaya administrasi. Sedangkan pihak-pihak yang melakukan pemungutan antara lain, aparat dusun/RT/RW (42,6%, 61%), aparat desa (17,8%, 29%), aparat kecamatan (1,2%, 0%), dan aparat BPS (0,8%, 3%). &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Urgensi UU Pelayanan Publik&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kekisruhan pembagian BLT sebenarnya tidak perlu terjadi andai saja pemerintah telah memiliki sebuah undang-undang payung aspek pelaksanaan pelayanan publik. Sampai saat ini, aparat pemerintah serta sektor swasta yang menguasai sektor hajat hidup orang banyak tidak memiliki sebuah standar pelayanan minimal (SPM) yang baku. Masyarakat pun selalu menjadi pihak yang dirugikan karena pihak-pihak yang menguasai sektor publik tidak menjalankan pelayanannya dengan baik dan profesional. Kasus penyaluran BLT yang semwrawut, menyimpang dari sasaran, dan kisruh adalah sebuah contoh kasus betapa sebuah peraturan payung mengenai standar pelayanan bagi masyarakat sangat urgen diperlukan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;RUU Pelayanan Publik yang hingga kini sedang dibahas pada tingkat PANJA Komisi II DPR-RI memberikan ruang penyelesaian cukup signifikan atas kekisruhan yang terjadi pada kasus BLT, dan pada kasus-kasus lainnya yang bersinggungan dengan pelayanan publik. Dengan RUU Pelayanan Publik ini persoalan dasar pelayanan masyarakat dapat diatur pada sebuah mekanisme yang jelas, baku, sistematis sehingga masyarakat dapat mengakses informasi secara paripurna, melakukan evaluasi atas pelaksanaan pelayanan yang diberikan serta membuat konsensus dengan pihak penyelenggara pelayanan publik atas bentuk pelayanan yang diinginkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tanpa adanya UU payung aspek pelaksanaan pelayanan publik, apapun program kebijakan pemerintah yang bertujuan meringankan beban masyarakat hanya akan menjadi program ”macan kertas” semata. Kuat di konsep, namun lemah dan tidak efektif dalam pelaksanannya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Oleh: Arif Rahmadi (relawan Yappika untuk Pemantauan Proses Pembahasan RUU Pelayanan Publik)&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;sumber: www.yappika.or.id&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9068598759995211418-9190074132843099871?l=lanskap-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/9190074132843099871'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/9190074132843099871'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lanskap-artikel.blogspot.com/2008/10/blt-yang-tidak-melayani.html' title='BLT yang Tidak Melayani'/><author><name>LANSKAP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16525646099308139572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_GeVrtHBSwVI/SNiCsaeAeTI/AAAAAAAAAz4/Pl5X__vx_Nc/S220/Logo+LANSKAP.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9068598759995211418.post-8745382276106531910</id><published>2008-10-18T06:54:00.000-07:00</published><updated>2008-10-18T06:55:46.398-07:00</updated><title type='text'>Merajut Jaringan Membidik Rancangan Kebijakan</title><content type='html'>&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Layaknya sebuah proses politik, pembahasan sebuah rancangan undang-undang di DPR juga selalu mengalami dinamika.  Proses yang dilalui tidak serta merta mengikuti alur legislasi yang tertuang dalam aturan penyusunan perundang-undangan, termasuk Tata Tertib (Tatib) DPR RI.  Kepentingan politik sarat mewarnai hampir di seluruh pembahasan rancangan undang-undang. Tidak ada kepastian kapan sebuah rancangan undang-undang disebut prioritas.  Seperti halnya tidak ada jaminan kapan pastinya sebuah rancangan undang-undang dinyatakan harus selesai dibahas.  Tarik menarik kepentingan politik yang kerap terjadi dalam pembahasan rancangan undang-undang telah membawa implikasi yang sangat besar terhadap kualitas undang-undang yang dihasilkan.  Rakyat, adalah korban yang paling merasakan dampak buruk produk legislasi tersebut.  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Keprihatinan atas kondisi tersebut, menjadi spirit bagi Yappika untuk berkecimpung dalam proses legislasi; melakukan pengawalan, memastikan bahwa hak publik untuk turut berpartisipasi diakomodir baik dalam proses maupun dalam substansi. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Inisiatif dari sekelompok anggota DPR RI untuk mengajukan pembahasan RUU Tata Cara Penyusunan Peraturan Perundang-undangan (TCP3) – selanjutnya menjadi RUU Penyusunan Peraturan Perundang-undangan (PPP) – merupakan langkah awal yang dipandang strategis oleh Yappika untuk membenahi proses legislasi.  Terutama menjadi peluang jaminan hukum bagi hak partisipasi masyarakat dalam penyusunan kebijkan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Yappika mulai bergerak, mengawali pertemuan bersama sejumlah LSM yang &lt;em&gt;concern&lt;/em&gt; pada isu kebijakan, melakukan diskusi-diskusi kajian terhadap RUU PPP.  Jaringan pun terbentuk.  Koalisi Kebijakan Partisipatif (KKP) selanjutnya menjadi media gerakan sejumlh LSM yang dikomandani oleh Yappika untuk melakukan advokasi, mempengaruhi proses pembahasan dan substansi RUU PPP.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Advokasi RUU PPP berjalan sekitar 2,5 tahun.  Sebagai sebuah jaringan, KKP tentu mengalami proses dinamika pasang surut.  Sekalipun strategi bergerak di tiga lini yang mencakup; penguatan substansi, &lt;em&gt;lobby&lt;/em&gt; dan penggalangan dukungan massa melalui kampanye sudah menjadi pilihan strategi yang dilakukan KKP, tidak berarti semua strategi berjalan dengan mulus. Kejenuhan, kesibukan dan beberapa hambatan lain kerap muncul, mendera anggota jaringan.  Terutama karena, proses pembahasan RUU PPP di DPR RI memang tergolong berjalan lamban. Jika situasi seperti ini datang, maka Yappika sebagai sekretariat dan koordintor dituntut untuk mengambil inisiatif, membangkitkan semangat kerja tim kerja jaringan bahkan jika situasi sudah sangat mendesak, tidak jarang harus bergerak langsung , mengambil alih kerja-kerja lobby, kampanye juga mendalami sibstansi.  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dinamika yang sangat berbeda dirasakan oleh Yappika ketika pada akhir tahun 2005 diminta menjadi sekretariat Jaringan Demokrasi Aceh (JDA) untuk proses advokasi di Jakarta.  Sebagai jaringan yang lahir dari kebutuhan untuk mengawal pembahasan RUU Pemerintahan Aceh, maka wajar jika keangotaan JDA lebih banyak diisi oleh organisasi masyarakat sipil yang ada di Aceh dan di Jakarta yang memiliki &lt;em&gt;concern&lt;/em&gt; terhadap Aceh.  Proses politik sangat jelas mewarnai kelahiran dan pembahasan RUU PA.  Kondisi ini sangat dirasakan juga oleh Yappika.  Tekanan-tekanan politik dari kelompok-kelompok di luar JDA kadang muncul sebagai respon terhadap sikap JDA yang tidak jarang mempengaruhi proses-proses pembahasan RUU PA. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Jika pada peran sebelumnya, Yappika dituntut agar lebih kreatif dalam membangkitkan dinamika koalisi yang sering terganggu dengan pembahasan RUU yang berlarut-larut, sehingga tidak jarang justru Yappika mengambil peran di depan.  Maka kondisi yang berbeda terjadi di dalam mengelola JDA, dimana Yappika justru dituntut untuk lebih matang, sabar dan lebih banyak mengambil peran-peran mediasi/memfasilitasi anggota JDA.  Proses pembahasan RUU PA yang  melaju terus tanpa jeda, membuat gerakan JDA menjadi sangat dinamis.  Sikap anggota yang sering reaktif dan kadangkala frontal dalam menyikapi pembahasan RUU PA justru lebih banyak menempatkan Yappika sebagai pihak yang banyak bermain di belakang, memikirkan strategi-strategi baru dan menyediakan panggung bagi anggota jaringan sesuai peran dan kapasitasnya.  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kompetensi Yappika dalam mengelola jaringan telah menumbuhkan kepercayaan sejumlah LSM yang concern pada isu kebijakan untuk memberikan tanggung jawab pengelolaan kerja-kerja advokasi yang menjadi kepentingan bersama.  Komptensi itu juga yang kembali meyakinkan sejumlah LSM untuk mempercayakan advokasi RUU pelayanan Publik (PP) kepada Yappika pada awal tahun 2006, dibawah bendera Masyarakat Peduli Pelayanan Publik (MP3). Pada saat itu Yappika msih menjadi sekretariat untuk JDA. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Masih dengan strategi bergerak di tiga lini; penguatan substansi, kampanye dan &lt;em&gt;lobby&lt;/em&gt;, dalam mengkoordinir advokasi RUU PP, Yappika mencoba untuk mengembangkan inisiatif-inisiatif baru,  mempelajari strategi-strategi mana yang efektif untuk dilakukan dan strategi mana yang dianggap tidak lagi relevan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Mengembangkan Trik, Menuai Kemenangan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bagi sebahagian pihak, kerja-kerja advokasi mungkin saja dianggap tidak menarik.  Terlalu menghabiskan energi untuk mempengaruhi kebijakan ditengah proses politik yang tidak pasti.  Apalagi harus berhadapan dengan politisi yang suaranya sangat mengikuti keputusan partainya.  Tapi bagi pegiat advokasi kebijakan, melihatnya bisa sangat berbeda.  Di situlah letak perjuangannya, bagaimana kita bisa bermain di tengah proses politik tersebut, mencoba untuk meraih kemenangan-kemenangan kecil, dengan terus belajar mengenali dengan baik siapa sesungguhnya pihak-pihak yang sedang ingin dipengaruhi tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Yappika dan jaringan advokasinya selalu mengawali proses lobby dengan melakukan pemetaan dan analisis stakeholder.  Sangatlah tidak mungkin, kita bisa mengembangkan trik lobby tanpa kita kenal siapa dan bagaimana sesungguhnya orang-orang yang sedang kita hadapi.  Tahapan ini yang selalu membantu tim &lt;em&gt;lobby&lt;/em&gt; untuk lebih siap menghadapi anggota DPR yang akan dipengaruhi.   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pemetaan stakeholder tersebut juga yang kemudian menjadi dasar bagi tim kerja di dalam jaringan, khususnya tim &lt;em&gt;lobby&lt;/em&gt; untuk membagi peran, siapa yang lebih tepat untuk melobby siapa.  Komunikasi yang intensif, trik pendekatan yang tepat, ketelatenan dan tentu saja substansi yang memadailah yang selama ini terbukti menjadi cara yang sangat efektif untuk menumbuhkan kepercayaan anggota DPR RI kepada Yappika dan tim kerja jaringan advokasinya.  Inilah pintu masuk yang sangat  memudahkan bagi jaringan untuk selanjutnya mempengaruhi para politisi tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Banyak kalangan mengira bahwa pekerjaan &lt;em&gt;lobby&lt;/em&gt; adalah pekerjaan yang sangat kaku, penuh tata krama dan menjemukan.  Mungkin ya, jika kita belum terlalu mengenal siapa orang yang akan dipengaruhi.  Tapi, pengalaman yang dijalani Yappika dan jaringan advokasinya membuktikan ternyata dengan komunikasi yang lebih santai, bersahabat, disertai dengan joke-joke yang menyegarkan (tentunya tetap dengan kesantunan) membuat pesan-pesan yang ingin kita sampaikan menjadi lebih mudah diterima.  Tidak jarang bahkan membuat mereka tergelitik untuk berbagi rahasia-rahasia kecil yang terjadi di dalam proses pembahasan RUU yang sedang  kita advokasikan.  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dalam beberapa kejadian, teknis &lt;em&gt;lobby&lt;/em&gt; kadang menuntut kita untuk melakukan hal-hal yang diluar perencanaan, trik-trik yang dilakukan justru muncul menyesuaikan aktivitas orang-orang yang ingin  dipengaruhi; mengikuti ke toilet untuk membasuh tangan sambil berbincang-bincang, menemani berjalan sampai ke tempat parkir mobil sambil mendiskusikan substansi yang baru selesai dibahas atau bahkan pada kondisi-kondisi tertentu terpaksa bekerjasama dengan petugas/office boy yang menghantarakan minuman untuk menyerahkan dokumen-dokumen penting mengenai substansi yang diusulkan kepada anggota DPR yang berada dalam persidangan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dalam konteks berjaringan, Yappika mencob untuk menularkan pengalaman-pengalaman tersebut, sekaligus meyakinkan anggota jaringan bahwa pekerjaan &lt;em&gt;lobby&lt;/em&gt;  menuntut inisiatif dan kreatifitas yang jika kita lakukan dengan tepat bukan tidak mungkin, menghantarkan kita pada keberhasilan-keberhasilan kecil yang mewarnai proses advokasi yang dilakukan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Pembelajaran yang Berharga&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Empat kali menjadi supporting sistem bagi jaringan advokasi kebijakan, membuat Yappika banyak belajar dari pengalamannya sendiri.  Belajar bagaimana melakukan advokasi kebijakan dan belajar bagaimana menjadi pengelola jaringan yang profesional.  Dari proses belajar tersebut, sebenarnya Yappika bisa menentukan pilihan untuk melakukan sendiri advokasi kebijakan yang menjadi perhatiannya.  Tetapi, bagi Yappika, berjaringan tidak sekedar dipandang sebagai alat/cara untuk mencapai tujuan advokasi.  Berjaringan juga dipandang sebagai alat/cara untuk melakukan penguatan organisasi masyarakat sipil (OMS), melahirkan kader-kader baru aktivis OMS dalam gerakan advokasi.  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dari seluruh pengalaman tersebut, pelajaran penting yang bisa ditarik sebagai pengelola jaringan; adalah bagaimana mengaktifkan anggota/tim kerja jaringan di tengah kebosanan/kejenuhan menghadapi pembahasan RUU yang berlarut-larut, tanpa harus mengambil peran  tim kerja tersebut, meskipun sebagai koordinator dan sekretariat kita mampu melakukannya.  Dalam hal ini, komunikasi intens, suasana pertemuan jaringan yang berbeda, pemberian apresiasi dan bahkan kadang &lt;em&gt;shock therapy&lt;/em&gt; penting dilakukan pengelola jaringan untuk mendinamisir anggota jaringannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Oleh: Ajeng Kesuma Ningrum (Manajer Divisi Advokasi &amp;amp; Jaringan Yappika)&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;sumber: www.yappika.or.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9068598759995211418-8745382276106531910?l=lanskap-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/8745382276106531910'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/8745382276106531910'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lanskap-artikel.blogspot.com/2008/10/merajut-jaringan-membidik-rancangan.html' title='Merajut Jaringan Membidik Rancangan Kebijakan'/><author><name>LANSKAP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16525646099308139572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_GeVrtHBSwVI/SNiCsaeAeTI/AAAAAAAAAz4/Pl5X__vx_Nc/S220/Logo+LANSKAP.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9068598759995211418.post-3045931543285802841</id><published>2008-10-18T06:51:00.000-07:00</published><updated>2008-10-18T06:52:47.815-07:00</updated><title type='text'>Pesona Diskriminasi dalam RUU Pelayanan Publik</title><content type='html'>&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pembahasan RUU Pelayanan Publik (Yanlik) memasuki babak baru pada tingkat Panja. Pada tanggal 19 Juni lalu, Panja Yanlik membahas pasal mengenai aspek pelayanan khusus sebagai salah satu aspek dalam pelayanan publik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Muncul pertanyaan, apakah dalam implementasinya nanti tidak akan membuka ruang komersialisasi pelayanan publik? Apakah pelayanan khusus ini dapat memberikan jaminan pelayanan optimal pula bagi pelayanan yang tidak dikategorikan sebagai pelayanan khusus? Bukankah diferensiasi bentuk pelayanan ini adalah sebuah bentuk diskriminasi sosial masyarakat?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut dapat secara otomotis timbul jika kemudian kita membaca klausul pelayanan khusus dalam RUU Yanlik usulan pemerintah. Dalam Pasal 28 DIM no. 181 RUU Pelayanan Publik menyatakan, “&lt;em&gt;Penyelenggara dapat menyediakan pelayanan kelas-kelas tertentu sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan dan standar pelayanan&lt;/em&gt;”. Klausul ini tentu sebagai salah satu pintu akomodasi bentuk-bentuk pelayanan yang secara fakta lapangan memang dipraktekan  di masyarakat luas. Namun, apakah bijaksana mengadakan pelayanan khusus pada pelayanan publik yang semangatnya menegasikan diskriminasi dan mendorong pelayanan yang adil dan berkualitas pada setiap golongan?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dalam pembahasannya, fraksi Partai Golkar dan Demokrat secara tegas mengusulkan pasal ini harus dihapuskan karena diksi “kelas-kelas tertentu” tidak jelas maknanya dan bertentangan dengan prinsip yang ingin dikandung dalam UU Yanlik ini, yaitu kesamaan hak. Sedangkan fraksi Kebangkitan Bangsa cenderung mencoba mengeliminasi peluang pelayanan diskriminatif dengan mengadopsi pelayanan khusus yang dilaksanakan secara transaparan dan akuntabel. Sementara fraksi lain meskipun tidak mengusulkan pengubahan DIM, memahami kekhawatiran peluang diskriminasi dan komersialisasi pelayanan pada pelayanan khusus ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Proses dialektika pun berlanjut, antara mengakomodasi pelayanan khusus dengan menyamaratakan bentuk pelayanan tanpa memandang aspek golongan. Hingga dalam sebuah kesempatan pimpinan sidang Panja, Sayuti Asyathri dari F-PAN sempat berseloroh bahwa pembahasan ini menjadi bentuk pertentangan dua ideologi, ideologi pro-pasar serta ideologi ekonomi kerakyatan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Patut diwaspadai bahwa diaturnya pelayanan khusus dalam RUU Yanlik adalah tidak untuk membuka peluang terjadinya komersialisasi pelayanan publik yang sedianya dapat diakses oleh setiap golongan dan kelompok masyarakat, yang berarti pula membuka peluang diskriminasi pelayanan pada masyarakat. Komersialisasi itu misalkan dalam bentuk kuota pelayanan khusus yang lebih besar dibandingkan pelayanan umum demi mengeruk keuntungan sebesar mungkin. Sedangkan diskriminasi pelayanan dapat terjadi pada bentuk pembedaan kualitas pelayanan antara pelayanan umum dengan pelayanan khusus.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Disinilah kemudian letak urgensi piagam warga dan Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang memungkinkan masyarakat untuk melakukan pengawasan dan partisipasi aktif dalam menentukan bentuk, mekanisme, hingga biaya pelayanan yang sesuai dengan karakteristik mereka sendiri. Piagam warga dan SPM sebagai titik tolak penyusunan pelayanan publik menjadi &lt;em&gt;filter&lt;/em&gt; utama dalam menghindari praktek komersialisasi dan diskriminasi pada pelayanan publik dengan pelayanan khususnya. Dengan piagam warga masyarakat mungkin saja mempersilahkan penyelenggara pelayanan publik untuk mengadakan pelayanan khusus, namun pada akhirnya akan dikembalikan kepada masyarakat sebagai pengguna pelayanan dalam menentukan kuota, kualitas, bentuk, dan sebagainya dari pelayanan khusus ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Catatan-catatan yang disepakati anggota Panja Pelayanan Publik atas klausul pelayanan khusus juga harus diapresiasi. Seperti keinginan untuk menghindari nuansa diskriminasi dengan penggunaan diksi “kelas-kelas” dan menggantinya dengan istilah yang lebih halus seperti jenjang atau fasilitas adalah kemajuan atas pembahasan RUU yang telah dinanti masyarakat luas sejak lama. Kemudian substansi usul F-KB yang memasukkan pembatasan atas pelayanan khusus yaitu transparansi dan akuntabilitas dapat memperkuat pondasi batasan usul RUU dari pemerintah yang berupa peraturan perundang-undangan dan standar pelayanan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Progress signifikan pembahasan pada tingkat Panja membuat asa akan terbentuknya UU Pelayanan Publik yang lebih mengutamakan kepentingan masyarakat awam, kelompok minoritas, dan masyarakat rentan senantiasa terpupuk. Tentu hal ini harus selalu diimbangi dengan proses pemantauan dan lobi yang intense dari segenap tim MP3.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Oleh Arif Rahmadi (relawan pemantau pembahasan RUU Pelayanan Publik)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;sumber: www.yappika.or.id&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9068598759995211418-3045931543285802841?l=lanskap-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/3045931543285802841'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/3045931543285802841'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lanskap-artikel.blogspot.com/2008/10/pesona-diskriminasi-dalam-ruu-pelayanan.html' title='Pesona Diskriminasi dalam RUU Pelayanan Publik'/><author><name>LANSKAP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16525646099308139572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_GeVrtHBSwVI/SNiCsaeAeTI/AAAAAAAAAz4/Pl5X__vx_Nc/S220/Logo+LANSKAP.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9068598759995211418.post-1822523053963873727</id><published>2008-10-18T05:32:00.000-07:00</published><updated>2008-10-18T05:33:32.548-07:00</updated><title type='text'>Banten Mencatat 116.000 Orang Terlantar</title><content type='html'>&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Oleh: Andi&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;SERANG -&lt;/strong&gt; Sebanyak 116 ribu orang dengan penyandang masalah sosial hidup terlantar di Banten. Jumlah tersebut terdiri dari 53.000 anak-anak, 45.000 lanjut usia dan 18.000 penyandang cacat. Sedangkan yang ditangani oleh panti asuhan hanya 5.128 orang yang tersebar di 186 panti.&lt;span id="more-1250"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;Demikian disampaikan oleh Gubernur Banten, Atut Chosiyah dalam acara Sosialisasi Subsidi Tambahan Biaya Pemenuhan Kebutuhan Dasar Provinsi Banten, kemarin di gedung Pusat Koperasi Pegawai Republik Indonesia (PKPRI).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;Namun kata Atut jumlah pendang maslah sosial di Provinsi Banten, berdasarkan catatand an data dari Badan Pusat Statistik (BPS) bukan sepenuhnya asli warga Banten, nakan tetapi ada juga warga pendatang seperti Nandroe Aceh Darusalam (NAD,red). “Yang dari daerah lain, banyak juga, dan jumlahnya itu sepertinya kecenderungannya dari tahun ke tahun terus bertambah,” imbuhnya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;Sementara itu masih menurut Atut, bantuan dari pemerintah pusat melalui Departemen Sosial (Depsos) ke Provinsi Banten berupa bantuan subsidi tambahan selama satu tahun untuk biaya makan sebesar Rp 4,68 miliar kepada 5.128 orang yang tinggal di 180 panti asuhan di Banten masih kurang, sebab, anggaran untuk keperluan tersebut sangat besar.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;“Bantun yang diberikan tersebut hanya untuk subsidi uang makan dengan rincian Rp 2.500 per orang per hari. Tidak boleh untuk yang lain, seperti membangun infrastruktur panti atau honor, ini kan jelas sangat ini sekali,” katanya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;Di tempat yang sama, Direktur Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Depsos, Max Tuaphatimain mengakui minimnya subsidi yang diberikan kepada Provinsi Banten. “Ini dikarenakan terbatasnya anggaran belanja negara yang dialokasikan. Tapi mudah-mudahan pemerintah daerah bisa membantu juga,” saran Max ketika dimintai tanggapan keluhan dari Gubernur Banten. &lt;strong&gt;(nr)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;sumber: voice of banten&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9068598759995211418-1822523053963873727?l=lanskap-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/1822523053963873727'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/1822523053963873727'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lanskap-artikel.blogspot.com/2008/10/banten-mencatat-116000-orang-terlantar.html' title='Banten Mencatat 116.000 Orang Terlantar'/><author><name>LANSKAP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16525646099308139572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_GeVrtHBSwVI/SNiCsaeAeTI/AAAAAAAAAz4/Pl5X__vx_Nc/S220/Logo+LANSKAP.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9068598759995211418.post-7756856122499277742</id><published>2008-10-18T05:30:00.000-07:00</published><updated>2008-10-18T05:31:12.929-07:00</updated><title type='text'>Tujuan Negara Ini Menyejahterakan Rakyat, Bukan Kelompok Tertentu</title><content type='html'>&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;NEGARA Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berusia 63 tahun pada 17 Agustus 2008. Diibaratka manusia, selayaknya usia lebih setengah abad harus dipenuhi kearifan karena perjalana waktu yang telah ditempuh. Kearifan itu seyogyanya meliputi rakyat dan para pemimpin di segala level.&lt;span id="more-1455"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;Kita mengingatkan kembali tujuan dari NKRI ini diperjuangkan dengan darah, nyawa dan penderitaan yang amat panjang melawan penjajahan selama 350 tahun, termasuk penjajahan oleh Jepang yang singkat tapi memiliki daya rusak yang luar biasa. Dalam Undang-undang Dasar (UUD) 1945 yang telah mengalami perubahan (amandemen) beberapakali jelas tercantum bahwa negara ini didirikan bertujuan untuk menyejahterakan rakyatnya, bukan untuk tujuan lain. Bentuk negara yang merupakan alat dari tujuan itu ditentukan berupa negara kesatuan republik.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;Para pendiri (founding father) negara kita tentu punya alasan yang kuat, mengapa memilih negara kesatuan republik, bukan federasi atau serikat. Dan, negara kita pun pernah mengalami negara federasi dengan sebutan Republik Indonesia Serikat (RIS). Namun Soekarno, Presiden RI pertama dan founding father kita mengembalikannya ke NKRI dengan dekrit Presidennya yang terkenal itu.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;Jika kita cermati, Presiden RI kita yang pertama merupakan pendiri yang memiliki kharisma luar biasa yang mampu mengerahkan jutaan rakyatnya untuk mencapai tujuan tertentu. Namun di sektor ekonomi, kita mengalami kehancuran luar biasa, terpaksa melakukan devaluasi, yakni memotong harga uang dari Rp 10.000 menjadi Rp 1.000. Begitu sengsara rakyat, hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari harus antre berjam-jam, bahkan seharian.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;Peristiwa G30 S PKI, memunculkan Soeharto sebagai Presiden RI ke-2. Berbeda gaya dan kharisma dengan pendahulunya, Soeharto bukanlah seorang orator, lebih terkesan diam. Namun kita harus jujur, Soeharto meletakan dasar-dasar pembangunan Indonesia modern, sehingga Indonesia sempat dimasukan dalam katagori salah satu macan asia di bidang ekonomi.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;Periode ini kita harus mengakui, berbagai kebutuhan sehari-hari dipenuhi dengan mudah dan murah mulai dari beras, minyak tanah, gas, pendidikan, kesehatan dan sebagainya. Orang tua murid tak pusing dengan biaya untuk menyekolahkan anaknya, terutama dalam memenuhi wajib belajar pendidikan dasar (Wajar Dikdas). Ekonomi lebih stabil dengan ditunjukan angka-angka pertumbuhan ekonomi yang luar biasa.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;Sayangnya, Soeharto berkuasa terlalu lama, 32 tahun. Kepemimpinannya tak peka lagi terhadap penderitaan rakyat, lebih sibuk dengan kroni-kroninya. Gaya kepemimpinnya semakin mengarah pada otoriter atau ditaktor dengan mengedepankan stabilitas keamanan yang represif, sehingga menghilangkan kebebasan hakiki dari setiap individu. Stabilitas keamanan itu diyakini untuk melancarkan pembangunan. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;Selain itu, pembiayaan negara ini dalam memutarkan roda pembangunan, pelayanan, pemerintahan dan lain-lainnya diperoleh dari pinjaman luar negeri yang setiap tahun terus membengkak. Hutang yang sedemikian besar ini menyebabkan kehancuran yang tak bisa dihindarkan, sehingga rakyat meminta kebebasan yang selama ini dikekang dengan tindakan yang represif. Akhirnya Soeharto lengser dalam sebuah peristiwa yang dramatis setelah rakyat bergejolak, terutama mahasiswa berdemo berhari-hari di Senayan dan Istana.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;Secara berurutan, kita mengalami beberapa presiden mulai dari BJ Habibie, Abrudrahman Wahid atau Gus Dur dan Megawati Soekarnoputri. Pemilu tahun 2004 merupakan pemilihan langsung Presiden dan Wakil Presiden yang dilakukan oleh rakyat, memilih Soesilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;Ironisnya, periode SBY-JK inilah apa yang dialami rakyat di era Soekarno justru kembali terjadi. Beras sering menghilang di pasaran, demikian pula dengan minyak tanah, bensin, gas dan sebagainya. Antrean pun terlihat dimana-mana. Harga barang pun terus naik, menyebabkan rakyat ini sesak dengan biaya hidup yang semakin tinggi. Seperti tidak perduli dengan penderitaan rakyat, SBY-JK justru menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) berkali-kali dengan alasan untuk menyelematkan perekonomian negara ini. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;Bentuk negara ini pun menjadi banci. Disebut negara kesatuan republik, ternyata kita mengarah pada bentuik federasi dengan alat bernama otonomi daerah. Dan, kini bermunculan raja-raja kecil di setiap daerah hasil dari Pemilhan Kepala Daerah (Pilkada). &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;Apa yang ingin kita ingatkan dari paparah yang begitu panjang? Sebenarnya hanya satu, bukankah NKRI ini didirikan untuk menyejahterakan rakyatnya? Dan, bukankah setiap dibentuknya pemerintah daerah yang baru selalu disebutkan tujuan untuk hal yang sama? Lalu, dengan kondisi ekonomi sekarang yang membuat sesak jutaan rakyat, sudahkah petinggi kita kembali mengevaluasi diri soal kesejahteraan rakyat? (*)&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;sumber: voice of banten&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9068598759995211418-7756856122499277742?l=lanskap-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/7756856122499277742'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/7756856122499277742'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lanskap-artikel.blogspot.com/2008/10/tujuan-negara-ini-menyejahterakan.html' title='Tujuan Negara Ini Menyejahterakan Rakyat, Bukan Kelompok Tertentu'/><author><name>LANSKAP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16525646099308139572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_GeVrtHBSwVI/SNiCsaeAeTI/AAAAAAAAAz4/Pl5X__vx_Nc/S220/Logo+LANSKAP.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9068598759995211418.post-7995213078723325545</id><published>2008-10-18T05:27:00.000-07:00</published><updated>2008-10-18T05:29:38.948-07:00</updated><title type='text'>Negeri Miskin, Catatan dari Jalanan</title><content type='html'>&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Oleh : Nisaillah&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Hampir di setiap jantung transportasi di ibukota propinsi dan kota-kota besar di Indonesia semakin hari kian dipadati oleh anak-anak jalanan, gelandangan dan pengemis. Dengan mimik muka memelas, anak-anak jalanan menadahkan tangan, meyakinkan para pengguna jalan bahwa dirinya telah beberapa hari tidak makan.&lt;span id="more-1802"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Gelandangan dan preman yang berkeliaran di terminal-terminal, pelabuhan, stasiun dan perempatan-perempatan jalan. Keberadaan mereka kini semakin meresahkan masyarakat dengan aksi perampokan dan penodongan dengan mayoritas korbannya adalah perempuan. Demikian pula dengan meningkatnya pengemis, dengan penampilan khas ‘orang miskin’ yang bertebaran di pemukiman-pemukiman penduduk untuk meminta sedekah. Benarkah pemandangan di atas merupakan gambaran bahwa negeri ini miskin?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dari sebuah observasi mengenai aktivitas dan latar belakang anak-anak jalanan dan pengemis yang dilakukan di beberapa tempat yang berbeda, jawaban yang diperoleh dari hasil beberapa observasi tersebut sangat menarik, adalah bahwa sesungguhnya tidak semua alasan untuk menjadi anak jalanan adalah keterpaksaan yang disebabkan faktor ekonomi yang rendah. Terbukti dari hampir seluruh peserta dari Rumah Belajar / Rumah Singgah Anak Jalanan memiliki orang tua yang ekonominya di atas rata-rata, bersekolah dan memiliki rumah. Begitu pula anak-anak jalanan yang berada di perempatan dan terminal-terminal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ternyata menjadi anak jalanan adalah pilihan yang menyenangkan bagi mereka. Walau pun ada sebagian yang didorong oleh faktor ekonomi yang masih di bawah taraf sejahtera. Namun tak sedikit juga yang bermotif iseng, diajak teman, senang dapat uang sendiri karena bisa membeli apa pun yang diinginkan. Tak heran jika kita menemui beberapa anak jalanan yang masuk &lt;em&gt;mall&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;atau supermarket untuk membeli jajanan yang biasa dibeli oleh anak-anak orang kaya. Yang lebih memprihatinkan, rokok sudah menjadi teman ketika anak-anak itu ketika beristirahat. Tak berbeda dengan gelandangan dan pengemis. Tidak semua yang menjadi pengemis itu kekurangan secara ekonomi. Ada sebuah perkampungan yang cukup makmur, dengan rumah-rumah permanen, memiliki perabot rumah lengkap dengan barang-barang elektronik dan anak-anaknya pun sekolah. Tapi ternyata mata pencaharian mayoritas penduduk kampung tersebut menjadi pengemis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kegiatan anak-anak jalanan dan pengemis di jalan-jalan itu bukan hanya sekedar mencari sesuap nasi atau pun untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari, akan tetapi lebih dari itu, yaitu sebagai “profesi”, bahkan di beberapa tempat ada orang-orang yang mengorganisir dan melakukan pelatihan keahlian mencopet, meminta-minta dan mengamen, serta mengadakan perlengkapan yang dibutuhkan untuk aktivitas tersebut, baik dengan menggunakan sistem jual beli atau pun sewa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;h3 style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Program Miskin&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Setiap program pemerintah untuk rakyat miskin, pasti laris manis. Menjadi fenomena menarik ketika masyarakat bejubel antre untuk mendapatkan sumbangan bagi keluarga miskin. Program-program pemerintah berupa Sumbangan Langsung Tunai (SLT), konvensi minyak tanah ke gas, Asuransi Kesehatan bagi Keluarga Miskin (Askeskin), Beras untuk masyarakat miskin (Raskin), dan lain sebagainya. Setiap peluncuran program “miskin” dari pemerintah disosialisasikan, masyarakat sibuk menempelkan predikat miskin bagi diri dan keluarganya. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah memang kemiskinan itu sendiri yang menyebabkan rakyat Indonesia menjadi miskin?, ataukah definisi miskin itu sendiri yang masih belum menemukan titik temu, sehingga orang dengan mudahnya mengaku miskin. Benarkah rakyat Indonesia mayoritas berada pada taraf “miskin”?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Coba kita lihat, sepanjang jalan protokol, berjejer bangunan pertokoan dan mall yang setiap hari dipadati pengunjung, lihatlah tempat-tempat hiburan berkelas yang tak pernah sepi dari tamu, tingginya angka penjualan tiket konser artis dunia yang bernilai jutaan rupiah, juga mobil-mobil mewah yang berderet sepanjang jalan-jalan di kota-kota besar yang telah menyebabkan kemacetan berkepanjangan, serta semakin larisnya produk-produk mewah yang dipajang di etalase-etalase pusat perbelanjaan. Dapatkah kita membuktikan bahwa sebagian dari orang-orang tersebut bukan bagian dari orang-orang yang berebut label miskin untuk mendapatkan jatah program untuk rakyat miskin dari pemerintah?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Jadi, sesungguhnya fenomema kemiskinan yang kerap kita saksikan, tidak sepenuhnya merupakan kemiskinan ekonomi dan harta. Karena mereka bukan miskin harta, melainkan miskin secara mental dan ideologi. Kemiskinan yang sudah kronis, karena telah dikonstruksi sejak jaman kolonial dan di rekontruksi dengan misi yang sama, tetapi dalam bentuk wajah yang berbeda. Indikasinya sangat jelas, fakta empiris yang kemudian dijustifikasi menjadii sebuah kelaziman yang tidak lazim secara akal sehat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;h3 style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pemiskinan Melalui Kebijakan&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kalau pada zaman Rosulullah, ketika ada pengemis yang meminta-minta, maka yang beliau berikan bukan berupa uang (hasil jadi), melainkan kapak dan nasihat (alat untuk mencari uang). Berbeda dengan masa sekarang. Ketika menghadapi permasalahan sosial dan kemiskinan, pemerintah Indonesia menyiapkan program Bantuan Langsung Tunai (BLT) untuk rakyat. Begitu pula ketika menghadapi musibah, penanggulangan yang diberikan lebih banyak berupa barang-barang habis pakai. Solusi bagi permasalahan negeri ini, hampir semua program yang digulirkan berbentuk solusi instan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Rakyat Indonesia telah diajarkan menjadi miskin sejak kecil. Sejak di bangku sekolah, anak dididik menjadi buruh / pekerja dengan motto ‘&lt;em&gt;sekolah untuk kerja&lt;/em&gt;‘. Kita semua tahu bahwa yang namanya buruh, kesejahteraannya tergantung pada majikan, ditentukan oleh penguasa kapital. Anak telah dibiasakan dengan pilihan pasrah pada ‘pilihan ganda’, dan tidak diarahkan untuk menjadi kreatif dalam menghadapi persoalan kehidupan. Melalui kebijakan pendidikan inilah program awal pemiskinan dimulai.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Di sisi lain, keberpihakan pemerintah Indonesia terhadap korporasi asing, gurita raksasa yang mengeksploitasi sumber daya alam dan sumber daya manusia dengan harga rendah, telah menyebabkan rakyat Indonesia miskin secara permanen, karena alamnya telah rusak, sedangkan keuntungannya pihak lain yang menikmati. Hanya dapat menanggung akibat kerusakannya tanpa ada perhatian serius dalam penanggulangannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Joseph Stiglitz, menulis buku &lt;strong&gt;Globalization and Its Discontens&lt;/strong&gt;, …globalisasi yang kini terus menerus digalakkan tampaknya hanya mengganti peran diktator gaya lama yang dikuasai para elite dengan diktator gaya baru, para saudagar uang. Untuk jutaan penduduk dunia, globalisasi tidak pernah bermanfaat. Bahkan, sebagai akibat globalisasi, jutaan orang hanya bisa menatap tanpa daya ketika sumber kehidupan mereka secara terencana dihancurkan dan masa depannya diobrak-abrik. (Kompas, Juni 2007).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;h3 style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Rekayasa Pemiskinan Global&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Rekayasa global yang dijalankan kapitalis dalam skenario hegemoni dunia, terutama di negara-negara berkembang untuk mengeruk sumber daya alam demi menggelembungkan kepala-kepala gurita raksasa Barat. Dua target bidik dalam operasi kapitalisasi global, pendidikan dan ekonomi. Keduanya adalah target paling strategis untuk merubah dunia. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tahap untuk penguasaan pusat syaraf ideologis adalah dengan membentuk sifat “malas” permanen pada Bangsa Indonesia secara sistemik. Karakter mudah terlena dengan kesenangan dan silau dengan gemerlap kehidupan menjadi kesempatan emas. Diciptakan manusia yang malas berpikir melalui sistem pendidikan. Dan diciptakan manusia yang malas bekerja melalui rekayasa ketergantungan ekonomi. Orang yang malas bekerja dipastikan kehidupannya tidak akan pernah maju. Dia terlena dalam kebodohan dan kesenangan semu karena kesadaran kritisnya telah terkikis. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Menjamurnya korporasi kapitalisme di Indonesia didukung oleh dua kekuatan besar. Kedua kekuatan publik ini yaitu; kebijakan pemerintah dan kampanye media massa. Sikap terbuka terhadap perubahan yang datang dari luar menjadi kesempatan bagi kapitalisme global untuk menjalankan program skenario besar kapitalisasi dunia. Misi kapitalisasi tersebut dipercepat dengan peran media massa dalam mengkampanyekan program-program mereka. Melalui tawaran kesenangan yang menggiurkan, para penganutnya lebih memilih segala sesuatu yang bersifat instans. Masih diakui bahwa media massa merupakan sarana paling efektif untuk merubah dan membentuk pola pikir masyarakat supaya apatis terhadap realitas. Inilah momen yang tepat untuk melakukan eksekusi kesadaran.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pepatah yang mengatakan bahwa “fakir dekat dengan kufur” rupanya dimanfaatkan dengan baik untuk merusak gudang amunisi negara-negara berkembang. Kejahatan korporasi bagaikan setan haus darah. Akibat kebijakan korporasi, setiap hari 24.000 orang di seluruh dunia mati kelaparan, puluhan ribu anak-anak seperti tercekik mati karena tidak mendapatkan pelayanan kesehatan. Akibat lanjutan dari kejahatan korporasi ini, lebih dari separuh penduduk dunia terperangkap kemelaratan dan hanya penghasilan di bawah dua dolar AS sehari yang tidak pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Jadi jelas, sistem ekonomi dunia masa kini hanya sekedar versi baru dari sistem eksploitasi manusia yang menghasilkan perbudakan sekaligus kemelaratan. Masyarakat kapitalisme global terjebak pada labirin persaingan yang tinggi. Persaingan yang ditularkan dari ranah modal. Perusahaan-perusahaan multinasional berlomba-lomba menciptakan strategi produksi dan pemasaran yang mampu memikat hati konsumen. Untuk memperkenalkan produk-produknya, perusahaan-perusahaan tersebut menggunakan iklan sebagai media promosi. Tawaran kesenangan semu yang menggiurkan, tentu merupakan sebuah jalan mulus menggaet mangsa. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Umat Islam seolah merasakan dunia ini adalah surga. Tampak tak ada surga lain yang seindah surga di dunia ini. Peran media dalam membentuk sifat konsumtif dan budaya hedonis sangatlah efektif. Gemerlap maya ini secara terus menerus dengan gencar dikampanyekan melalui media, diperkuat melalui kebijakan-kebijakan ekonomi yang seolah berpihak kepada masyarakat tetapi sebenarnya adalah program besar pemiskinan global dengan melakukan rekayasa ketergantungan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Banyak isu yang diciptakan untuk mewujudkan rekayasa ketergantungan digulirkan ke tengah masyarakat yang sedang dilanda krisis. Seperti isu terorisme, flu burung, HIV-AIDs, pemanasan global, tsunami, dan masih banyak lagi. Isu-isu tersebut sepintas tampak alamiah. Memproduksi “konsumsi” artinya menciptakan kebutuhan-kebutuhan artifisial. Masyarakat dikonstruksi secara sosial untuk mengelilingi diri mereka dengan barang-barang mewah, untuk memenuhi segala bentuk hasrat (prestise, status, simbol). Dengan hanya ditemani benda-benda di sekitarnya, individu dalam masyarakat cenderung mengisolasi dirinya dari lingkungan sosialnya. Sikap yang berkembang kemudian adalah “hedonisme” atau sikap mementingkan kesenangan diri sendiri tanpa perlu pemahaman apa itu tujuan sosial dan tujuan hidup bersama (Nee, Sisos 2007).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kapitalisme dibangun di atas fondasi sikap individualisme tak berjiwa. Jonathon Porrit dalam &lt;strong&gt;Seeing Green; The Politics of Explained&lt;/strong&gt; (1990) mengatakan bahwa kapitalisme global dibangun di atas landasan filsafat “materialisme tak berjiwa” (&lt;em&gt;mindless materialism&lt;/em&gt;) maksudnya sebuah keyakinan yang kering, yang meyakini bahwa kekayaan meterial sebagai sumber kebahagiaan sehingga menjadi tujuan hidup, dan tidak ada makna bagi kehidupan selain lewat pemenuhan materi. Pemiskinan global ini secara sistematis dimulai dengan menjadikan materi sebagai tolak ukur sehingga terjadi kesenjangan kelas antara Si kaya dan Si miskin, antara pengusaha dan karyawan, antara majikan dan buruh. Pada proses selanjutnya terjadilah pelaziman terhadap penindasan sosial. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kembali kepada pertanyaan awal, &lt;strong&gt;apakah negeri ini benar-benar miskin? Ataukah kita yang akan selamanya menjadikan negeri ini miskin dengan cara berpikir dan bertindak yang miskin?&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;strong&gt;sumber: voice of banten&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9068598759995211418-7995213078723325545?l=lanskap-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/7995213078723325545'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/7995213078723325545'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lanskap-artikel.blogspot.com/2008/10/negeri-miskin-catatan-dari-jalanan.html' title='Negeri Miskin, Catatan dari Jalanan'/><author><name>LANSKAP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16525646099308139572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_GeVrtHBSwVI/SNiCsaeAeTI/AAAAAAAAAz4/Pl5X__vx_Nc/S220/Logo+LANSKAP.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9068598759995211418.post-2171937930827804825</id><published>2008-10-07T05:31:00.000-07:00</published><updated>2008-10-07T05:33:04.510-07:00</updated><title type='text'>SELAMATKAN INDONESIA !</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Sejarah adalah kontinuitas antara masa lampau, masa sekarang dan masa depan. “Barang siapa memiliki masa sekarang yang lebih bagus dari masa lalunya, ia tergolong orang yang beruntung; bila masa sekarangya sama dengan masa lalunya, ia termasuk orang yang merugi; bila masa sekarangnya lebih buruk dari masa lampaunya, ia tergolong orang yang bangkrut.” Mengutip apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW mengenai pentingnya kesadaran sejarah, Amien Rais berharap Indonesia tidak termasuk bangsa yang bangkrut, sekalipun belum menjadi bangsa yang beruntung.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Dalam kesempatan memberikan kuliah umum yang diselenggarakan oleh keluarga alumni universitas gadjah mada (KUGAMA) di Hotel Permata Krakatau Cilegon Selasa (8/7) lalu, Amien mencermati bahwa apa yang dirasakan dan disaksikan dewasa ini pada hakekatnya dalam banyak hal merupakan pengulangan sejarah kolonial. Bangkitnya imperialisme ekonomi yang dilancarkan negara-negara Barat, negara-negara eks kolonialis, lewat apa yang dinamakan globalisasi dengan tiga institusi pilarnya seperti IMF, Bank Dunia dan WTO mengingatkan kita akan VOC (&lt;i&gt;Vereenigde Oost-Indische Compagnie&lt;/i&gt;) dan Pemerintah Belandanya yang mulai menjajah dengan menguasai kepulauan dan menguras hasil buminya terutama rempah-rempah dan perkebunan Indonesia. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Didampingi Alfitra Salam sebagai moderator, Amien mencoba menyampaikan bahwa di awal abad 20 ini telah terjadi fenomena korporatokrasi sistem global yang ditentukan oleh korporasi. Bagaimana mereka membangun kekuatan politik pemerintah, lingkaran militer, perbankan dan keuangan internasional, media massa dan kelompok intelektual prokemapanan untuk menerobos negara-negara berkembang dengan bantuan elite nasionalnya yang bersedia menjadi komprador atau pelayan kepentingan korporatokrasi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Hal ini tak ubahnya dengan apa yang dilakukan VOC yang telah menjadi “perusahaan swasta” terbesar di dunia dengan kekayaan yang demikian dahsyat untuk ukuran jaman itu dengan membangun kerjasama korporatokratik dari tiga pilar utamanya yakni VOC sendiri sebagai korporasi raksasa, kekuatan politik Pemerintah Belanda dan kekuatan militer Belanda yang selalu siap untuk menggebuk setiap rintangan yang dihadapi VOC.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Sejarah mencatat korporasi dulu dan sekarang bisa masuk ke Indonesia karena ada elit nasional yang membuka pintu. Sebagai misal Amangkurat I dan II yang menggantikan Sultan Agung sebagai raja Mataram justru mempermudah jatuhnya sebagian wilayah Jawa Barat ke tangan VOC. Ketika Amangkurat II diganti oleh Pemerintah Belanda dengan Pamannya, Pakubuwono I, konsesi tanah yang lebih luas lagi diberikan pada Pemerintah Belanda. Kerajaan Mataram terus mengkerut kecil, seluruh pulau Jawa telah jatuh ke tangan Belanda, kecuali daerah Jogjakarta dan Surakarta, itupun dipecah menjadi dua kerajaan, kesultanan dan kasunanan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Berdasarkan perjalanan sejarah, pada dasarnya kekuatan-kekuatan korporatokrasi di awal abad 21 ini tidak mudah, bahkan mustahil dengan gampang bisa mengacak-acak kedaulatan ekonomi bangsa Indonesia bila elit nasionalnya tidak membungkuk bahkan mungkin tiarap di depan berbagai korporasi internasional itu. Membongkar mentalitas inlander yang sudah melekat itulah yang saat ini dirasakan sangat sulit. Amien mencontohkan, banyak pemimpin bangsa yang ‘‘ketakutan’’ dan merasa panas dingin karena Presiden Bush akan mampir ke Indonesia di akhir 2006. Pengamanan yang diberikan kepada Presiden AS yang dinegerinya sendiri sudah tidak populer itu sungguh berlebih dan sekaligus agak memalukan. Tidak ada negara manapun &lt;span&gt; &lt;/span&gt;di dunia yang menyambut Presiden Bush seperti maharaja diraja, kecuali Indonesia di masa kepemimpinan Susilo B. Yudhoyono. Seolah Indonesia telah menjadi &lt;i&gt;vazal&lt;/i&gt; atau negara protektorat A.S.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Dalam sambutannya Suripno mengatakan, tema “Selamatkan Indonesia!” dalam kuliah umum KAGAMA ini diambil dari judul buku terbaru karya Amien Rais yang menawarkan agenda yang perlu dikerjakan bersama oleh bangsa ini. Buku ini mengingatkan kita bahwa dalam banyak hal apa yang dialami bangsa dalam beberapa dasawarsa terakhir ini sesungguhnya merupakan pengulangan belaka dari apa yang kita alami pada zaman penjajahan kompeni dan pemerintahan Belanda dimasa lalu. Perbedaan antara tempo &lt;i&gt;doeloe&lt;/i&gt; dengan masa sekarang hanyalah dalam bentuk atau format belaka. Dahulu pendudukan fisik dan militer Belanda menyebabkan bangsa Indonesia kehilangan kemerdekaan, kemandirian dan kedaulatan politik, ekonomi, sosial, hukum dan pertahanan. Sedangkan sekarang ini pendudukan fisik dan militer asing itu secara resmi sudah tidak ada dan tidak kelihatan. Tetapi sebagai bangsa kita telah kehilangan kemandirian, dan sampai batas yang cukup jauh, kita juga sudah kehilangan kedaulatan ekonomi. Dalam banyak hal, bangsa Indonesia tetap tergantung dan menggantungkan diri pada kekuatan asing.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Dalam buku ini Amien mencoba mencari jawaban atas masalah besar yang senantiasa dihadapi oleh bangsa ini; kemiskinan, terbelakang dan tercecer dalam derap kemajuan bangsa-bangsa lain. Suatu bangsa dan pemerintah yang sudah kehilangan kemandirian, tidak akan bisa lagi membedakan antara patron dan klien, antara majikan dan pelayan, dan antara tuan dan budak. Amien mencoba membedah masalah mendasar bangsa, agar kita tidak terus menerus terjebak dalam kesemrawutan mental dan akan seakan bingung tentang jati diri kita sendiri: Jati diri sebagai bagsa yang besar, merdeka, berdaulat, mandiri dan mampu menentukan nasib sendiri tanpa bergantung pada bangsa lain atau kekuatan asing.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Bangsa yang bijak adalah bangsa yang yang bisa melihat perjalanan bangsa lain untuk menjadi pelajaran. Banyak negara yang sukses memukul balik gelombang globalisasi dan politik seperti Iran, India, China, Malaysia, Argentina, Venezuela, Bolivia dan lain sebagainya.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Negara-negara yang bermartabat ini berhasil menjadi tuan rumah di negeri sendiri, berkat sukses melakukan dekolonisasi mental dan sukses membangun sistem sosial, ekonomi dan politik yang lebih kurang mandiri, merdeka dan berdaulat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Selain mengkritisi, secara &lt;i&gt;Fair&lt;/i&gt;&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Amien juga memberikan apresiasi beberapa keberhasilan pemerintahan yang sekarang. Sebut saja perdamaian di Aceh Nanggroe Darussalam, stabilitas politik nasional dapat dikatakan relatif tidak ada gerakan-gerakan yang termasuk kategori “pemberontakan” terhadap NKRI, perang terhadap &lt;i&gt;illegal logging&lt;/i&gt;, narkoba dan perjudian mulai menampakkan hasil awal yang cukup menjanjikan, citra politik Indonesia sebagai negara yang cepat belajar dan melaksanakan demokrasi cukup bagus dipanggung internasional dan pelaksanaan HAM yang relatif baik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Namun Amien menunjuk kelemahan fundamental yang diderita oleh pemerintahan sekarang adalah makin menjulangnya korupsi yang paling berbahaya, yaitu korupsi yang telah menyandera negara, akibat tekanan kekuatan korporatokrasi yang memang cukup dahsyat, sehingga bangsa ini seperti kehilangan harapan untuk dapat keluar dari lingkaran kemiskinan, pengangguran, dan keterbelakangan tanpa ujung. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Melalui bukunya Amien juga menawarkan banyak gagasan sebagai solusi bangsa ini, seperti misalnya harus ada turun mesin kepemimpinan dan keberanian untuk menyelamatkan sumber daya alam ini yang terus dijadikan kenduri massal oleh bangsa asing. Salah satu diantaranya adalah dengan melakukan negoisasi ulang kontrak karya dengan perusahaan-perusaha an asing yang bercokol di negeri ini. Amien mencontohkan keberanian pemerintah Bolivia untuk untuk mengaudit investasi dan keuntungan semua perusahaan migas asing dinegaranya untuk menentukan pajak, jumlah royalti dan ketentuan operasi di masa depan. Dan migas&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;hanya boleh diekspor setelah kebutuhan domestik dipenuhi. Pemerintah membuat kontrak baru secara sepihak dan memberikan waktu enam bulan kepada perusahaan asing untuk mempelajarinya, bila tidak setuju dipersilahkan meninggalkan Bolivia. Dan apa yang terjadi, sehari sebelum batas waktu yang ditentukan, semua korporasi asing yang telah beroperasi di Bolivia memilih tunduk pada kemauan pemerintah yang hakikatnya kemauan rakyat Bolivia. Amien mengatakan, jika pemerintah kita berani meniru langkah tersebut maka akan mendapatkan keuntungan berpuluh-puluh milyar dolar AS lebih banyak per tahunnya. *** (Wira) &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;a rel="nofollow"&gt;www.friendster. com/bantenmudama gazine&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9068598759995211418-2171937930827804825?l=lanskap-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/2171937930827804825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/2171937930827804825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lanskap-artikel.blogspot.com/2008/10/selamatkan-indonesia.html' title='SELAMATKAN INDONESIA !'/><author><name>LANSKAP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16525646099308139572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_GeVrtHBSwVI/SNiCsaeAeTI/AAAAAAAAAz4/Pl5X__vx_Nc/S220/Logo+LANSKAP.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9068598759995211418.post-5453417216686533750</id><published>2008-10-07T05:27:00.000-07:00</published><updated>2008-10-07T05:30:40.490-07:00</updated><title type='text'>PENGABDIAN ALA MOCHTAR RIADY</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Lippo Karawaci, Tangerang, Banten menjadi saksi diresmikannya sebuah lembaga riset kanker swasta yang pertama di Indonesia bernama Mochtar Riady Institute for Nanotechnology (MRIN). Setelah sebelumnya mendirikan Rumah Sakit dan Sekolah Pelita Harapan, apa yang dilakukan Dr. Mochtar Riady ini sempat menjadi pembicaraan banyak orang, seperti kita ketahui Founder of Lippo Group ini sudah memiliki begitu banyak cabang bisnis baik dibidang jasa keuangan, properti, pembangunan infrastruktur maupun bidang industri. Namun&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;setelah 50 tahun menjadi bankir, arah bisnisnya akhir-akhir ini terkesan berubah, ia membidik kesehatan dan pendidikan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;span&gt;            &lt;/span&gt;“Pada usia senja ini, saya ingin berbuat sesuatu yang dapat dikenang oleh masyarakat dan bangsa Indonesia. Kesehatan dan Pendidikan menjadi prioritas karena saya rasa inilah yang akan menjadi kunci bangsa Indonesia menghadapi persaingan global masa depan,” ujarnya saat tampil sebagai pembicara pada acara 4&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt; Leadership Mentoring Sessions The Ary Suta Center (ASC) hari Kamis (7/8) yang lalu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;span&gt;            &lt;/span&gt;Mantan ketua Bapepam, I Putu Gede Ary Suta yang langsung menjadi moderatornya mengatakan, ASC ingin membangun kompetensi dan ikut membangun pemimpin-pemimpin yang mempunyai wawasan yang luas. Mentoring ini diarahkan untuk kecerdasan. Tiga hal yang mendasari kecerdasan manusia adalah technical skill, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;cognitive&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt; ability dan emotional intelligent. ASC akan mengambil inisiatif apa saja untuk perbaikan dunia, termasuk menyelenggarakan Leadership Mentoring Sessions ini. Selain mengundang Mochtar Riady sebagai Power Mentoring, kegiatan rutin ini juga pernah menghadirkan Sutiyoso, Wiranto dan Sri Sultan Hamengku Buwono.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;span&gt;            &lt;/span&gt;Pentingnyan kecerdasan ini pula yang kemudian ingin disampaikan Mochtar Riady ditengah para peserta yang berasal dari berbagai unsur masyarakat. Indonesia memiliki segalanya yang diinginkan oleh dunia, tetapi negara ini kurang ide sehingga sulit untuk maju dibanding negara lainnya. Bagaimanapun juga menjual otak lebih tinggi nilainya dibandingkan menjual otot. Inggris yang menjadi penguasa dunia di abad ke 19 harus rela membaginya saat Amerika menemukan electricity. Kemudian timbul revolusi saat micro electronic menjadikan abad 20 era digital yang menumbangkan komputer. Amerika menemukan bahan baku bernama silicon yang dapat membuat semua menjadi kecil.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;span&gt;            &lt;/span&gt;Mochtar Riady menceritakan saat itu ia berkunjung ke Jepang dan melihat komputer sebesar meja dengan harga US$ 1,2 juta dan sekarang apa yang ia lihat dulu telah berubah menjadi Pocket Calculator dengan harga US$ 1 saja. Semua itu karena Silicon Chip yang membuat Amerika begitu berkuasa. Ditengah para audience ia mampu memaparkan Nano Technology yang sedang dikembangkannya sebagai salah satu pengobatan penyakit, selain berguna di bidang komputer, tehnology ini berguna juga bagi dunia kedokteran. Mochtar Riady bahkan berani memprediksi kalau persoalan BBM dapat diatasi dalam 5 tahun kedepan, pasalnya semua elemen dari BBM tersebut adalah carbon dengan rantai carbon-carbon yang berbeda. Technology akan memecahkannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;span&gt;            &lt;/span&gt;Keyakinannya itu membuatnya rela berinvestasi senilai US$ 100 juta dan mengeluarkan biaya operasional sekitar US$ 4 juta per tahunnya. Sementara ini MRIN memfokuskan diri pada Molecular Epidemiology, Proteomic, Single Nucleotide Polymorphisms (SNP), Immunology, dan Genomic. “Kanker hati menjadi pilihan penelitian utama kami karena penyakit ini paling sering ditemui didunia dan menyebabkan kematian ratusan ribu orang setiap tahunnya, diharapkan ada penemuan-penemuan baru yang bermanfaat bagi pasien kanker di Indonesia” tandas Mochtar Riady. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;span&gt;            &lt;/span&gt;Pria yang lahir pada 12 Mei 1929 di Malang, Jawa Timur ini tidak hanya membahas soal kesehatan, ia juga membahas berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat. Termasuk bercerita tentang dirinya bagaimana ia membangun Bank Buana menjadi besar pada tahun 1966, kemudian pindah ke Bank Panin pada tahun 1971 dan dalam lima tahun menjadikan bank tersebut menjadi lebih besar dari Bank Buana. Lalu meninggalkannya untuk bergabung dengan BCA yang saat itu hanya memiliki satu kantor, 27 orang karyawan, dan dalam status diskors. Ia bangun kembali BCA dari nol hingga lebih besar dari Bank Panin. Bersamaan dengan kesuksesan itu ia pun membangun Lippo Bank yang merupakan cikal bakal Grup Lippo.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Grup Lippo berkembang hingga memiliki lebih dari 50 anak perusahaan dan karyawan lebih dari 50 ribu orang. Bisnisnya terus meluas di Indonesia bahkan sampai ke Hongkong, Guang Zhou, Fujian dan Shanghai. Semua ini tidak dapat dipungkiri berkat tangan dingin dari seorang Mochtar Riady yang juga mendapat julukan The Magic Man of Bank Marketing dari kalangan perbankan nasional.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Di tiga kota yang telah dibangun, yaitu Lippo Cikarang, Bekasi di timur Jakarta, Bukit Sentul, Bogor di selatan Jakarta, dan Lippo Karawaci, Tangerang di barat Jakarta, Mochtar Riady selalu membangun terlebih dahulu Sekolah, Rumah Sakit, Shopping Mall, fasilitas umum dan fasilitas sosial lainnya baru dijual. “Berbeda dengan pengembang lainnya yang membangun dulu jalan seadanya, penerangan dan fasilitas lain seadanya, baru setelah terjual mereka membangun itu semua. Kita tidak, kita ciptakan dulu persyaratan kehidupan manusia baru dijual. Commit maintanance terhadap kebersihan adalah prioritas utama kami. Sekarang pengembang lain sudah terprovokasi dan melakukan hal yang sama,” katanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Provokasi ini pun pernah ia lakukan saat menjadi trigger di dunia perbankan, ia adalah bankir pertama yang memakai komputer. Bankir pertama yang menciptakan tabungan tahapan dan Bankir pertama yang mencontoh seperti Citibank. Faktor-faktor ini yang kemudian memaksa Bank-bank lain menyesuaikan diri dengan melakukan upgrade.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Kini dengan mendirikan Universitas Pelita Harapan, ia ingin memprovokasi universitas lainnya untuk menjadi World Class University baik dari kurikulum, metodhe, fasilitas sampai akademik, “Saya akan memulainya dengan satu bidang saja, yaitu sekolah kedokteran, bekerjasama dengan singapura dan setiap tahun akan merubah kelas serta menjadi pusat sekolah kedokteran di Indonesia. ini sangat bermanfaat, setiap tahun satu juta pasien berobat ke luar negeri, empat ratus ribu diantaranya berobat ke Singapura, dan menghabiskan satu milyard US$. Kita kekurangan dokter spesialis atau dokter yang baik, dokter baru yang dihasilkan masih terlalu sedikit” ujarnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Mochtar Riady juga mengatakan bahwa ia telah meminta James untuk membenahi kampus Universitas Indonesia (UI), karena bagaimanapun juga UI adalah tulang punggung bangsa Indonesia. UI dan pemerintah adalah faktor yang paling utama. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Apa yang dilakukan Mochtar Riady dan anaknya James T. Riady saat itu mengundang perhatian media massa, mereka berani membangun Rumah Sakit kelas atas di Lippo Karawaci dan menggandeng Gleneagles Hospital yang berbasis di Singapura. Kemudian mereka mendirikan Sekolah Pelita Harapan yang mendapat sorotan karena biayanya menggunakan US$ dan dinilai mahal dengan mendatangkan guru-guru dari Amerika. Tapi keduanya beranggapan bahwa itu semua untuk memberikan fasilitas yang terbaik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Menurut Mochtar Riady, Universitas Pelita Harapan memberikan 20% kuota bea siswa kepada mereka yang tidak mampu dengan menanggung semua biaya pendidikan melalui Yayasan Pelita Harapan, “mekanismenya yayasan yang menanggung biaya ke universitas sehingga tidak mengganggu operasional dan secara pembukuan tetap berjalan sebagaimana mestinya,” terangnya sambil mempersilahkan James yang juga hadir pada acara tersebut menjelaskan program 1000 desa berkualitas, membuka puluhan ribu lapangan kerja dan memberikan support terhadap anak-anak bangsa yang berkualitas untuk mencapai cita-citanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Mochtar Riady berpesan bahwa manusia bisa berkembang bila mempunyai keyakinan diri. Ia juga memberikan tipsnya bahwa pengusaha itu ada tiga golongan dalam kemampuannya menjual yaitu: Third Class (penjual ada barang, pembeli butuh barang), Second Class (penjual tidak punya barang, pembeli butuh barang) dan First Class (penjual tidak punya barang, pembeli tidak butuh barang).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Mengakhiri acara tersebut, Ary Suta mengatakan bahwa Mochtar Riady memiliki visi yang jauh ke depan, pengetahuannya yang luas tidak membuatnya sombong, ia bahkan cenderung rendah hati dengan mengatakan dia tahu bahwa dia tidak tahu. Paparan Mochtar Riady mengkonfirmasi terhadap kepemimpinan dimana pemimpin harus dapat membangun setting managerialnya, bukan mengikuti setting orang lain. Konteks kepemimpinan harus berani merubah konsep, mengedepankan kejujuran, rendah hati dan memiliki empathy. Sesuai dengan misi The Ary Suta Center yang selalu mencetak value untuk orang lain, rencananya pada bulan September mendatang akan hadir sebagai Power Mentoring Ketua DPR Agung Laksono. *** (Wira).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:78%;" &gt;sumber: kabarbanten@yahoo.co.id&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9068598759995211418-5453417216686533750?l=lanskap-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/5453417216686533750'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/5453417216686533750'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lanskap-artikel.blogspot.com/2008/10/pengabdian-ala-mochtar-riady.html' title='PENGABDIAN ALA MOCHTAR RIADY'/><author><name>LANSKAP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16525646099308139572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_GeVrtHBSwVI/SNiCsaeAeTI/AAAAAAAAAz4/Pl5X__vx_Nc/S220/Logo+LANSKAP.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9068598759995211418.post-7547205595238500920</id><published>2008-10-07T05:20:00.000-07:00</published><updated>2008-10-07T05:24:20.563-07:00</updated><title type='text'>TRANSFORMATIONAL LEADERSHIP  AGUNG LAKSONO</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Ditengah banyaknya kepemimpinan yang melibatkan suatu proses pertukaran atau biasa disebut dengan kepemimpinan transaksional, Agung Laksono masih berani bicara konsep kepemimpinan transformasional disela acara Leadership Mentoring Sessions The Ary Suta Center di bilangan prapanca, Jakarta Selatan, Kamis (4/9).&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Menurut Agung Laksono, DPR tidak hanya dituntut menjalankan fungsinya sebagai Legislatif, menyusun Budget dan melakukan Pengawasan, tetapi kini masyarakat menginginkan DPR lebih transparan. Masyarakat bahkan ingin ikut terlibat dalam mengambil keputusan. Di awal kepemimpinannya pada akhir 2004, pria kelahiran Semarang, 23 Maret 1949 ini menghadapi situasi yang penuh gonjang ganjing, dimana masyarakat menyoroti 3 hal, yaitu bagaimana sikap DPR dalam menyikapi isu-isu yang berkembang, bagaimana perilaku dari anggotanya, visi misinya, konsepnya, moralitasnya, dan bagaimana menjalankan kepemimpinannya.&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;  &lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Untuk itu kepemimpinan transformasional sangat penting dimiliki oleh setiap anggota DPR, keempat faktor itu disebut dengan &lt;i&gt;idealized influence, inspirational motivation, intellectual stimulation&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;individual consideration&lt;/i&gt;. Namun Ketua DPR RI periode 2004-2009 ini mengingatkan untuk menjadi pemimpin transformasional yang efektif dibutuhkan suatu proses dan usaha yang sungguh-sungguh dari para anggota DPR itu sendiri, mereka harus dapat melakukan yang terbaik, memberikan teladan, selalu memotivasi dan mengembangkan semangat kerjasama, mempunyai visi yang jelas dan meyakinkan, serta memiliki kontribusi yang tinggi dalam melakukan perubahan dengan gagasan-gagasan baru. &lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;  &lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Menanggapi fenomena buruknya moralitas beberapa anggota DPR yang ada saat ini, Agung Laksono yang juga menjabat sebagai wakil ketua umum Partai Golkar menyatakan bahwa anggota DPR adalah representatif dari masyarakat yang sebenarnya, kalau di DPR banyak anggota yang tidak benar perilakunya, berarti itu cerminan dari perilaku masyarakat itu sendiri, karena bagaimanapun juga DPR tidak merekrut anggota, masyarakatlah yang merekrut mereka, masyarakat yang memilihnya. Sedangkan syarat calon legislatif memiliki standar yang berbeda antara kelompok masyarakat yang diwakili partai yang satu dengan yang lainnya. Di partai Golkar misalnya, menurut Agung, untuk menjadi seorang calon legislatif harus memiliki kejujuran, kompetensi dan tidak bermasalah hukum. Faktor lain tentu saja harus populer atau memiliki pendukung yang kuat. Kekalahan beberapa calon pemimpin&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;daerah yang berasal dari partai Golkar juga disebabkan oleh adanya pemilihan dari internal partai tanpa melakukan polling di masyarakat siapa yang paling populer.&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;  &lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Ditegaskan pula bahwa di Golkar tidak ada penjegalan, saat ini yang diterapkan oleh partai berlambang beringin itu adalah sistem suara terbanyak sehingga nomor urut sebenarnya tidak berpengaruh, penentuan final rekruitmen calon legislatif bukan pada pemimpin partai tapi dikembalikan kepada rakyat melalui suara terbanyak. Terobosan kebijakan ini memang menyebabkan sekitar 3 sampai 5 persen calon legislatif&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;mengundurkan diri. &lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;  &lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Mengakhiri paparannya, Agung berpesan bahwa untuk menghadapi berbagai masalah sesungguhnya menjadi wahana yang efektif untuk meningkatkan jiwa kepemimpinan yang baik. Secara filosofi Agung menjelaskan bahwa kepuasan dalam hidupnya bukanlah karena kesuksesan meraih berbagai jabatan, kepuasan yang paling ia rasakan yaitu ketika ia bisa berhenti merokok. Karena melawan diri sendiri itu paling penting, banyaknya kegagalan yang dialami para pemimpin bangsa disebabkan karena tidak mampu melawan diri sendiri. *** (Wira).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;sumber:www.bantenmuda.multiply.com&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9068598759995211418-7547205595238500920?l=lanskap-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/7547205595238500920'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/7547205595238500920'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lanskap-artikel.blogspot.com/2008/10/transformational-leadership-agung.html' title='TRANSFORMATIONAL LEADERSHIP  AGUNG LAKSONO'/><author><name>LANSKAP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16525646099308139572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_GeVrtHBSwVI/SNiCsaeAeTI/AAAAAAAAAz4/Pl5X__vx_Nc/S220/Logo+LANSKAP.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9068598759995211418.post-7860306873947524999</id><published>2008-10-07T05:14:00.000-07:00</published><updated>2008-10-07T05:19:05.738-07:00</updated><title type='text'>MENGUKUR KINERJA PRESIDEN</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Pemilu 2009 semakin dekat. Hiruk pikuk pesta demokrasi lima tahunan ini mulai terasa di hampir seluruh denyut kehidupan masyarakat Indonesia. Seolah tak mau ketinggalan, stasiun televisi pun berlomba meraih posisi terdepan dalam menayangkan informasi serta kabar terkini tentang Pemilu 2009. Berbagai acara berita, debat maupun talkshow tentang Pemilu 2009 mulai bermunculan di televisi. Namun program-program tayangan ini umumnya memiliki pola yang hampir sama yakni memberi ruang kepada partai-partai untuk menyampaikan misi dan visinya atau dengan kata lain mengkampanyekan program dan janji mereka.&lt;/span&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;Lain halnya dengan Astro Awani. Saluran berita dan informasi yang kerap memperoleh penghargaan jurnalistik bergengsi ini meluncurkan program talkshow jelang Pemilu 2009 bertajuk Mengukur Kinerja Presiden (MKP). Namun, alih-alih menampilkan janji para politikus di masa mendatang , Astro Awani justru mengajak pemirsa kembali ke belakang menuju Pemilu 2004. Yang disasar adalah janji eksekutif, dalam hal ini pemerintahan &lt;span class="yshortcuts"&gt;Presiden Susilo Bambang Yudhoyono&lt;/span&gt; dan Wakil Presiden &lt;span class="yshortcuts"&gt;Jusuf Kalla&lt;/span&gt; serta &lt;span class="yshortcuts"&gt;kabinet Indonesia Bersatu&lt;/span&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;Sesuai namanya, acara berdurasi 60 menit ini akan menyoroti performa Kabinet Indonesia Bersatu di bawah pimpinan presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Sejauh manakah janji yang mereka berikan saat kampanye dulu terealisasikan? Apa permasalahan yang dihadapi oleh kabinet Indonesia Bersatu? MKP menghadirkan suatu sudut pandang baru yang mungkin tidak akan Anda temui di program serupa di stasiun televisi lain. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;“Melalui program ini kami ingin memberi gambaran pada pemirsa apa saja yang belum dan sudah dilakukan &lt;span class="yshortcuts"&gt;Presiden SBY&lt;/span&gt; yang telah memimpin negeri ini selama kurang lebih 4 tahun. Dahulu SBY - JK pernah mengumbar janji pada rakyat saat kampanye atau di masa-masa awal pemerintahan. Nah, sekarang kita lihat janji itu dilaksanakan atau tidak”, ujar Rizal Mustary, Editor Executive Astro Awani. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;“Melalui MKP kami bermaksud memberikan sudut pandang yang lain terhadap Pemilu 2009. Bagaiman janji presiden terpilih kini diukur dan dikupas realisasinya. Sebuah kontrol sosial yang baik bagi pemerintahan. Program ini juga bisa dijadikan warning bagi presiden terpilih 2009, bahwa akan ada sebuah program yang akan mengukur kinerja mereka saat masa jabatan mereka akan selesai nanti”, terang Riza Primadi, editor in chief Astro Awani. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;“Selain itu MKP merupakan sebuah tayangan yang idealis dan terbebas dari tuntutan pihak manapun karena kami tidak terjebak oleh tuntutan rating dan share layaknya TV swasta lainnya. Kami juga tidak dikejar target iklan pemilu ataupun blocking time dari partai yang kini mungkin sedang terjadi di TV swasta. MKP murni program yang didesain untuk kepentingan pemirsa untuk mendalami lebih jauh apa yang telah dilakukan presiden selama ini, sebagai pedoman atau bekal pemirsa untuk menjatuhkan pilihan di Pemilu 2009 nanti”, tambah Riza lagi. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;Talkshow MKP berlangsung dengan pasing cepat, dinamis, dengan narasumber yang kompeten. MKP didesain menjadi sebuah talkshow serius dengan topik berat, namun tampil dinamis dan memikat dipandu oleh 2 host andalan Astro Awani Prima Genuita dan Cindy Agustina secara bergantian. Panggung MKP senantiasa menghadirkan dua kubu tetap. Kubu pertama diisi dua orang perwakilan pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu. Perwakilan tetap di kubu ini adalah Dr. Andi Mallarangeng, juru bicara Kepresidenan yang dalam setiap episodenya didampingi menteri yang terkait dengan isu yang dibahas. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;Kubu seberangnya diisi panelis pembahas dari kalangan akademisi atau pengamat dari lembaga studi. Mereka akan mengkritisi kebijakan pemerintah baik level policy making maupun tataran implementasinya. Panelis tetap adalah Dr. &lt;span class="yshortcuts"&gt;Anies Baswedan&lt;/span&gt;, Rektor Universitas Paramadina. Dalam setiap episode ia akan didampingi oleh panelis tamu yang kompetensinya disesuaikan dengan topik yang dibahas. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;Untuk memperkaya talkshow ini, dihadirkan footage dokumentasi SBY - JK dalam setiap kampanye resmi, pernyataan pada awal dan 100 hari pemerintahan, serta data-data ilmiah yang dihadirkan dalam bentuk grafis. Para penonton yang terdiri dari akademisi serta praktisi terkait dengan topik yang dibahas juga berhak memberikan pertanyaan atau pernyataan terhadap kedua belah pihak. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;Mengukur Kinerja Presiden menjadi satu program talkshow unggulan dari Astro Awani yang akan hadir mulai 22 September 2008, pukul 22.00 WIB, setiap hari. Terbagi menjadi 13 episode yang dihadiri oleh 12 &lt;span class="yshortcuts"&gt;menteri kabinet Indonesia Bersatu&lt;/span&gt; dan wakil presiden Jusuf Kalla sebagai narasumbernya. Selain itu program ini juga akan ditayangkan di lebih dari 20 TV lokal yang tergabung dalam JPMC ( Jawa Pos Media Corporation) dan TV lokal yang tergabung dalam Asosiasi jaringan Televisi lokal Indonesia ( ATVLI). ***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;sumber: kabar_banten@yahoo.co.id&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9068598759995211418-7860306873947524999?l=lanskap-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/7860306873947524999'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/7860306873947524999'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lanskap-artikel.blogspot.com/2008/10/mengukur-kinerja-presiden.html' title='MENGUKUR KINERJA PRESIDEN'/><author><name>LANSKAP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16525646099308139572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_GeVrtHBSwVI/SNiCsaeAeTI/AAAAAAAAAz4/Pl5X__vx_Nc/S220/Logo+LANSKAP.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9068598759995211418.post-4568814298732441830</id><published>2008-05-05T12:21:00.000-07:00</published><updated>2008-05-05T12:39:10.935-07:00</updated><title type='text'>Kebijakan Publik Di Banten Untuk Siapa?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Oleh : Khoirul Umam KF*&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;“Paradigma baru kebijakan publik adalah kembalinya peran dasar pemerintah sebagai public service, jadi baik penerimaan maupun pengeluaran berorientasi kepada pelayanan publik. Paradigma baru tidak bisa diterjemahkan sebagai penambahan beban bagi masyarakat.” Dr. H. Masykur Wiratmo (alm)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Kebijakan publik adalah keputusan-keputusan yang mengikat bagi orang banyak pada tataran strategis atau bersifat garis besar yang dibuat oleh pemegang otoritas publik. Sebagai keputusan yang mengikat publik maka kebijakan publik haruslah dibuat oleh otoritas politik, yakni mereka yang menerima mandat dari publik atau orang banyak, umumnya melalui suatu proses pemilihan untuk bertindak atas nama rakyat banyak.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Selanjutnya, kebijakan publik akan dilaksanakan oleh administrasi negara yang di jalankan oleh birokrasi pemerintah. Fokus utama kebijakan publik dalam negara modern adalah pelayanan publik, yang merupakan segala sesuatu yang bisa dilakukan oleh negara untuk mempertahankan atau meningkatkan kualitas kehidupan orang banyak.  Menyeimbangkan peran negara yang mempunyai kewajiban menyediakan pelayan publik dengan hak untuk menarik pajak dan restribusi; dan pada sisi lain menyeimbangkan berbagai kelompok dalam masyarakat dengan berbagai kepentingan serta mencapai amanat konstitusi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Setiap sistem politik pada dasarnya memproduksi kebijakan publik. Dan sistem politik itu bisa berupa negara, propinsi, kabupaten/kota, desa, bahkan RT dan RW. “Institusi” seperti ASEAN, PBB dan WTO adalah sistem politik juga, yang dapat disebut supra-negara.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Kebijakan publik tidak selalu dilakukan oleh birokrasi (saja), melainkan dapat pula dilaksanakan oleh perusahaan swasta, LSM ataupun masyarakat langsung. Misalnya, suatu sistem politik dapat memutuskan untuk memberantas nyamuk. Sistem politik itu dapat memerintah –tentu saja disertai kompensasi—sebuah perusahaan swasta untuk melakukan penyemprotan nyamuk.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Terminologi kebijakan publik menunjuk pada serangkaian peralatan pelaksanaan yang lebih luas dari peraturan perundang-undangan, mencakup juga aspek anggaran dan struktur pelaksana. Siklus kebijakan publik sendiri bisa dikaitkan dengan pembuatan kebijakan, pelaksanaan kebijakan dan evaluasi kebijakan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Bagaimana keterlibatan publik dalam setiap tahapan kebijakan bisa menjadi ukuran tentang tingkat kepatuhan negara kepada amanat rakyat yang berdaulat atasnya. Dapatkah publik mengetahui apa yang menjadi agenda kebijakan, yakni serangkaian persoalan yang ingin diselesaikan dan prioritasnya, dapatkah publik memberi masukan yang berpengaruh terhadap isi kebijakan publik yang akan dilahirkan. Begitu juga pada tahap pelaksanaan, dapatkah publik mengawasi penyimpangan pelaksanaan, juga apakah tersedia mekanisme kontrol publik, yakni proses yang memungkinkan keberatan publik atas suatu kebijakan dibicarakan dan berpengaruh secara signifikan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Kebijakan publik menunjuk pada keinginan penguasa atau pemerintah yang idealnya dalam masyarakat demokratis merupakan cerminan pendapat umum (opini publik). Untuk mewujudkan keinginan tersebut dan menjadikan kebijakan kebijakan tersebut efektif, maka diperlukan sejumlah hal: pertama, adanya perangkat hukum berupa peraturan perundang-undangan sehingga dapat diketahui publik apa yang telah diputuskan; kedua, kebijakan ini juga harus jelas struktur pelaksana dan pembiayaannya; ketiga, diperlukan adanya kontrol publik, yakni mekanisme yang memungkinkan publik mengetahui apakah kebijakan ini dalam pelaksanaannya mengalami penyimpangan atau tidak.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dalam masyarakat autoriter kebijakan publik adalah keinginan penguasa semata, sehingga penjabaran di atas tidak berjalan. Tetapi dalam masyarakat demokratis, yang kerap menjadi persoalan bagaimana menyerap opini publik dan membangun suatu kebijakan yang mendapat dukungan publik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Kemampuan para pemimpin politik untuk berkomunikasi dengan masyarakat untuk menampung keinginan mereka adalah satu hal, tetapi sama pentingnya adalah kemampuan para pemimpin untuk menjelaskan pada masyarakat kenapa suatu keinginan tidak bisa dipenuhi. Adalah naif untuk mengharapkan bahwa ada pemerintahan yang bisa memuaskan seluruh masyarakat setiap saat, tetapi adalah otoriter suatu pemerintahan yang tidak memperhatikan dengan sungguh-sungguh aspirasi dan berusaha mengkomunikasikan kebijakan yang berjalan maupun yang akan dijalankannya. Dalam pendekatan yang lain kebijakan publik dapat dipahami dengan cara memilah dua konsepsi besarnya yakni kebijakan dan publik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Terminologi kebijakan dapat diartikan sebagai pilihan tindakan diantara sejumlah alternatif yang tersedia. Artinya kebijakan merupakan hasil menimbang untuk selanjutnya memilih yang terbaik dari pilihan-pilihan yang ada. Dalam konteks makro hal ini kemudian diangkat dalam porsi pengambilan keputusan. Charles Lindblom adalah akdemisi yang menyatakan bahwa kebijakan berkaitan erat dengan pengambilan keputusan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Karena pada hakikatnya sama-sama memilih diantara opsi yang tersedia. Sedangkan terminologi publik memperlihatkan keluasan yang luar biasa untuk didefinisikan. Akan tetapi dalam hal ini setidaknya kita bisa mengatakan bahwa publik berkaitan erat dengan state, market dan civil society, Merekalah yang kemudian menjadi aktor dalam arena publik. Sehingga publik dapat dipahami sebagai sebuah ruang dimensi yang menampakan interaksi antar ketiga aktor tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dalam pelaksanaannya, kebijakan publik ini harus diturunkan dalam serangkaian petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis yang berlaku internal dalam birokrasi. Sedangkan dari sisi masyarakat, yang penting adalah adanya suatu standar pelayanan publik, yang menjabarkan pada masyarakat apa pelayanan yang menjadi haknya, siapa yang bisa mendapatkannya, apa persyaratannya, juga bagaimana bentuk layanan itu. Hal ini akan mengikat pemerintah (negara) sebagai pemberi layanan dan masyarakat sebagai penerima layanan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Fokus politik pada kebijakan publik mendekatkan kajian politik pada administrasi negara, karena satuan analisisnya adalah proses pengambilan keputusan sampai dengan evaluasi dan pengawasan termasuk pelaksanaannya. Dengan mengambil fokus ini tidak menutup kemungkinan untuk menjadikan kekuatan politik atau budaya politik sebagai variabel bebas dalam upaya menjelaskan kebijakan publik tertentu sebagai variabel terikat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Kekuasaan adalah kemampuan seseorang atau kelompok untuk mempengaruhi tingkah laku orang atau kelompok lain sesuai dengan keinginan dari pelaku (Miriam Budiardjo, 2002). Kekuasaan merupakan kemampuan mempengaruhi pihak lain untuk berpikir dan berperilaku sesuai dengan kehendak yang mempengaruhi (Ramlan Surbakti, 1992).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Di negara demokrasi, dimana kekuasaan adalah ditangan rakyat, maka jalan menuju kekuasaan selain melalui jalur birokrasi biasanya ditempuh melalui jalur partai politik. Partai politik selnjutnya mengirimkan calon anggota untuk mewakili partainya dalam lembaga legislatif. Dalam pemilihan umum legislatif secara langsung seperti yang terjadi di Indonesia dalam Pemilu 2004 maka calon anggota legislatif dipilih langsung oleh rakyat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Kekuasaan cenderung korup adalah ungkapan yang sering kita dengar, atau dalam bahasa Inggrisnya adalah Power tends to crrupct. Apa benar?? Memang belum tentu benar, tetapi ungkapan tersebut tentu telah melalui penelitian dan pengalaman bertahun-tahun.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Jangan heran jika banyak orang menyebut bahwa ‘kebijakan dibuat untuk dilanggar’. Dengan dalih untuk kepentingan umum, kini kebijakan sulit dipercaya, sebagian menduga kebijakan tak lain untuk memenangkan kelompok tertentu. Kebijakan publik adalah kalimat yang kini banyak diadopsi oleh semua gerakan masyarakat sipil.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dengan mengaitkan semua perjuangan sosial pada bendera kebijakan publik maka diharapkan ada kucuran uang yang mengalir. Kebijakan baru dibuat kini bisa dibayangkan sebagai ‘lahan’ garapan yang hanya memuaskan perut dan hawa nafsu kelompok tertentu. Bahkan parahnya mereka seakan tidak tahu malu mengeruk keuntungan dari kebijakan yang dibuat secara terang-terangan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Kita tahu bahwa kebijakan semata dibuat untuk memperbaiki semua keadaan, namun kini terbalik kebijakan hanya dijadikan tameng kelompok tertentu yang memiliki kepentingan lain di atas kebijakan yang dibuat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Fadillah Putra, Dosen Unibraw Malang dalam bukunya yang berjudul Kebijakan Tidak untuk Kepentingan Publik, mencoba mengungkapkan dengan tajam dan satir mengenai kebijakan publik meminggirkan peran rakyat. Menghadap kita pada kenyataan-kenyataan yang memunculkan berbagai pertanyaan, sesungguhnya kebijakan berpihak pada siapa?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Karena sudah banyak kebijakan yang lahir tanpa melalui pertimbangan kemanusiaan, dan buah dari kebijakan inilah yang membawa musibah bagi publik. Faktanya kebijakan publik bukannya untuk menentramkan, malah menyengsarakan. Sedangkan kebijakan yang menindas kaum miskin, seolah menjadi hal yang lumrah. Fadillah mencoba menggambarkan beberapa kebijakan pemerintah yang bukan mencari solusi namun menambah persoalan baru, baginya semua cara akan menjadi halal apabila banyak yang ‘menikmati’.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Pemikiran Fadillah ternyata cukup mewakili aspirasi dan realitas yang ada di Provinsi Banten, kita ingat menjelang Pemilu 2004 silam anggota DPRD Banten membuat kebijakan anggaran untuk dana Perumahan mereka, dana perumahan di ambil dari dana tak terduga yang seharusnya dana tersebut di peruntukkan sebagai dana taktis yang dapat di gunakan sewaktu-waktu apabila terjadi sesuatu musibah yang terjadi di masyarakat, di saat itu terjadi kebanjiran di wilayah labuan Pandeglang. Pemprov Banten tak berdaya karena dana tak terduga sudah di belanjakan untuk mengontrak rumah sendiri Pimpinan dan Anggota DPRD Provinsi Banten yang penuntasannya hingga kini masih “tebang pilih”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Melalui Lobi dan deal politik dengan para petinggi birokrasi memuluskan ambisi melalui produk kebijakan publik. Kalau sudah begini yang namanya money politics tentu menjadi kewajiban.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Kebijakan publik di sektor tata ruang sering kali tdak memiliki sensitivitas terhadap lingkungan hidup, entah terlampau teknokratik atau ekonomis. Sehingga andaikata kebijakan publik dilaksanakan dengan jujur dan tanpa KKN sekalipun, bila masih teknokratik, lingkungan akan tetap rusak, sebab semuanya dihitung secara ekonomis.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Seperti halnya dalam penentuan pusat Ibukota Kabupaten Serang yang lalu di Kecamatan Baros, sangat menafikan aspirasi masyarakat Kabupaten Serang yang selama ini menginginkan adanya pemekaran, di samping Baros sebagai kawasan hijau dan daerah resapan yang amat potensial merusak lingkungan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Kebijakan tata ruang dibuat untuk memberikan keuntungan pengusaha properti tertentu. Cukong-cukong tanah, si pengusaha properti memberi sogokan dan pemerintah memberi fasilitas kebijakan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Smith mengatakan ada empat variabel yang perlu diperhatikan dalam proses kebijakan. Pertama, idealized policy yakni pola interaksi yang secara ideal mendorong, mempengaruhi dan merangsang target grup dalam pelaksanaannya. Kedua, target grup, bagian dari policy stakeholders diharapkan sebagai perumus kebijakan yang dapat menyesuaikan pola perilaku dengan kebijakan yang dirumuskan. Ketiga, implementing organization adalah badan pelaksana atau unit birokrasi pemerintah yang bertanggung jawab dalam kebijakan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Keempat, environmenental factor, yaitu unsur-unsur dalam lingkungan yang mempengaruhi kebijakan (seperti aspek budaya, sosial, ekonomi dan politik). Jika kita mengacu pada pola Smith, maka bukan mustahil jika kebijakan yang kita buat benar-benar adil tanpa ada pihak lain yang mengambil keuntungan dari kebijakan tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Analisis Kebijakan Publik, Konsep dan Aplikasi Analisis Proses Kebijakan Publik yang ditulis oleh DR. Joko Widodo, M.S, seorang widyaiswara Diklatpim Jawa Timur dengan ringan membahas dasar-dasar analisis kebijakan publik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; DR. Joko Widodo, M.S., memberikan gambaran situasi pasca reformasi, dimana pemerintah saat ini sedang mengupayakan otonomi daerah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat di daerah. Dan memang karena beliau orang daerah, maka otonomi daerah menjadi dasar pijakan beliau untuk memulai uraian analisis kebijakan publik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Untuk menghadapi situasi yang ada sekarang ini, menuntut ditingkatkannya profesionalisme mesin birokrasi. “Pemerintahan pada dasarnya adalah pelayanan kepada masyarakat. Ia tidaklah diadakan untuk melayani dirinya sendiri, tetapi untuk melayani masyarakat serta menciptakan kondisi yang memungkinkan setiap anggota masyarakat untuk mengembangkan kemampuan dan kreativitasnya demi mencapai tujuan bersama”. Dalam pandangan Weberian prinsip-prinsip mengenai birokrasi, dimana dalam pandangannya, birokrasi diciptakan untuk melayani dan profesional.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sesuai dengan pandangan ini, kinerja birokrasi harus bisa dipertanggungjawabk an kepada khalayak umum, sebab government organizations are created by the public, for the public and need to be accountable to it. Sebuah birokrasi harus akuntable, terbuka dan transparan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Kebijakan Publik di Banten dalam praktek.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ciri kebijakan Publik menurut Anggito Abimanyu adalah Peran Dasar Pemerintah, bersentuhan dengan kepentingan Publik, berorientasi kepada pelayanan public, melalui mekanisme APBD/APBN.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dalam banyak hal di Provinsi Banten masyarakat selalu menjadi objek, seperti halnya dalam setiap Musrenbang Kab/Kota atau Provinsi beberapa hari yang lalu, peserta di si oleh peserta berbaju coklat alias PNS, keterwakilan masyarakat sangat kecil sekali kecuali yang memiliki akses-akses yang baik dengan Pemerintah Daerah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Hasil dari Musrenbang pun belum terakomodir semua, karena akan kembali di bahas oleh Panitia anggaran eksekutif yang barang tentu akan di seleksi secara ketat sesuai dengan kepentingan mereka, memang ada aspirasi masyarakat yang terakomodir akan tetapi sangat kecil prosentasinya lebih banyak yang masuk adalah kepentingan siapa yang berkuasa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Panitia Anggaran Ekskutif (PAE) kemudian kembali membahas dengan Panitia Anggaran Legislatif (PAL) yang barang tentu masing-masing anggota DPRD yang masuk dalam PAL sudah membawa setumpuk “titipan – titipan Proyek” yang lebih banyak merupakan kepentingan pribadi dan kelompoknya yang harus di golkan, inilah potret buram kebijakan di Provinsi Banten yang  tercinta yang diperjuangkan oleh tokoh-tokoh pendiri pejuangnya yang mencita-citakan untuk kesejahteraan rakyat Banten, walau dalam prakteknya hingga kini menguntungkan segelintir orang yang berkuasa dan berduit, lantas kapan kebijakan Publik untuk kesejahteraan masyarakat itu nyata dan terwujud !!! kita Tunggu dan menunggu. Selamat menunggu !&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;*Wk. Ketua DPD KNPI &amp;amp; Ketua DPD Partai Pemuda Indonesia (PPI) Prov. Banten&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Disampaikan pada Workshop “Mengawal Kebijakan Publik di Banten” pada tanggal 30 April 2008&lt;br /&gt;di Gedung Fakultas Syariah, IAIN “SMH” Banten.&lt;br /&gt;Dikirim Oleh: kabar_banten@yahoo.co.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9068598759995211418-4568814298732441830?l=lanskap-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/4568814298732441830'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/4568814298732441830'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lanskap-artikel.blogspot.com/2008/05/kebijakan-publik-di-banten-untuk-siapa.html' title='Kebijakan Publik Di Banten Untuk Siapa?'/><author><name>LANSKAP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16525646099308139572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_GeVrtHBSwVI/SNiCsaeAeTI/AAAAAAAAAz4/Pl5X__vx_Nc/S220/Logo+LANSKAP.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9068598759995211418.post-4571051358253793707</id><published>2008-04-26T19:58:00.000-07:00</published><updated>2008-04-26T20:27:49.213-07:00</updated><title type='text'>Banten Growth and Population</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Population in an area is&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; actually a great development asset&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; and potential if the population is&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; qualified. In contrast, a great deal&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; number of population and its growth&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; with minor quality will be a big&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; burden for the development process&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; itself.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Banten population based on&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; the result of Population Census&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; shows that the&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; number of population is increasing.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; In 1961 population number is&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; 2.438.574 while in 1971 is&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; 3.045.154 and increasing toward&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; 4.015.837 in 1980 and 5.967.907 in&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; 1990. In year 2000 population&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; number based on 2000 Population&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Census has become 8.096.809 and&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; in 2005 is increasing to be&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; 9.308.944 inhabitants.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Increasing trend in&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; population growth from one census&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; to the next census or from one&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; survey to the next survey is not only&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; caused by natural population&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; growth, but also caused by&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; migration. Migrants come to Banten&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; because of many reason and job&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; opportunities in many sectors,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; among others, industrial companies&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; situated Cilegon, Tangerang and&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Serang, tourism companies in&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Pandeglang, Cilegon and Serang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; and any other job opportunities and&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; also the more conducive atmosphere&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; for people to enhance any economic&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; activities.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Population growth rate in&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Banten for&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; periods of 2000-2005 grows in&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; average of 2,83 percent. This rate&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; shows a decrease compared with&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; population growth rate in periods of&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; 1990-2000 showing 3,21 percent. If&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; viewed from the regency and&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; municipals side,for periods of 2000-&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; 2005 growth in average shows a&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; decrease, but this isn’t happened in&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Kabupaten Pandeglang and Lebak&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; that shows an increase growth. High&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; population growth is still incurred in&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Kabupaten Tangerang and Kota&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Tangerang with the average of&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; population growth is 3,63 percent&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; and 3,0 percent respectively.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;The highness of population&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; growth in those 2 regencies is&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; closely related with their economic&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; potential that has grown to be the&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; centre of economic area and has&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; become destination for migrants. It&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; is also caused by their sites that are&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; straight-bordered with Indonesian&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Capitol (Jakarta) –Jabotabek area.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; A great number of inhabitants whose&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; daily economic activities in Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; stay in that two area. Compared&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; with population growth rate in the&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; previous period (1980-1990), all&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; regencies and municipals, except&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Serang, shows a decreasing growth&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; rate.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_GeVrtHBSwVI/SBPyLZu9M2I/AAAAAAAAAyU/vHGXXD8KpU4/s1600-h/Penduduk+Banten+2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_GeVrtHBSwVI/SBPyLZu9M2I/AAAAAAAAAyU/vHGXXD8KpU4/s400/Penduduk+Banten+2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5193761072988631906" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Extreme decreasing growth rate&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; incurred in Kota Tangerang from&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; 8,77 percent in 1980-1990 to 3,83&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; percent in 1990-2000. This&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; happened because in the periods of&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; 1980-1990 in Kota Tangerang there&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; is an addition in the number of&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; district from 3 districts become 5&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; districts. The 2 districts are&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; previously of Kabupaten Tangerang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; As explained above, population&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; number always increases from year&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; to year. Population number in&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Banten in 2005 based on the result&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; of National Social Economic Survey&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; (Susenas) in February, increase to&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; be 9.308.944 inhabitants, 4.701.284&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; of them are men and greater than&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; the woman that only amounting&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; 4.607.660 inhabitants. Meanwhile,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; the number of household in Banten&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; in 2004 is 2.504.330.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;As a region that is open&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; for everyone, based on the result of&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Population Sencus 2000 in Banten&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; there are 16,871 expatriates as&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; noted in table 3.14. Of all&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; expatriates, most of them come from&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; The Mainland China and Taiwan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; amounted 12,141 expatriates (71.96&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; percent), while the rest amounting&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; 4,730 expatriates (28.04 percent)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; are from Arab, Pakistan, British and&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; many others.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; The other data about&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; population that is necessary to know&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; is the number of population based&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; on projection.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Projected population&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; data is needed to, among others,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; quantify development targets in the&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; future. The projection of population&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; (demography) is basically needed by&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; the three important users, those are&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; planner, decision maker and analyst.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Banten population data&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; as the result of projection based on&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; age group and sex and the number&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; of population based on regency.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; It is&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; estimated that the number of&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; population in Banten in 2005 is&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; around 9.570,4 thousand&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; inhabitants.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Distribution and Population&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Density&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Spread or distribution of&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; population is basically a population&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; composition based on geographical&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; area. From the population spread&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; data it can be seen whether the&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; population composition in a region&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; is flat or not. Trough population&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; spread, it also can be seen which&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; region with dense population.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Population spread indicator is noted&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; in percentage. By that way its&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; pattern can be inferred.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_GeVrtHBSwVI/SBPyKpu9M1I/AAAAAAAAAyM/vu1V7_BQOY4/s1600-h/Penduduk+Banten+1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_GeVrtHBSwVI/SBPyKpu9M1I/AAAAAAAAAyM/vu1V7_BQOY4/s400/Penduduk+Banten+1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5193761060103730002" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;In the time range between&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; 2000 and 2005, population spread in&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Pandeglang, Lebak and Serang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; municipal tends to decline while in&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Tangerang municipa and Tangerang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; city, population spread relatively&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; inclines. The&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; inclination in those 2 municipals is&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; quite fair remembering that the&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; regions is developing, especially&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; from industrial sector accompanied&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; by trade and service sector, making&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; many manpower come from outside&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; area including those who open a&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; new venture whether in small,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; middle of big scale like Jakarta.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; The spread of population&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; will have more meaning when it is&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; related with the density of&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; population in an area. This is&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; important because a region with a&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; huge population will not be&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; considered as dense if it is wide.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;The number&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; of population density that is&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; increases from year to year. This is&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; shown by the data from the last two&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; censuses. In 1990 there are 678&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; inhabitants per km square while in&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; 2000 there are 920 inhabitants per&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; km square and increases to be 1.058&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; inhabitants per km square in 2005.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Just like in any other regency, there&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; is not a decline in population&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; density. If the population density in&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; every municipal is compared, until&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; 2005 there are three municipals with&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; high population density, those are&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Tangerang city with 8.355&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; inhabitants per km square,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Tangerang municipal with 2.994&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; inhabitants per km square and&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Cilegon city with 1.905 inhabitants&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; per km square. The lowest&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; population density occurs in Lebak&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; with 398 and Pandeglang with 403&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; inhabitants per km square.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Source: Banten in figures 2005&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Published by Statistics of Banten Province&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9068598759995211418-4571051358253793707?l=lanskap-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/4571051358253793707'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/4571051358253793707'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lanskap-artikel.blogspot.com/2008/04/banten-growth-and-population.html' title='Banten Growth and Population'/><author><name>LANSKAP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16525646099308139572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_GeVrtHBSwVI/SNiCsaeAeTI/AAAAAAAAAz4/Pl5X__vx_Nc/S220/Logo+LANSKAP.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_GeVrtHBSwVI/SBPyLZu9M2I/AAAAAAAAAyU/vHGXXD8KpU4/s72-c/Penduduk+Banten+2.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9068598759995211418.post-3734398474608279820</id><published>2008-04-26T19:50:00.000-07:00</published><updated>2008-04-26T19:55:23.092-07:00</updated><title type='text'>Banten Geography and Climate</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Base on the act No. 23&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; year 2000, state of Banten&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; residency of West Java change&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; became Banten Province. Banten&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Province has area about 8.800,83&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; km2, that content four regencies&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; namely Pandeglang, Lebak,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Tangerang, and Serang, and two&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; cities namely Tangerang and&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Cilegon.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Banten Province occur at&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; term astronomy about 10501’ 11” –&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; 10607’ 12” East Longitude and&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; 507’50” –701’1” South Latitude,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; wield position is a strategy at&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; internasional and national traffic.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Banten Province has&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; boundaries:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;a. In the north are boundaries by&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Java Sea.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;b. In the east are boundaries by&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; DKI Jakarta and West Java&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Province.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;c. In the south are boundaries by&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Hindia Ocean.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;d. In the West are boundaries by&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Sunda Strait.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;While ecosystem of Banten&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Province is basicly content:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;a. Northern Beach environment&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; that ecosystem of irigated rice&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; field, region of population, and&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; industries.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;b. Region of central Banten is&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; rice field with limitation of&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; irigation, and estate crops,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; little villages. Available of&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; water is enough and stable.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Available of water is enough&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; and stable.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;c. Region of Halim-Kendeng&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; throught Malingping,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Leuwidamanr, Bayah are hills&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; that relative hard to access,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; neverthless that have a natural&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; resources.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;d. Region of West Banten (Saketi,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; DAS Cidano and about&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Karang mountain inclination –&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Aseupan, and Pulosari&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; throught DAS Ciliman –&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Pandeglang and West Serang)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; that affluent concerning with&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; water, are region that&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; agriculture area.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;e. Ujung Kulon as Java&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; rhinoceros (Rhini Sondaicus)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; National Park.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;f. Das Cibaliung –Malingping is&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; area that water affluent, but&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; does not use effectively and&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; productively. The round are&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; surge hills with estate crops&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; and talun environment.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Climate of Banten is very&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; influented by Monson trade and El&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Nino Billow. In raining season&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; (November –March), West wind is&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; dominating at Banten climate (from&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Sumatera, Hindia ocean beside&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; South India) that conspire by wind&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; from Asia that overreach South&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; China Sea. At dry season (June –&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; August) East wind is dominating at&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Banten.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;That the reason of Banten&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; region is undergoes aridity&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; especialy at Northern Beach, and&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; it’s very hard if El Nino occurs.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Temperature at beach region&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; and hills are about 220 C and 320&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; C, while temperature at mountain&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; by altitude between 400 –1.350 m&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; gains between 180 C –290 C.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;From: Banten in figures 2005&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Published by Statistics of Banten Province&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9068598759995211418-3734398474608279820?l=lanskap-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/3734398474608279820'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/3734398474608279820'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lanskap-artikel.blogspot.com/2008/04/banten-geography-and-climate.html' title='Banten Geography and Climate'/><author><name>LANSKAP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16525646099308139572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_GeVrtHBSwVI/SNiCsaeAeTI/AAAAAAAAAz4/Pl5X__vx_Nc/S220/Logo+LANSKAP.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9068598759995211418.post-2052081797480494216</id><published>2008-04-26T19:42:00.000-07:00</published><updated>2008-04-26T19:47:26.518-07:00</updated><title type='text'>Brief History of Banten Province</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Banten is the name of the area has been know since 14 century. In the&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; beginning Banten is a port which the ships and trader are coming from any&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; country, and finally Euro people control this area. In 1330 people have known a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; country which as Panten, and then this area controlled by Kingdom of&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Majapahit with Gajah Mada and Hayam Wuruk as a leader. At that time,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Kingdom of Majapahit and Kingdom of Demak are two of Kingdom has power&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; in Nusantara (Indonesia). In 1524 –1525 Moslem traders came to Banten and&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; that time; begin of Islam religious growth in Banten. In about two century later,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; regency (Kadipaten) of Banten has been build at Surasowan in October 8, 1526.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;In 1552 -1570 Maulana Hasanudin Princes (Panembahan) of Surasowan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; become the first leader (Sultan) of Baneten. At that time the government of&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Sultan has begun which finally Sultan Muhammad Rafi’uddin (1813 –1820) is&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; the 20th Sultan with all the people of Banten attack for the illegal government.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; But war of Banten forever until the illegal government goes out from Banten.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Since the freedom of Indonesia, people of Banten want to build a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Banten province. That hoping had existed since 1953 and in 1963 made&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; committee of Banten Province at Serang regency. In the meeting between&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Committee of Banten Province with legislative (DPR-GR) agree to make a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; frame of Banten province. In October 25, 1970 the great meeting of Banten has&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; declared the Presidium of Committee of Banten Province. But not convenient to&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; build the province which unravel of West Java. In era Orde Baru struggle of&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Banten Province can not release yet.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;In reformation order (Orde Reformasi), struggle of Banten people is&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; very obstinate because free democracy and regency autonomy (self-government)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; has issue by central government. In July 18, 1999 there was declaration of&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Banten people in Serang, later official of Committee of Banten Province (Badan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Pekerja Komite Panitia Provinsi Banten) arrange the basic guide and job&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; planning recommended Committee of Institution of Banten Province (Komite&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Pembentukan Provinsi Banten /PBB). Since that, conformed subs of commission&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; PBB in some regency in Banten to fasted conformation of Banten Province.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;After through martial aborious ultimately at October 4, 2000 tight at great&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; meeting of legislative (Rapat Paripurna DPR-RI) affirm draft of law (RUU) of&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Banten Province become act the law No. 23 Year 2000 about Institution of&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Banten Province. Posterior at October 17, 2000 President Abdurrahman Wahid&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; affirms the law No. 23 Year 2000 about PBB. One month after that at November&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; 18, 2000 there was agreement of Banten Province, and functionary governor H.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Hakamudin Djamal to implement officer transitory province before definitive&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; governor electing. In 2002 Local legislative (DPRD) of Banten elected Dr. Ir. H.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Djoko Munandar, M.Eng as Governor, and Hj. Atut Chosiyah as Vice Governor.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Source:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Drs. E. Iwa Tuskana Supandri, Sekapur Sirih Perjalanan Panjang dan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Kronologis Terbetuknya Provinsi Banten 1953 - 2000.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;From: Banten in figures 2005&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;. Published by Statistics of Banten Province&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9068598759995211418-2052081797480494216?l=lanskap-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/2052081797480494216'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/2052081797480494216'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lanskap-artikel.blogspot.com/2008/04/brief-history-of-banten-province.html' title='Brief History of Banten Province'/><author><name>LANSKAP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16525646099308139572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_GeVrtHBSwVI/SNiCsaeAeTI/AAAAAAAAAz4/Pl5X__vx_Nc/S220/Logo+LANSKAP.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9068598759995211418.post-9068366500733852598</id><published>2008-04-26T13:39:00.000-07:00</published><updated>2008-04-26T19:16:01.826-07:00</updated><title type='text'>Recommendations of the Anti Corruption Public Forum to the Conference of the State Parties to the United Nation Convention Against Corruption (UNCAC)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Denpasar, 26 January 2008—From 24 to 26 January 2008, the Partnership for Governance Reform, in cooperation with TI Indonesia, ICW, and the Coalition for Judicial Monitoring (KPP) held a public forum called “Combating corruption in transitional democracies”. This event was organized in response to the UNCAC conference of state parties being held from 28 January to 1 February 2008.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;The Anti Corruption public forum aimed to address the unique problems facing countries undergoing a political transition towards democracy, including Indonesia, Nigeria, Peru, Thailand, South Africa and many of the newer countries in Eastern Europe. They experience unique and complex socio-political challenges in their efforts to combat corruption.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Because of these challenges, the Anti-Corruption Public Forum recommended that more contextual anti corruption strategies are needed – approaches which address the particular socio-political dynamics of countries undergoing a political transition.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Conclusions:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;1. All stakeholders should understand that the democratic transition is a political process that is full of constraints, especially where the prior corrupt and authoritarian regime retains control of state institutions. In these countries, civil society often remains weak, making power relations between the state and civil society lopsided and creating an environment where abuse of power can flourish.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;2. In the context of Indonesia, the public forum believes that the pre-reformasi socio-political powers maintain control – and they have a direct interest in sustaining corrupt governance, at both central and regional level. Therefore, despite ten years of governance reform, progress remains disappointing. Judicial corruption is still common practice, and state commissions, born post 1998, are being stripped of their power by the very political powers who claim to be reformers. Similar incidents also occur at regional level - the shift of authority from central government to the regions has been more broadly dispersed abuse of power practices.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;3. Because of this, we need to develop more contextual criteria for these countries to comply with the obligations stipulated by the UNCAC. This is important if we want to make compliance to the convention more than just a technical and&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;procedural effort. Maintaining and promoting the development of democratic political systems in countries that are undergoing political transition is equally important to realizing clean and accountable governance. We believe that democratic political systems provide more opportunities to eradicate corruption effectively.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;4. Issues which are going to be discussed in the UNCAC conference of state parties, such as Asset Recovery also need to be understood in their contextual setting. For the public and government in countries in democratic transition, recovering assets from corruption cases involving past government officials is very political. In the case of Indonesia for instance, efforts to recover assets belonging to Soeharto depends on more than legal and procedural issues, but political factors as well.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;5. Law enforcement agencies, such as the police, prosecutors office, courts - even the Anti Corruption Commission (KPK) – suffer a lack of internal and external oversight and commitment (especially judicial corruption and political corruption). The leadership of law enforcement agencies and institutions is still seen as compromised, especially when the selection process is influenced by political interests.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Recommendations:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;The following recommendations are submitted to the governments from state parties to UNCAC.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;1. We invite CSOs in various countries to consolidate into a political force with the capacity to control the performance of their respective governments and start to develop global cooperation in corruption eradication.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;2. The eradication of the judicial mafia cannot be achieved by law enforcement agencies alone, but the public should be able to report judicial mafia practices to institutions which have the authority to tackle this behaviour.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;3. Countries in political transition need to seriously develop political recruitment systems that select competent government officials of high integrity. Government, CSOs and politicians with integrity need to push for the enactment of laws which ensure the transparency and accountability of political parties.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;4. The private sector should develop and promote codes of ethics and anti corrupt behavior. Private sector associations can ensure their members comply with their codes of ethics. Corrupt activity by the private sector should be categorized as criminal under national laws. CSOs, whether in the national or international context, should strengthen networks to monitor the behaviour of the private sector.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;5. In countries where the level of corruption is high, women are more vulnerable, economically, politically, socially and culturally. State Parties to UNCAC need to take effective steps to provide access and opportunities for women to participate in corruption eradication and monitor its implementation. Women’s groups need to strengthen their political networks and enhance their capacity to control the direction of the government/administration.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;6. Countries in democratic transition need to have effective control of military institutions, particularly weapons procurement. Weapons procurement should be controlled by non-military agencies, from the planning process through to procurement, management and usage. The government and the parliament should have the commitment and courage to conduct due oversight. International cooperation, is needed to ensure prevention and investigation of corrupt practices in weapons procurement.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;7. Donor institutions which support corruption eradication at the national level are called upon to review the effectiveness of their aid. It is time to evaluate whether enough has been achieved – given the levels of support. There is a need to consider increasing direct support to the community - both as the main victims of corruption and to enhance their capacity to control how governments administrate/manage the country. An empowered community is both the best way to prevent corruption and the best way to ensure effective investigation of and action on corruption cases.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Denpasar, 26 January 2008&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Partnership for Governance Reform&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Transparency International, Indonesia&lt;br /&gt;Indonesian Corruption Watch&lt;br /&gt;NGO Coalition for Judicial Oversight&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;from: www.kemitraan.or.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9068598759995211418-9068366500733852598?l=lanskap-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/9068366500733852598'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/9068366500733852598'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lanskap-artikel.blogspot.com/2008/04/recommendations-of-anti-corruption.html' title='Recommendations of the Anti Corruption Public Forum to the Conference of the State Parties to the United Nation Convention Against Corruption (UNCAC)'/><author><name>LANSKAP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16525646099308139572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_GeVrtHBSwVI/SNiCsaeAeTI/AAAAAAAAAz4/Pl5X__vx_Nc/S220/Logo+LANSKAP.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9068598759995211418.post-2083871691937557728</id><published>2008-04-26T13:24:00.000-07:00</published><updated>2008-04-26T13:36:37.449-07:00</updated><title type='text'>Passive-aggressive Bureaucracies</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;by: Sam Vaknin&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Collectives - especially bureaucracies, such as for-profit universities, health maintenance organizations (HMOs), the army, and government - tend to behave passive-aggressively and to frustrate their constituencies. This misconduct is often aimed at releasing tensions and stress that the individuals comprising these organizations accumulate in their daily contact with members of the public.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Additionally, as Kafka astutely observed, such misbehavior fosters dependence in the clients of these establishments and cements a relationship of superior (i.e., the obstructionist group) versus inferior (the demanding and deserving individual, who is reduced to begging and supplicating).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Passive-aggressiveness has a lot in common with pathological narcissism: the destructive envy, the recurrent attempts to buttress grandiose fantasies of omnipotence and omniscience, the lack of impulse control, the deficient ability to empathize, and the sense of entitlement, often incommensurate with its real-life achievements.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;No wonder, therefore, that negativistic, narcissistic, and borderline organizations share similar traits and identical psychological defenses: most notably denial (mainly of the existence of problems and complaints), and projection (blaming the group's failures and dysfunction on its clients).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;In such a state of mind, it is easy to confuse means (making money, hiring staff, constructing or renting facilities, and so on) with ends (providing loans, educating students, assisting the poor, fighting wars, etc.). Means become ends and ends become means.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Consequently, the original goals of the organization are now considered to be nothing more than obstacles on the way to realizing new aims: borrowers, students, or the poor are nuisances to be summarily dispensed with as the board of directors considers the erection of yet another office tower and the disbursement of yet another annual bonus to its members. As Parkinson noted, the collective perpetuates its existence, regardless of whether it has any role left and how well it functions.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;As the constituencies of these collectives - most forcefully, its clients - protest and exert pressure in an attempt to restore them to their erstwhile state, the collectives develop a paranoid state of mind, a siege mentality, replete with persecutory delusions and aggressive behavior. This anxiety is an introjection of guilt. Deep inside, these organizations know that they have strayed from the right path. They anticipate attacks and rebukes and are rendered defensive and suspicious by the inevitable, impending onslaught.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;The Negativistic (Passive-Aggressive) Personality Disorder is not yet recognized by the DSM Committee. It makes its appearances in Appendix B of the Diagnostic and Statistical Manual, titled "Criteria Sets and Axes Provided for Further Study."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Some people are perennial pessimists and have "negative energy" and negativistic attitudes ("good things don't last", "it doesn't pay to be good", "the future is behind me"). Not only do they disparage the efforts of others, but they make it a point to resist demands to perform in workplace and social settings and to frustrate people's expectations and requests, however reasonable and minimal they may be. Such persons regard every requirement and assigned task as impositions, reject authority, resent authority figures (boss, teacher, parent-like spouse), feel shackled and enslaved by commitment, and oppose relationships that bind them in any manner.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Passive-aggressiveness wears a multitudes of guises: procrastination, malingering, perfectionism, forgetfulness, neglect, truancy, intentional inefficiency, stubbornness, and outright sabotage. This repeated and advertent misconduct has far reaching effects. Consider the Negativist in the workplace: he or she invests time and efforts in obstructing their own chores and in undermining relationships. But, these self-destructive and self-defeating behaviors wreak havoc throughout the workshop or the office.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;People diagnosed with the Negativistic (Passive-Aggressive) Personality Disorder resemble narcissists in some important respects. Despite the obstructive role they play, passive-aggressives feel unappreciated, underpaid, cheated, and misunderstood. They chronically complain, whine, carp, and criticize. They blame their failures and defeats on others, posing as martyrs and victims of a corrupt, inefficient, and heartless system (in other words, they have alloplastic defenses and an external locus of control).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Passive-aggressives sulk and give the "silent treatment" in reaction to real or imagined slights. They suffer from ideas of reference (believe that they are the butt of derision, contempt, and condemnation) and are mildly paranoid (the world is out to get them, which explains their personal misfortune). In the words of the DSM: "They may be sullen, irritable, impatient, argumentative, cynical, skeptical and contrary." They are also hostile, explosive, lack impulse control, and, sometimes, reckless.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Inevitably, passive-aggressives are envious of the fortunate, the successful, the famous, their superiors, those in favor, and the happy. They vent this venomous jealousy openly and defiantly whenever given the opportunity. But, deep at heart, passive-aggressives are craven. When reprimanded, they immediately revert to begging forgiveness, kowtowing, maudlin protestations, turning on their charm, and promising to behave and perform better in the future. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;*United Press International (UPI) Senior Business Correspondent&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9068598759995211418-2083871691937557728?l=lanskap-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/2083871691937557728'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/2083871691937557728'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lanskap-artikel.blogspot.com/2008/04/passive-aggressive-bureaucracies.html' title='Passive-aggressive Bureaucracies'/><author><name>LANSKAP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16525646099308139572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_GeVrtHBSwVI/SNiCsaeAeTI/AAAAAAAAAz4/Pl5X__vx_Nc/S220/Logo+LANSKAP.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9068598759995211418.post-2839620408503295589</id><published>2008-04-26T05:45:00.000-07:00</published><updated>2008-04-26T05:52:46.962-07:00</updated><title type='text'>KESEJAHTERAAN SOSIAL: Hak Masyarakat &amp; Kewajiban Negara</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak bulan Agustus 1997 telah menimbulkan dampak yang luas bagi kehidupan masyarakat. Diawali dengan nilai tukar Rupiah yang terus melemah terhadap Dolar AS, mengakibatkan kinerja kegiatan produksi menurun tajam karena sebagian bahan bakunya berasal dari luar negeri. Kondisi ini kemudian menyebabkan banyak perusahaan yang akhirnya harus gulung tikar. Tercatat sedikitnya dua puluh lima juta orang pengangguran baru yang dihasilkan oleh krisis ini. Tentunya terdapat puluhan juta jiwa yang menggantungkan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="display: block;" id="formatbar_Buttons"&gt;&lt;span class="" style="display: block;" id="formatbar_JustifyFull" title="Rata Penuh" onmouseover="ButtonHoverOn(this);" onmouseout="ButtonHoverOff(this);" onmouseup="" onmousedown="CheckFormatting(event);FormatbarButton('richeditorframe', this, 13);ButtonMouseDown(this);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;hidup pada pekerja-pekerja yang di-PHK itu. Dari data yang dikumpulkan Depsos untuk wilayah DKI Jakarta hingga Juli 1998, tercatat adanya peningkatan jumlah Gelandangan dan Pengemis (Gepeng) sebesar 30%, WTS 30%, pedagang asongan 75%, dan anak jalanan 200% (Republika, 29 Juli 1998). &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Keadaan sosial yang telah menghasilkan banyak orang miskin baru ini merupakan masalah sosial yang penting untuk segera diatasi. Jumlah siswa yang harus putus sekolah meningkat tajam di saat wajib belajar sedang giat-giatnya digalakkan. Keadaan gizi dan kesehatan masyarakat menurun sehingga mencapai titik yang memprihatinkan. Kenyataan ini harus diantisipasi untuk menghindari terdapatnya "generasi yang hilang" beberapa dasawarsa mendatang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dijamin oleh UUD 1945&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Pasal 34 undang-undang dasar 1945 menyatakan "Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara." Yang dimaksud dengan fakir miskin di sini adalah orang yang sama sekali tidak mempunyai sumber mata pencarian dan tidak mempunyai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pokok yang layak bagi kemanusiaan. Fakir miskin dapat juga berarti orang yang mempunyai sumber mata pencarian tetapi tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok yang layak bagi kemanusiaan. Para gelandangan, pengemis, maupun anak-anak jalanan dapat pula dikategorikan sebagai fakir miskin untuk kemudian dipelihara oleh negara. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanakah sebenarnya relisasi pemeliharaan oleh negara yang dikehendaki oleh konstitusi? Penjelasan pasal 34 UUD 1945 berbunyi "Telah cukup jelas, lihat di atas". Yang dimaksud oleh kalimat "di atas" itu tidak lain adalah penjelasan dari pasal 33 UUD 1945 yang memang masuk dalam bab yang sama dengan pasal 34 yaitu bab mengenai kesejahteraan sosial. Penjelasan Pasal 33 UUD 1945 antara lain menyebutkan bahwa kemakmuran masyarakatlah yang diutamakan, bukan kemakmuran perseorangan. Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas usaha kekeluargaan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Dari penjelasan UUD 1945 tersebut terlihat jelas relevansi dari sistem ekonomi dalam upaya menanggulangi kemiskinan. Sistem ekonomi kerakyatan yang berasal dari rakyat, dikerjakan oleh rakyat, dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat banyak merupakan bentuk ideal yang seyogianya dan wajib diciptakan oleh negara. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Dengan berjalannya mekanisme ekonomi kerakyatan yang memberikan kesempatan yang adil terhadap sumber-sumber modal, maka kesejahteraan masyarakat dapat dipelihara agar tidak jatuh ke jurang kemiskinan. Masyarakat tidak dapat disalahkan atas kemiskinan yang dideritanya. Peningkatan kesejahteraan sebenarnya adalah hak mereka, sementara di lain pihak, negara (pemerintah) berkewajiban dan memiliki kapasitas untuk menciptakan mekanisme yang kondusif bagi kesejahteraan rakyat. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Dalam kenyataannya, pemerintah ternyata tidak berhasil menciptakan kesempatan bagi masyarakat untuk mencapai hal itu. Akumulasi modal yang hanya berputar pada segelintir kalangan masyarakat pada masa orde baru tak ayal lagi merupakan kejahatan terstruktur yang tidak boleh terulang kembali. Oleh karena itu, usaha pemerintah untuk menerapkan sistem ekonomi kerakyatan akhir-akhir ini dapat disambut positif sebagai wujud tanggung jawab negara memelihara kesejahteraan rakyatnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bantuan dan Rehabilitasi Sosial&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Pasal 34 UUD 1945 dijabarkan lebih lanjut oleh Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1974 tentang Ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial. Pasal 1 UU 6/1974 menyatakan bahwa "Setiap warga negara berhak atas taraf kesejahteraan sosial yang sebaik-baiknya dan berkewajiban untuk sebanyak mungkin ikut serta dalam usaha-usaha kesejahteraan sosial".&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Selain usaha menciptakan sistem perekonomian yang sifatnya mendasar, perlu pula usaha yang sifatnya lebih pada pelaksanaan langsung di lapangan. Hal ini dibutuhkan untuk dapat sesegera mungkin mengantisipasi keadaan sosial yang memprihatinkan ini. Pengaturan yang bersifat lebih teknis di bawah UU 6/1974 adalah Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 42 tahun 1981 tentang Pelayanan Kesejahteraan Sosial Bagi Fakir Miskin. Pasal 2 ayat (1) dari PP 42/1981 di atas menyebutkan bahwa fakir miskin berhak mendapatkan pelayanan kesejahteraan sosial. Selanjutnya, ayat (2) pasal yang sama menyatakan bahwa pelayanan kesejahteraan sosial bagi fakir miskin tersebut meliputi bantuan sosial dan rehabilitasi sosial. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Bantuan sosial adalah bantuan bersifat sementara yang diberikan kepada keluarga fakir miskin agar mereka dapat meningkatkan taraf kesejahteraan sosialnya. Bantuan sosial yang diberikan dapat berbentuk bantuan santunan hidup, bantuan sarana usaha ekonomi produktif, atau bantuan sarana kelompok usaha bersama. Bantuan ini berupa bahan atau peralatan untuk menunjang usaha ekonomi produktif. Sesuai dengan asas kekeluargaan yang dianut, maka sarana usaha ekonomi produktif tersebut diberikan dan dikelola dalam sebuah kelompok usaha bersama yang berada dalam pembinaan pemerintah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Proses Pemberian Bantuan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Proses pemberian bantuan yang dilakukan pemerintah dengan pengajuan data keluarga miskin yang perlu mendapatkan bantuan melalui RT/RW yang bersangkutan dalam rapat koordinasi pembangunan (Rakorbang) kecamatan tiap-tiap desa/kelurahan. Data yang diterima kemudian dibicarakan dan diolah di Rakorbang kabupaten/Kota Madya untuk selanjutnya dibawa ke tingkat provinsi dan terakhir diajukan ke Bapenas. Data yang masuk ke Bapenas diseleksi untuk disesuaikan dengan anggaran yang disediakan APBN. Proses yang cukup panjang ini menghendaki efisiensi di setiap lini agar dapat mencapai sasaran yang diinginkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Tindak lanjut dari pemberian bantuan sosial adalah rehabilitasi sosial yang berfungsi sebagai proses refungsionalisasi dan pengembangan, untuk memungkinkan fakir miskin mampu melaksanakan fungsi sosialnya secara wajar dalam kehidupan masyarakat. Dalam proses rehabilitasi sosial ini, fakir miskin berhak untuk mendapatkan pembinaan kesadaran berswadaya, pembinaan mental, pembinaan fisik, pembinaan keterampilan, dan pembinaan kesadaran hidup bermasyarakat. Fakir miskin yang telah selesai menjalani pembinaan dapat diberikan bantuan permodalan oleh Depsos guna meningkatkan taraf kesejahteraannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jaring Pengaman Sosial &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Program lain yang sedang digalakkan pemerintah untuk membantu meringankan beban masyarakat dan mencegah timbulnya fakir miskin baru adalah program Jaring Pengaman Sosial (JPS). JPS dilakukan dengan bekerjasama dengan badan-badan dana luar negeri. Salah satu bentuk program ini dilaksanakan melalui kemitraan dengan perusahaan-perusahaan yang masih mampu bertahan untuk dapat menampung sebagian tenaga kerja yang terkena PHK. Salah satu kelebihan program jaring pengaman sosial ini adalah pelaksanaan di lapangan tidak lagi dilakukan oleh aparat pemerintahan sehingga dapat dihindari kemungkinan hambatan birokrasi yang menumpulkan efektivitas program. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Namun sayangnya program yang mempunyai dana milyaran dolar dan triliunan rupiah ini belum dikelola dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari tidak terdapatnya kejelasan dan standar baku terhadap pelaksanaan program JPS ini. Program yang melibatkan banyak LSM inipun ternyata masih mengikutkan LSM yang sebenarnya kurang qualified, bahkan LSM yang belum mempunyai struktur organisasi permanen. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dibutuhkan: Partisipasi Masyarakat &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Selain hak-hak yang dimiliki oleh masyarakat seperti dipaparkan di atas, terdapat pula kewajiban bagi masyarakat, yang dibebankan oleh UU No.6 tahun 1974, untuk ikut serta dalam usaha-usaha kesejahteraan sosial. Keadaan keuangan negara yang tidak mendukung saat ini sangat memerlukan bantuan yang intensif dari masyarakat, karena pada saat rakyat sangat memerlukan bantuan dana pelayanan sosial dari pemerintah ternyata anggaran pemerintah untuk pelayanan sosial justru menurun. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa peraturan yang telah dibuat untuk memfasilitasi kewajiban masyarakat tersebut. Salah satunya adalah Keputusan Menteri Sosial Nomor 19 Tahun 1998, yang memberikan wewenang kepada masyarakat yang menyelenggarakan pelayanan kesejahteraan sosial bagi fakir miskin untuk melakukan pengumpulan dana maupun menerima dan menyalurkan zakat, infaq, dan sadaqah. Pasal 12 PP 42/1981 juga memfasilitasi kewajiban ini dengan memberikan kemungkinan bagi organisasi sosial yang menyelenggarakan pelayanan kesejahteraan sosial untuk mendapatkan bantuan subsidi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Menyelenggarakan pelayanan kesejahteraan sosial bukanlah satu-satunya bentuk partisipasi masyarakat. Untuk dapat meningkatkan kesejahteraan sosial, juga dibutuhkan kontrol sosial dari masyarakat terhadap kewajiban pemerintah untuk menjamin kesejahteraan sosial ini. Kritik langsung dan peranan insan pers akan selalu dibutuhkan untuk mencegah adanya kebocoran-kebocoran dalam penyelenggaraan pelayanan kesejahteraan sosial.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Transparansi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Dari pengamatan langsung di bilangan Kampung Tengah Jakarta Selatan pada bulan Februari 1999, ditemukan komunitas masyarakat tidak mampu yang belum pernah sekalipun mendapatkan bantuan dari pemerintah. Apakah mungkin kondisi mereka yang hidup di lingkungan kumuh dengan rumah-rumah semi permanen berukuran tiga kali tiga meter masih belum layak untuk mendapatkan bantuan? Yang jelas mereka sangat membutuhkan bantuan dari pemerintah untuk modal usaha mereka agar tidak terjerat oleh rentenir. Aparat kelurahan diketahui pernah mendata dan mendokumentasi mereka dengan iming-iming akan diberikan bantuan permodalan, namun hingga tulisan ini dibuat janji tersebut belum kunjung terealisasi. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Langkah transparansi harus segera dilakukan agar efisiensi bantuan dapat terjamin. Adanya transparansi sangat dibutuhkan dalam proses pemberian bantuan ini untuk memberikan kepastian bahwa dana bantuan telah dimanfaatkan sesuai dengan peruntukkannya. Masyarakat pemberi dana, yaitu penyumbang maupun seluruh masyarakat sebagai pembayar pajak kepada negara, yang dananya digunakan untuk kesejahteraan sosial, berhak untuk mengetahui apa yang terjadi pada dana yang telah mereka berikan. Sementara masyarakat yang berhak menerima dana tersebut juga berhak atas transparansi, untuk memastikan bahwa hak mereka atas kesejahteraan sosial tidak disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak berhak menerimanya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Masalah pemenuhan hak atas kesejahteraan sosial ini sangat mendesak untuk segera dituntaskan. Konstitusi kita sendiri telah mengakomodasi hak atas kesejahteraan sosial. Para pendiri bangsa ini telah tidak melupakan hak dasar ini, akankah kita -generasi sekarang- justru melupakannya?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Hak-Hak Dalam Jaminan Kesejahteraan Sosial:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;1. Setiap warga negara berhak atas taraf kesejahteraan sosial yang sebaik-baiknya. (Pasal 1 UU no.6 tahun 1974).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;2. Fakir miskin berhak mendapatkan pemeliharaan dari negara (Pasal 34 UUD 1945).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;3. Fakir miskin berhak mendapatkan sarana bantuan sosial dan rehabilitasi sosial. (Pasal 2 Peraturan Pemerintah RI no.42 tahun 1981).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Kewajiban-Kewajiban Dalam Jaminan Kesejahteraan Sosial:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;1. Setiap warga negara wajib ikut serta dalam usaha-usaha kesejahteraan sosial. (Pasal 1 UU no.6 tahun 1974).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;2. Pemerintah wajib mengusahakan sistem ekonomi yang berpihak pada rakyat banyak. (Penjelasan pasal 33 UUD 1945).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Sumber: Kajian Sosial Masyarakat Transparansi Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;(www.transparansi.or.id)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9068598759995211418-2839620408503295589?l=lanskap-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/2839620408503295589'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/2839620408503295589'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lanskap-artikel.blogspot.com/2008/04/kesejahteraan-sosial-hak-masyarakat.html' title='KESEJAHTERAAN SOSIAL: Hak Masyarakat &amp; Kewajiban Negara'/><author><name>LANSKAP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16525646099308139572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_GeVrtHBSwVI/SNiCsaeAeTI/AAAAAAAAAz4/Pl5X__vx_Nc/S220/Logo+LANSKAP.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9068598759995211418.post-4680269387750710088</id><published>2008-04-26T05:32:00.000-07:00</published><updated>2008-04-26T05:38:15.379-07:00</updated><title type='text'>Globalisasi dan Kemiskinan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Mengungkap Kekuatan Ekonomi Mikro Dalam Mengentaskan Kemiskinan di Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Globalisasi merupakan kondisi yang menciptkan suatu keniscayaan bagi negara-negara dunia ketiga terutama Indonesia, kekuatannya tidak bisa ditandingi oleh sistem regulasi yang tertutup, globalisasi juga bisa membuat negara tersebut maju dan globalisasi juga bisa membuat negara tersebut menjadi miskin. Logical Framework of Globalization adalah bagaimana dunia ini merupakan dunia tanpa batas, dan globalisasi juga menciptakan keterbukaan terutama dalam perdagangan Internasional, sehingga globalisasi di klaim oleh pecinta globalisasi sebagai formula untuk bisa memajukan negara yang miskin, berkembang dan menjadi negara yang maju. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Mengutip ungkapan Stiglizt, bahwa globalisasi telah menciptakan pertumbuhan bagi negara-negara di Asia dengan ditunjukan oleh banyaknya orang yang sejahtera karena eksport industrialisasi, tetapi banyak juga mengagap bahwa dengan globalisasi orang tereksploitasi oleh prosesnya. Oleh karena itu globalisasi bagi negara berkembang dalam hal ini Indonesia merupakan suatu potret suram akibat keganasan globalisasi, hal yang kasat mata adalah semakin miskinnya orang Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Globalisasi dan Kemiskinan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Perubahan mekanisme dunia menuju pasar bebas yang telah di ungkap oleh Ronald Reagan dan Margaret Thatcher telah menjadi suatu mekanisme dominan terhadap proses hubungan antar negara, sehingga negara tersebut harus bisa terpacu untuk berkompetisi, kompitisi yang tidak sehat sering mewarnai dalam proses ekonomi, sehingga sering terjadi proses protek-memprotek, klaim-mengklim hasil produk, dan yang paling nyata adalah negara berkembang sering dirugikan karena prosesnya, proses tersebut melalui mekanisme yang di buat oleh lembaga internasional dalam hal ini WTO. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Salah satu yang percaya bahwa globalisasi merupakan mekanisme yang baik, yaitu di ungkapkan oleh Riant Nugroho yang mengatakan bahwa globalisasi merupakan kunci dari pembangunan, globalisasi secara ekonomi didasarkan pada mekanisme pasar global, sehingga mekanisme itu dirangsang oleh perkembangan teknologi sehingga mendorong transformasi ekonomi, sehingga akan mengurangi kemiskinan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Globalisasi sangat dipengaruhi oleh pemikiran kapitalisme yang mempunyai pandangan filsafat ekonomi klasik, tokoh yang sangat berpengaruh dalam pandangan ini adalah Adam Smith dan dua pemikir yang tidak kalah pentingnya dalam pembentukan pandangan ini, yaitu David Ricardo dan Thomas Robert Maltus serta sangat di elu-elukan oleh dua pemikir pada jaman sekarang, yaitu Francis Fukuyama dan Thomas L. Friedman yang memberikan tesisnya tentang globalisasi, liberalisme, privatisasi, dan kapitalisme sebagai akhir sejarah. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Realitas yang terjadi adalah Indonesia merupakan dari negara dunia ketiga yang belum mampu membendung pasar bebas dan hal tersebut merupakan suatu keniscayaan serta sewaktu-waktu akan siap membinasakannya. Dalam hal pertanian pun negara kita belum bisa mampu membendung produk-produk dari luar yang mempunyai nilai kompetitif lebih dibandingkan dengan produk pertanian negara kita, maka kita sering menjumpai buah-buahan import, padi import, kedelai import dan produk pertanian import lainnya di sekitar kita sampai-sampai di pasar tradisional pun ada, sehingga pertanyaan kita, apakah pemerintah telah menciptakan pembangunan yang berbasiskan pada kerakyatan ?. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Masalah pengangguran dan kemiskinan merupakan masalah klasik yang selalu melekat dan menjadi ciri khas negara Indonesia, masalah ini juga merupakan masalah yang paling klimaks dihadapi oleh negara ini, sebab proses penyelenggaraan negara yang begitu panjang akan membayangkan adanya pengurangan angka pengangguran dan kemiskinan, karena hal tersebut merupakan mainstream dari sebuah pembangunan. Konsep yang amat dekat dengan konsep kemiskinan adalah impoverishment (hal-hal menyebabkan seseorang atau sesuatu menjadi lebih miskin). Proses impoverisment adalah sebuah proses aktif menghilangkan akses dan hak-hak dasar yang secara sistematik direproduksi dan diciptakan oleh sejumlah mekanisme global seperti kerusakan lingkungan hidup, kehancuran sumberdaya rakyat, inflasi, pengangguran dan politik utang luar negeri. Proses inilah yang dikenal sebagai proses pelemahan (disempowerment) ekonomi, ekologi, sosial, politik dan kebudayaan khususnya bagi kelompok-kelompok masyarakat minoritas dan terpinggirkan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada dibawah Garis Kemiskinan) di Indonesia pada bulan Maret 2006 sebesar 39,05 juta (17,75 persen). Di bandingkan dengan penduduk miskin pada Februari 2005 yang berjumlah 35,10 juta (15,97 persen), berarti jumlah penduduk miskin meningkat sebesar 3,95 juta (BPS). &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Data kemiskinan yang paling fenomenal dan diperkirakan oleh Bank Dunia, yaitu sebanyak 3,1 juta orang jatuh ke dalam jurang kemiskinan akibat kenaikan harga beras 33 persen selama periode Februari 2005 sampai Maret 2006. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Dasar perhitungannya, tiga perempat dari kaum miskin adalah konsumen bersih (net consumer) beras. Berdasarkan data Bank Dunia, jumlah orang miskin, yang hidup dengan 1 dollar AS per hari pada tahun 2006 diperkirakan 19,5 juta orang, akan turun menjadi 17,5 juta orang pada 2007. Adapun orang miskin yang hidup dengan 2 dollar AS per hari juga diprediksi berkurang, dari 113,8 juta orang pada tahun 2006 menjadi 108,2 juta orang pada 2007. Asumsinya, ekonomi Indonesia bisa tumbuh dari 5,5 persen pada 2006 menjadi 6,2 persen pada 2007 dan jumlah penduduk bertambah dari 229,5 juta di 2006 menjadi 232,9 juta pada 2007 (Kompas 15 November 2006).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Dengan ungkapan-ungkapan diatas maka penulis akan memberikan sedikit analisa yaitu bahwa globalisasi secara realitas yang terjadi di Indonesia malah mengsengsarakan rakyat, misalnya kemiskinan semakin bertambah, hal yang perlu digaris bawahai adalah analisa pendapatan perkapita secara kuantitatif tidak bisa dijadikan barometer tingkat kemiskinan di Indonesia (walaupun penulis memberikan pemaparan data secara kuantitatif) sebab data pendapatan perkapita yang dijadikan landasan untuk mengukur sejaumana tingkat pertumbuhan di Indonesia tidak sesuai dengan realitas, karena pendapatan perkapita Indonesia bisa di wakili hanya dengan 10% dari bangsa ini, karena globalisasi akan menciptakan marginalisasi antara yang si kaya dengan si miskin dan faktannya benar !, bangsa ini mengalami kemiskinan yang sangat parah secara kasat mata. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Fakta yang kasat mata kita ketahui tentang kemiskinan yang terjadi di Indonesia adalah kemiskinan yang sangat parah, misalnya di daerah Cirebon masih banyaknya masyarakat yang memakan roti basi yang cilakanya makanan itu sebagai makanan pengganti nasi aking yang semakin kesini semakin merangkak naik akibat kenaikan harga beras yang membumbung tinggi. perlu di ketahui bahwa nasi aking adalah nasi bekas yang di keringkan, di masak serta di konsumsi oleh masyarakat kita (Liputan 6 SCTV), yang menjadi pertanyaan saya adalah apakah hal tersebut di namakan keberhasilan pembangunan, mungkin hanya ucapan astagfirolah saja yang bisa menjawabnya. Nah dengan melihat fenomena tersebut maka apa yang harus dilakukan supaya bangsa ini bisa terangkat dari jurang kemiskinan yang sudah terlalu dalam, pertanyaan tersebut seharus bisa dijawab oleh bangsa ini melalui pemberdayaan masyarakat dengan dukungan kebijakan pemerintah dan swasta yang pro terhadap pengentasan kemiskinan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Permasalahan yang ada dalam Upaya Pengentasan Kemiskinan Melalui Proses Pemberdayaan Ekonomi Mikro&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Defenisi Usaha mikro menurut ADB, adalah usaha-usaha non-pertanian yang mempekerjakan kurang dari 10 orang termasuk pemilik usaha dan anggota keluarga. Sedangkan USAID mendefinisikan Usaha mikro adalah kegiatan bisnis yang mempekerjakan maksimal 10 orang pegawai termasuk anggota keluarga yang tidak dibayar. Kadangkala hanya melibatkan 1 orang, yaitu pemilik yang sekaligus menjadi pekerja. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Kepemilikan aset dan pendapatannya terbatas. Dan lembaga yang sangat populer di kalangan kita serta mempunyai moto tidak ada kemiskinan di dunia yaitu Bank Dunia mendefinisikan Usaha mikro adalah merupakan usaha gabungan (partnership) atau usaha keluarga dengan tenaga kerja kurang dari 10 orang, termasuk di dalamnya usaha yang hanya dikerjakan oleh satu orang yang sekaligus bertindak sebagai pemilik (self-employed). &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Usaha mikro sering merupakan usaha tingkat survival (usaha untuk mempertahankan hidup–survival level activities), yang kebutuhan keuangannya dipenuhi oleh tabungan dan pinjaman berskala kecil. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Dengan melihat beberapa defenisi tentang usaha mikro, maka hal yang perlu di garis bawahi adalah bagaimana kekuatan usaha mikro bisa di jadikan sebagai alternatif dalam mengurangi pengangguran, karena pengurangan pengangguran secara otomatis akan memberikan dampak positif untuk bisa mengurangi kemiskinan di Indonesia, tetapi alternatif tersebut tidak bisa jalan begitu saja tanpa mendapatkan dukungan secara maksimal oleh pemerintah dan swasta dengan memberikan akses keadilan bagi usaha tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Peranan pemberdayaan seharusnya bisa terealisasi apabila pemerintah dan swasta bisa menciptakan suatu program yang sifatnya memberikan akses modal kepada usaha mikro, sebab kendala yang banyak dihadapi oleh usaha ini adalah masalah permodalan, fenomena permodalan ini apabila kita kaji lebih empiris di lapangan yaitu masih adanya ketidakadilan dalam penyalurannya, misalnya usaha mikro sering dipersulit untuk bisa mendapatkan modal, seperti prosedur yang berbelit-belit, harus ada jaminan, serta banyak lembaga keuangan tidak menyediakan permodalan bagi usaha mikro. Dan fenomena tersebut bisa kita lihat secara kasat mata sehingga dengan fenomena tersebut pemerintah dan swasta belum berpihak pada pembangunan yang berbasiskan kerakyatan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Sehingga usaha mikro sering mengalihkan pinjaman permodalan kepada lembaga-lembaga keuangan informal, sehingga yang terjadi adalah penghisapan atau eksploitasi oleh lembaga informal dalam hal ini rentenir, eksploitasi tersebut terjadi dengan bunga yang tinggi, tetapi eksploitasi tersebut bisa dinikmati atau diterima oleh usaha mikro, nah itu merupakan fenomena yang harus segera dijawab oleh pemerintah dengan membuat kebijakan yang benar-benar di implementasikan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Data yang menunjukan bahwa pembiayaan yang bersumber dari lembaga keuangan non bank sebanyak 82.962 UKM atau mengalami peningkatan sebesar 10,93 persen, perbankan sebanyak 385.383 UKM atau mengalami peningkatan sebesar 6,55 persen dan sumber permodalan lainnya sebanyak 661.629 UKM atau mengalami peningkatan sebesar 3,43 persen. Sedangkan sumber permodalan yang berasal dari modal ventura mengalami penurunan dari tahun sebelumnya hingga mencapai 50,18 persen yaitu dari 16.002 UKM menjadi 7.972 UKM (BPS 2001). Sehingga kesimpulannya adalah data tersebut menunjukan bahwa sebagian besar permodalan untuk usaha mikro berasal dari lembaga-lembaga keuangan informal. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Strategi Untuk Merealisasikan Kekuatan Ekonomi Mikro Dalam Pengentasan Kemiskinan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Dengan melihat realitas permasalahan yang ada dalam upaya pengentasan kemiskinan melalui proses pemberdayaan ekonomi mikro sebagai pilar pembangunan, maka strategi-strategi yang harus di gunakan adalah sebagai berikut : &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;1.Adanya kerjasama yang mutalisme antara pemerintah, swasta serta elemen masyarakat menengah (LSM, Akademsi, Wartawan, Profesional dll) untuk bisa mendorong ekonomi mikro untuk bisa menjadi salah satu tembok dalam menghindari kemiskinan. Strategi itu bisa dilakukan apabila ketiga elemen tersebut memiliki kesamaan visi dan misi dalam pembangunan, misalnya dalam pembinaan pemberdayaan ekonomi mikro. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;2.Pemerintah harus bisa menciptakan regulasi yang pro terhadap ekonomi mikro, misalnya dalam era otonomi daerah ini pemerintah daerah yang sangat mengedepankan peraturan daerah, maka peraturan daerah tersebut harus bisa mendorong kekuatan ekonomi lokal, bukan malah sebaliknya mendorong ekonomi sebagian kelompok orang saja yang nota benenya dari kalangan ekonomi besar. Oleh karena itu jangan ada peraturan daerah yang mendorong resistensi masyarakat terhadap pemerintah daerah seperti penggusuran pedagang kaki lima tanpa memberikan solusi yang saling menguntungkan antara kedua belah pihak, hal-hal tersebut harus di hindari oleh pemerintah daerah apabila ingin menciptakan kekuatan ekonomi mikro sebagai pilar untuk upaya dalam mengentaskan kemiskinan di daerah. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;3.Pemerintah, swasta, dan elemen masyarakat yang diwakili oleh LSM harus bisa membuat lembaga-lembaga keuangan mikro yang kuat serta mengedepankan distribusi keadilan dalam prosesnya. Hal tersebut supaya usaha mikro bisa terhindar dari rentenir yang nota benenya akan mengeksploitasi usaha mikro dengan bunga yang tinggi. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;4.Lembaga keuangan mikro harus bisa berkompetisi dengan lembaga keuangan yang informal dengan mengedepankan pelayanan yang pro terhadap usaha mikro, sehingga usaha mikro akan tertarik serta nyaman dalam melakukan pinjamannya, hal yang terpenting dan merupakan indikator pelayanan adalah proses pelayanan yang tidak berbelit-belit. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;5.Dan yang terakhir adalah bagaiman ketiga elemen tersebut mempunyai komitmen dalam bekerjasama untuk bisa merealisasikan visi dan misi dalam melenyapkan kemiskinan di Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Sumber: www.suarapublik.org&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9068598759995211418-4680269387750710088?l=lanskap-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/4680269387750710088'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/4680269387750710088'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lanskap-artikel.blogspot.com/2008/04/globalisasi-dan-kemiskinan.html' title='Globalisasi dan Kemiskinan'/><author><name>LANSKAP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16525646099308139572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_GeVrtHBSwVI/SNiCsaeAeTI/AAAAAAAAAz4/Pl5X__vx_Nc/S220/Logo+LANSKAP.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9068598759995211418.post-7884592149033125821</id><published>2008-04-26T05:25:00.000-07:00</published><updated>2008-04-26T05:27:44.942-07:00</updated><title type='text'>Good Governance Sektor Pelayanan Publik, Prasyarat Membangun Industri Berdaya Saing</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Oleh: Mas Achmad Daniri*&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link style="font-family: trebuchet ms;" rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CGATOTY%7E1.S%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Tahoma; 	panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:1627421319 -2147483648 8 0 66047 0;} @font-face 	{font-family:"Book Antiqua"; 	panose-1:2 4 6 2 5 3 5 3 3 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Times; 	panose-1:2 2 6 3 5 4 5 2 3 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:536902279 -2147483648 8 0 511 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:none; 	mso-layout-grid-align:none; 	text-autospace:none; 	font-size:12.0pt; 	font-family:Times; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:Tahoma; 	mso-ansi-language:IN; 	mso-fareast-language:#00FF;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kebijakan industrial yang lebih difokuskan pada keunggulan kompetitif nasional, menjadi tantangan yang krusial bagi Pemerintah. Implementasi kebijakan ini akan membuktikan komitmen Pemerintah terhadap penciptaan lapangan kerja dan pengentasan rakyat dari kemiskinan.  Kalangan pengusaha meyakini tidak sulit bagi Pemerintah untuk memperbaiki daya saing apabila ada kemauan keras memangkas praktek ekonomi biaya tinggi. Problem saat ini, justru sebagian industri malah semakin tenggelam dalam masalah pasokan bahan baku, kekurangan energi, dan praktek ekonomi biaya tinggi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan industri di Indonesia pernah menjadi primadona sebelum krisis (tahun 1998). Prestasi puncak sebelum krisis, ekonomi Indonesia di persepsikan investor sebagai kandidat Macan Asia. Dengan sumberdaya alam yang berlimpah, populasi nomor 4 di dunia, tenaga kerja yang kompetitif, juga didukung oleh infrastruktur yang sedang berkembang, pada masa itu, perekonomian Indonesia memberikan daya tarik untuk mengundang investasi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Memang ironis, pertumbuhan industri yang mulai merangkak menuju perbaikan pasca krisis 1998, justru kembali melemah di tahun 2006 setelah Pemerintah menaikkan harga BBM hingga 126 % pada Oktober 2005. Akar permasalahan didalam membangun industri sebenarnya ditentukan oleh seberapa besar â€˜gross marginâ€™ yang bisa diciptakan melalui perbaikan iklim usaha dan daya saing. Kebijakan untuk meningkatkan â€˜gross marginâ€™ sudah dan sedang dilakukan, namun eksekusi pada tataran implementasinya masih terlihat kurang memadai. Perlu ada kebijakan Pemerintah yang terintegrasi yang terkait dengan kebijakan industri dan perdagangan, kebijakan moneter dan fiskal, serta kebijakan sumber daya manusia dan penyediaan infrastruktur. Inipun belum cukup, lemahnya koordinasi antara instansi dan saratnya berbagai kepentingan individu dan golongan, menjadi masalah besar. Perilaku seperti ini mencerminkan lemahnya pelaksanaan good governance. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Belajar dari masa lalu telah terbukti bahwa bad governance menyebabkan krisis ekonomi yang berkepanjangan yang sampai sekarang dampak negatifnya masih kita rasakan. Penerapan good governance sangat diyakini memberikan kontribusi yang strategis dalam menciptakan iklim bisnis yang sehat, meningkatkan kemampuan daya saing, serta sangat efektif menghindari penyimpangan-penyimpangan dan pencegahan terhadap korupsi dan suap. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Keinginan mewujudkan good governance sering diungkapkan baik oleh para pejabat penyelenggara Negara di pusat dan di daerah, juga dunia usaha. Pertanyaannya adalah bagaimana mewujudkan good governance, serta strategi apa yang sebaiknya dilakukan untuk mewujudkannya? Pertanyaan diatas kendati mudah disampaikan tentu tidak mudah untuk menjawabnya, karena sejauh ini konsep good governance memiliki arti yang luas. Secara ringkas bisa diartikan sebagai rambu untuk menjalankan amanah secara jujur dan adil. Banyak orang menjelaskan good governance bergantung pada konteksnya. Dalam konteks pemberantasan korupsi, good governance sering diartikan sebagai pemerintahan yang bersih dari praktek korupsi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses demokratisasi good governance sering mengilhami para aktivis untuk mewujudkan pemerintahan yang memberikan ruang partisipasi bagi pihak diluar pemerintah, sehingga ada pembagian peran dan kekuasaan yang seimbang antar negara, masyarakat sipil, dan mekanisme pasar. Adanya pembagian peran yang seimbang dan saling melengkapi antar ketiga unsur tersebut, bukan hanya memungkinkan terciptanya â€œcheck and balanceâ€&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;, tetapi juga menghasilkan sinergi antar ketiganya dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Secara umum ada beberapa karakteristik yang melekat dalam praktek good governance. Pertama, praktek good governance harus memberi ruang kepada pihak diluar pemerintah untuk berperan secara optimal sehingga memungkinkan adanya sinergi diantara mereka. Kedua, dalam praktek good governance terkandung nilai-nilai yang membuat pemerintah maupun swasta dapat lebih efektif bekerja dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat. Nilai-nilai seperti efisiensi, keadilan, dan daya tanggap menjadi nilai yang penting. Ketiga, praktek good governance adalah praktek pemerintahan yang bersih dan bebas dari korupsi serta berorientasi pada kepentingan publik. Karena itu praktek pemerintahan dinilai baik jika mampu mewujudkan transparansi, penegakan hukum, dan akuntabilitas publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didalam mengembangan praktek good governance, Pemerintah perlu memilih strategi yang jitu. Luasnya cakupan persoalan yang dihadapi, kompleksitas persoalan yang ada serta keterbatasan sumber daya, untuk melakukan praktek good governance, mengharuskan Pemerintah mengambil pilihan yang strategis. Menerapkan praktek good governance dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan kapasitas Pemerintah, masyarakat sipil, dan mekanisme pasar. Salah satu pilihan strategis untuk menerapkan good governance di Indonesia adalah melalui penyelenggaraan pelayanan publik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa pertimbangan mengapa pelayanan publik menjadi strategis untuk memulai menerapkan good governance. Pertama, pelayanan publik selama ini menjadi ranah dimana Pemerintah berinteraksi dengan masyarakat. Ini berarti jika terjadi perubahan yang signifikan pada pelayanan publik, dengan sendirinya dapat dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat luas. Keberhasilan mempraktekkan good governance pada pelayanan publik mampu membangkitkan kepercayaan masyarakat luas bahwa menerapkan good governance bukan hanya sebuah mitos, tetapi menjadi suatu kenyataan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kedua, pelayanan publik adalah ranah dimana berbagai aspek good governance dapat diartikulasikan secara lebih mudah. Nilai-nilai yang selama ini mencirikan praktek good governance seperti efisien, non diskriminatif, dan berkeadilan, berdaya tanggap, dan memiliki akuntabilitas tinggi dapat dengan mudah dikembangkan parameternya dalam ranah pelayanan publik. Ketiga, pelayanan publik melibatkan kepentingan semua pihak, Pemerintah mewakili negara, masyarakat sipil, dan mekanisme pasar, yang semuanya memiliki kepentingan dan keterlibatan yang tinggi dalam ranah ini. Keberhasilan penguasa dalam membangun legitimasi kekuasaan sering dipengaruhi oleh kemampuan mereka dalam menyelenggarakan pelayanan publik yang baik. Dengan memulai perubahan pada bidang yang dapat secara langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sipil dan para pelaku pasar, upaya melaksanakan good governance akan memperoleh dukungan dari semua pemangku kepentingan. Dukungan ini sangat penting dalam menentukan keberhasilan karena memasyarakatkan good governance membutuhkan stamina dan daya tahan yang kuat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Untuk mewujudkan hal itu, perlu tiga pendekatan yang harus sekaligus dilakukan. Pertama adalah menetapkan dan memasyarakatkan pedoman good governance secara nasional, baik untuk kalangan korporasi maupun publik, yang kemudian bisa ditindak lanjuti dengan pedoman sektoral dari masing-masing industri atau bidang kegiatan. Pedoman ini merupakan suatu rujukan yang selalu mengikuti perkembangan jaman. Oleh karena itu, dalam kurun waktu tertentu perlu dilakukan penyesuaian-penyesuaian. Pendekatan kedua adalah perlu dilakukan penyuluhan, konsultansi, dan pendampingan bagi perusahaan-perusahaan, maupun kantor Pemerintah yang bermaksud untuk mengimplementasikan good governance, dengan melakukan kegiatan self assessment, kemudian memasang rambu-rambu pada masing-masing perusahaan atau instansi Pemerintah. Pendekatan ketiga adalah dengan memperbanyak agen-agen perubah dengan mengembangkan semacam sertifikasi bagi direktur dan komisaris pada perusahaan-perusahaan serta bagi pejabat-pejabat publik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Upaya membangun industri yang berdaya saing, tidaklah mudah untuk kita gapai, terlebih jika tidak disertai perbaikan governance pada sektor pelayanan publik. Dalam bahasa yang berbeda, perbaikan governance pada sektor pelayanan publik merupakan prasyarat bagi keberhasilan di dalam membagun industri yang berdaya saing. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: trebuchet ms;" lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: trebuchet ms;" lang="IN"&gt; &lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;*Ketua Komite Nasional Kebijakan Governance&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9068598759995211418-7884592149033125821?l=lanskap-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/7884592149033125821'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/7884592149033125821'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lanskap-artikel.blogspot.com/2008/04/good-governance-sektor-pelayanan-publik.html' title='Good Governance Sektor Pelayanan Publik, Prasyarat Membangun Industri Berdaya Saing'/><author><name>LANSKAP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16525646099308139572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_GeVrtHBSwVI/SNiCsaeAeTI/AAAAAAAAAz4/Pl5X__vx_Nc/S220/Logo+LANSKAP.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9068598759995211418.post-488811066584077662</id><published>2008-04-26T05:08:00.000-07:00</published><updated>2008-04-26T05:11:34.447-07:00</updated><title type='text'>Kontribusi CSR dalam penanganan masalah sosial</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Oleh: Gatot Yan. S&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link style="font-family: trebuchet ms;" rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CGATOTY%7E1.S%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Book Antiqua"; 	panose-1:2 4 6 2 5 3 5 3 3 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:"Trebuchet MS"; 	panose-1:2 11 6 3 2 2 2 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="IN"&gt;Saat mengikuti Rapat Konsultasi Pengurus Karang Taruna Kabupaten/Kota se- Provinsi Banten dengan Dinsosnaker di Merak beberapa waktu yang lalu, saya tertarik dengan masukan dari seorang Pejabat Departemen Sosial yang menyarankan agar kami mengembangkan program CSR &lt;/span&gt;sebagai solusi alternatif atas ketidakberdayaan Pemerintah dalam mengakomodir banyaknya tuntutan terkait usaha peningkatan kesejahteraan sosial yang menjadi tugas pokok Karang Taruna. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="IN"&gt;Sekitar lima tahun yang lalu &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Corporate Social Responsibility &lt;/i&gt;(CSR) &lt;span style="color: black;" lang="IN"&gt;memang sempat “n&lt;i&gt;getrend&lt;/i&gt;” di Indonesia. Situasi dan momentum seperti ini harus terus dijaga agar kita tidak kembali lagi kepada masa-masa lalu, dimana &lt;i&gt;invisible-rules &lt;/i&gt;yang berjalan. Perusahaan cukup berlindung dibalik kekuasaan oknum-oknum tertentu saja untuk menghindar dari tuntutan masyarakat. Akhirnya masyarakat semakin marjinal dan miskin. Kita semua menyadari, bahwa selama lebih dari tiga dekade, ekonomi Indonesia dibangun atas dasar teori pertumbuhan yang memberikan peluang tak terbatas pada perusahaan-perusahaan besar untuk melakukan eksploitasi sumber-sumber kekayaan alam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="IN"&gt;Memang diakui, bahwa di satu sisi sektor industri atau korporasi-korporasi skala besar telah mampu memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, baik nasional maupun regional, tetapi di sisi lain ekploitasi sumber-sumber daya alam oleh sektor industri seringkali menyebabkan terjadinya degradasi lingkungan yang parah. Karakteristik umum korporasi skala-besar biasanya beroperasi secara &lt;i style=""&gt;enclave&lt;/i&gt;, dan melahirkan apa yang disebut sebagai &lt;i style=""&gt;“dual society”&lt;/i&gt;, yakni tumbuhnya dua karakter ekonomi yang paradoks di dalam satu area. Di satu sisi ekonomi tumbuh secara modern dan sangat pesat, tetapi di sisi masyarakat, ekonomi justru berjalan sangat lambat atau bahkan mandeg. Kehidupan ekonomi masyarakat semakin involutif, disertai dengan marginalisasi tenaga kerja lokal. Hal ini terjadi karena basis teknologi tinggi menuntut perusahaan-perusahaan besar lebih banyak menyedot tenaga kerja terampil dari luar masyarakat setempat, sehingga tenaga-tenaga kerja lokal yang umumnya berketerampilan rendah menjadi terbuang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="IN"&gt;Keterpisahan inilah yang kemudian menyebabkan hubungan perusahaan dengan masyarakat tempatan menjadi tidak harmonis dan diwarnai berbagai konflik serta ketegangan. Berbagai tuntutan seperti ganti-rugi atas kerusakan lingkungan, pemekerjaan (&lt;i&gt;employment&lt;/i&gt;), pembagian keuntungan, dan lain-lain sangat jarang memperoleh solusi yang mendasar dan memuaskan masyarakat. Situasi tersebut diperparah oleh kultur perusahaan yang didominasi cara berpikir dan perilaku ekonomi yang bersifat &lt;i&gt;profit-oriented &lt;/i&gt;semata. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="IN"&gt;Di masa-masa yang lalu keadaan seperti ini dipandang sebagai tidak ada masalah karena tradisi represif dalam pemerintahan kita masih sangat dominan. Namun perubahan tatanan politik Indonesia pada akhir tahun 90 -an telah mengubah secara drastis cara pandang tersebut. Masyarakat kini menginginkan suasana keterbukaan, termasuk dalam kaitan dengan pengelolaan berbagai sumberdaya alam dan kegiatan ekonomi pada umumnya. Pola hubungan masyarakat dan perusahaan juga sudah berubah secara total. Masyarakat kini telah semakin &lt;i&gt;well informed&lt;/i&gt;, sehingga daya kritis dan keberanian mereka untuk mengemukakan aspirasinya secara lebih terbuka semakin meningkat, termasuk tuntutannya terhadap perusahaan yang beroperasi di lingkungan mereka. Karena itu, pihak perusahan dituntut untuk membangun fundamental hubungan yang lebih baik, sehingga terbentuk sebuah kerangka hubungan yang harmonis antara perusahaan atau industri dengan lingkungan strategisnya. Hubungan baik tersebut, harus diletakkan pada prinsip-prinsip simbiosis mutualistis, saling pengertian dan saling memberi manfaat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="IN"&gt;Perubahan-perubahan pada tingkat kesadaran masyarakat itulah yang kemudian di Indonesia memunculkan kesadaran baru tentang pentingnya melaksanakan apa yang kita kenal sebagai &lt;i&gt;Corporate Social Responsibility &lt;/i&gt;(CSR). Pemahaman itu memberikan garis tuntunan (&lt;i&gt;guideline&lt;/i&gt;) bahwa korporasi bukan lagi sebagai entitas yang hanya mementingkan dirinya sendiri saja (&lt;i&gt;selfish&lt;/i&gt;) sehingga mengasingkan diri dari lingkungan masyarakat ditempat mereka bekerja, melainkan sebuah entitas usaha yang wajib melakukan adaptasi kultural dengan lingkungan sosialnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="IN"&gt;Secara teoritis, CSR dapat didefinisikan sebagai tanggung jawab moral suatu perusahaan terhadap para &lt;i&gt;strategic-stakeholders&lt;/i&gt;nya, terutama komunitas atau masyarakat disekitar wilayah kerja dan operasinya. Parameter keberhasilan suatu perusahaan dalam pandangan CSR adalah pengedepanan prinsip moral dan etis, yakni menggapai suatu hasil terbaik, dengan paling sedikit merugikan kelompok masyarakat lainnya. Salah satu prinsip moral yang sering digunakan adalah &lt;i&gt;golden-rules&lt;/i&gt;, yang mengajarkan agar seseorang atau suatu pihak memperlakukan orang lain sama seperti apa yang mereka ingin diperlakukan. Dengan begitu, perusahaan yang bekerja dengan mengedepankan prinsip moral dan etis akan memberikan manfaat terbesar bagi masyarakat. Karena itu, CSR dapat diartikan sebagai komitmen perusahaan untuk mempertanggungjawabkan dampak operasinya dalam dimensi sosial, ekonomi, dan lingkungan, serta terus-menerus menjaga agar dampak tersebut menyumbang manfaat kepada masyarakat dan lingkungan hidupnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="IN"&gt;CSR adalah konsep moral dan etis yang berciri umum, oleh karena itu pada tataran praktisnya harus dialirkan ke dalam program-program kongkrit. Salah satu bentuk aktualisasi CSR adalah Pengembangan Masyarakat atau &lt;i&gt;Community&lt;/i&gt; &lt;i&gt;Development (CD)&lt;/i&gt;. Lantas, bagaimana konsep CD yang benar bagi sebuah perusahaan? Dalam konteks Indonesia, oleh karena sebagian besar masyarakat di lingkungan industri kita berada dalam kondisi “&lt;i style=""&gt;termarginalkan”&lt;/i&gt;, maka kegiatan CD yang relevan adalah program yang didedikasikan pada; peningkatan pendapatan (ekonomi) atau kesejahteraan masyarakat, masalah-masalah pemekerjaan, peningkatan pendidikan, kesehatan masyarakat, penguatan kelembagaan lokal serta tersedianya &lt;i&gt;basic &lt;/i&gt;infrastruktur yang memadai. Rumusan di atas berangkat dari tujuan pelaksanaan CD, yang antara lain: Meningkatnya kemampuan masyarakat dalam menemukan alternatif ekonomi dalam jangka panjang; Meningkatnya kualitas kehidupan masyarakat, baik dalam dimensi ekonomi, sosial, maupun budaya; Menguatnya kelembagaan lokal yang mampu memelopori tumbuhnya prakarsa -prakarsa lokal dan; Kemandirian masyarakat, baik dalam bidang politik, ekonomi maupun budaya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="IN"&gt;Kini diakui telah banyak korporasi yang mulai sadar akan pentingnya menjalankan CSR, meskipun masih banyak juga yang belum menjalankannya dengan benar. Dari sisi cara penyampaian dan peruntukannya, banyak perusahaan yang sudah &lt;i&gt;well-planned &lt;/i&gt;dan bahkan sangat &lt;i&gt;integrated &lt;/i&gt;sedemikian rupa sehingga sangat sistematis dan methodologis dalam menjalankan program CSR. Tetapi tidak sedikit pula perusahaan yang pengeluaran dana CSR-nya berbasis kepada proposal yang diajukan masyarakat. Karena itu, perlu suatu regulasi yang mengatur konsep dan jenis CSR dalam rangka &lt;i&gt;law enforcement&lt;/i&gt;, dan kesejahteraan masyarakat lokal. Perusahaan-perusahaan perlu diyakinkan, bahwa ada korelasi positif antara pelaksanaan CSR dengan meningkatnya apresiasi dunia internasional maupun domestik terhadap perusahaan bersangkutan. Karena itu, penerapan CSR tidak seharusnya dianggap sebagai &lt;i&gt;cost &lt;/i&gt;semata-mata, melainkan juga sebuah investasi jangka panjang bagi perusahaan bersangkutan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="IN"&gt;Maka sungguh diberharapkan pemerintah dalam hal ini Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota dapat memprakarsai adanya peraturan yang baik, yang memungkinkan dijalankannya &lt;i&gt;law enforcement &lt;/i&gt;bagi implementasi CSR di Provinsi Banten. Peraturan yang baik berarti peraturan yang memenuhi nilai-nilai yang hidup dan berkembang di masyarakat. Bukan saja masyarakat sekitar lokasi perusahaan, melainkan juga masyarakat dunia usaha itu sendiri. Selama ini, CSR di lingkungan perusahaan swasta masih bersifat sukarela (&lt;i&gt;voluntary&lt;/i&gt;), dan karena itu wajar jika penerapannya masih bebas tafsir berdasarkan kepentingan korporasi masing-masing. Di sinilah letak pentingnya pengaturan CSR, agar memiliki daya atur, daya ikat dan daya dorong. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="IN"&gt;CSR yang semula bersifat &lt;i&gt;voluntary &lt;/i&gt;perlu ditingkatkan menjadi CSR yang lebih bersifat &lt;i&gt;mandatory&lt;/i&gt;. Dengan demikian, dapat diharapkan kontribusi dunia usaha yang terukur dan sistematis dalam ikut meningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya di &lt;/span&gt;Provinsi Banten yang hingga pertengahan 2007 masih memiliki 1,5 juta jiwa Penyandang Masalah kesejahteraan Sosial (PMKS) dengan sekitar 27 kategori permasalahan yang beragam&lt;span style="color: black;" lang="IN"&gt;. Penerbitan regulasi yang mengatur&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;masalah CSR ini sangat mungkin diterapkan di Provinsi Banten karena beberapa Kabupaten/Kota diwilayah ini sudah tumbuh menjadi Kawasan Industrialisasi yang berimplikasi pada semakin kompleksnya permasalahan sosial dilingkungan setempat, terkhusus di Kabupaten Tangerang yang berjuluk “Kota Sejuta Industri”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="IN"&gt;Kebijakan yang pro-masyarakat dan lingkungan seperti ini sangat dibutuhkan ditengah arus neo-liberalisme seperti sekarang ini. Sebaliknya disisi lain, masyarakat juga tidak bisa seenaknya melakukan tuntutan kepada perusahaan, apabila harapannya itu berada diluar batas aturan yang berlaku. Dengan adanya aturan hukum, maka perbedaan kepentingan antara para pihak baik perusahaan dan masyarakat dapat dijembatani secara elegan. Jika kemitraan ini terjalin baik, dapat dipastikan bahwa korporasi dan masyarakat dapat berhubungan secara co-eksistensial, simbiosis-mutualistik dan kekeluargaan, sehingga pada gilirannya akan meminimalisir potensi munculnya masalah-masalah sosial yang belakangan kian tak terkendali. Meski demikian, perlu kehati-hatian agar intervensi dan regulasi pemerintah terhadap dunia usaha ini, khususnya terhadap aktualisasi CSR tidak terjebak pada birokratisasi yang melelahkan dan berbiaya tinggi. Regulasi yang berlebihan justru menimbulkan &lt;i&gt;counter-productive &lt;/i&gt;terhadap proses demokratisasi yang tengah terjadi di Indonesia saat ini. Regulasi dalam konteks ini diperlukan agar semua komponen berjalan atas dasar &lt;i&gt;rule of law&lt;/i&gt;, patuh atas aturan main yang jelas, sehingga parameternya pun menjadi jelas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="IN"&gt;Melaksanakan CSR secara konsisten dalam jangka panjang akan menumbuhkan rasa keberterimaan masyarakat terhadap kehadiran perusahaan. Kondisi seperti itulah yang pada gilirannya dapat memberikan keuntungan ekonomi-bisnis kepada perusahaan yang bersangkutan. Dengan pemahaman seperti itu, dapat dikatakan bahwa, CSR adalah prasyarat perusahaan untuk bisa meraih legitimasi sosiologiskultural yang kuat dari masyarakatnya. Dalam tataran praktis, CSR seringkali diinterpretasikan sebagai pengkaitan antara pengambilan keputusan dengan nilai-nilai etika, pemenuhan kaidah-kaidah hukum serta menghargai martabat manusia, masyarakat dan lingkungan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: black;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: black;" lang="IN"&gt;*&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; color: black;" lang="IN"&gt;Direktur Eksekutif LANSKAP&lt;br /&gt;(Tulisan ini telah dimuat di Harian TANGERANG TRIBUN pada tanggal 8 September 2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9068598759995211418-488811066584077662?l=lanskap-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/488811066584077662'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/488811066584077662'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lanskap-artikel.blogspot.com/2008/04/kontribusi-csr-dalam-penanganan-masalah.html' title='Kontribusi CSR dalam penanganan masalah sosial'/><author><name>LANSKAP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16525646099308139572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_GeVrtHBSwVI/SNiCsaeAeTI/AAAAAAAAAz4/Pl5X__vx_Nc/S220/Logo+LANSKAP.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9068598759995211418.post-2264268868035692880</id><published>2008-04-26T05:03:00.000-07:00</published><updated>2008-04-26T05:05:48.654-07:00</updated><title type='text'>Substansi Pelibatan Publik</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms; font-weight: bold;"&gt;Oleh Gatot Yan. S*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link style="font-family: trebuchet ms;" rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CGATOTY%7E1.S%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Book Antiqua"; 	panose-1:2 4 6 2 5 3 5 3 3 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoBodyText, li.MsoBodyText, div.MsoBodyText 	{margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:IN;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Tulisan ini sesungguhnya merupakan ekspektasi dari keresahan penulis yang sudah agak lama mengganjal hati dan mengganggu pikiran. Kegalauan penulis muncul setelah sekian lama berkecimpung dilingkungan NGO yang menggeluti dunia penguatan publik, yang pada era Orde Baru lebih dikenal dengan istilah peran serta atau partisipasi masyarakat. Pada era reformasi ini sepertinya ada yang tidak pas kalau masih terus menggulirkan hal yang sama. Setidaknya makna dan substansi “peran serta masyarakat dalam kaitannya dengan program-program pemerintah” perlu diberi makna dan perspektif yang baru. Penulis menilai bahwa sesungguhnya masyarakat belum menjadi bagian dari aktor yang ikut serta dalam proses pengambilan keputusan. Sejalan dengan itu, diperlukan suatu &lt;i&gt;“Pola Hubungan Baru”&lt;/i&gt; antara pemerintah dan masyarakat. Pemerintah semestinya membuka ruang bagi masyarakat untuk terlibat dalam proses pengambilan keputusan terhadap semua kebijakan, program maupun proyek yang terkait dengan kepentingan masyarakat. Pola hubungan baru inilah yang kita sebut sebagai konsultasi publik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                        &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Bahwa masyarakat perlu terlibat dalam program pemerintah, pada saat Orde Baru hal itu pun sudah lama berlangsung. Nyatanya, implementasi keterlibatan masyarakat dalam program-program pemerintah tersebut hanyalah sebatas jargon, formalitas bahkan justru menjadi alat legitimasi belaka. Tidak jarang wujud dari partisipasi tersebut tidak lebih dari mobilisasi masyarakat untuk mendukung program pemerintah. Tapi setidaknya, partisipasi masyarakat telah tertulis dalam dokumen-dokumen resmi pemerintah, bahkan sampai pada level “proyek”. Padahal awalnya, partisipasi masyarakat hanya sebatas kritik kalangan NGO terhadap program pemerintah Orde Baru yang bersifat &lt;i&gt;top down&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Di era reformasi sekarang dan sejalan dengan proses demokratisasi yang terus berlangsung, tuntutan akan perlunya partisipasi masyarakat makin berkembang, dan lebih substansial. Partisipasi masyarakat yang dalam prakteknya hanya menjadi alat legitimasi program pemerintah, terus dipertanyakan. Partisipasi ataupun pelibatan publik yang hanya sekedar memberi masukan, tanpa dipertimbangkan lagi dalam pengambilan keputusannya oleh pemerintah, dipandang justru mengelabui dan merugikan masyarakat. Masyarakat yang kian kritis menuntut agar mereka dilibatkan secara teratur dalam hal-hal keseharian. Demokrasi harus lebih dari sekedar pemilihan umum. ---masyarakat juga mempunyai hak untuk menentukan kebijakan-kebijakan publik yang menjadi keprihatinan mereka sehari-hari--- ada banyak alasan kuat mengapa partisipasi masyarakat perlu dibangun. Salah satu pelajaran terpenting yang dapat kita pelajari dari berbagai studi tentang proyek pembangunan adalah bahwa keterlibatan publik dalam perencanaan dan pembuatan keputusan tentang sebuah proyek membuat proyek tersebut dapat diterima stakeholders dan dilaksanakan dengan sukses. Apabila keputusan-keputusan tentang proyek diambil hanya oleh birokrat dan politisi, akan muncul penolakan dan ketidakpercayaan dari pihak masyarakat. Masyarakat tidak percaya kepada pemerintah. Banyak sekali hal yang dipertentangkan, sehingga begitu pemerintah berbuat sesuatu, pasti akan ditentang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Dari manakah timbulnya ketidakpercayaan dan pertentangan ini? Adalah dari pemerintah yang selama beberapa dekade terakhir ini tidak percaya kepada warganya. Adalah dari pendekatan para teknokrat secara &lt;i&gt;top-down&lt;/i&gt; kepada kebijakan publik. Adalah hasil dari peraturan yang sampai sekarang masih bersifat otoriter dan sentralistik. Kenyataannya adalah bahwa selama beberapa dekade terakhir ini, kebijakan pemerintah diputuskan oleh para teknokrat, staff ahli dan birokrat, jauh dari pemikiran &lt;i&gt;civil society&lt;/i&gt;. Semua keputusan adalah hak dan monopoli pemerintah. Pemerintah merasa mereka lebih banyak tahu daripada masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Akan tetapi, oleh karena ketidakpercayaan yang tadi itu, dan kurangnya rasa penghargaan dari segi masyarakat, banyak NGO dan forum warga diabaikan dan pada akhirnya hanya bisa mengekspresikan sesuatu melalui protes dan penolakan. Pemerintah harus ingat bahwa para reformis ini tidak terbiasa dengan lingkungan pelaksanaan kebijakan ---mereka belum biasa atas waktu dan proses yang dibutuhkan untuk menangani ketidak-berdayaan pemerintah, mereka belum berpendidikan dalam menggunakan instrumen berpolitik untuk mencapai perubahan, dan mereka belum terbiasa dengan bahasa dan budaya birokrasi--- Hasil dari semua itu adalah salah pengertian, perlawanan dan kadangkala konflik. Adalah tugas pemerintah untuk membentuk forum publik, dimana kebijakan yang sangat sulit diterima dapat didiskusikan secara terbuka dan tenang, tanpa perasaan tertekan maupun diserang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Adanya peran-peran penting NGO dalam mendampingi &lt;i&gt;stakeholders&lt;/i&gt; publik, dan peran lembaga pemerintah yang lebih tinggi dalam menjembatani ketegangan antara elemen pelaku pembangunan, terbukti berhasil membuat terobosan-terobosan penting, sehingga kebuntuan yang berlarut-larut bisa diatasi, rencana proyek yang terkatung-katung bisa diproses kembali. Dialog publik dan pertemuan antara pemerintah juga memberi dampak terhadap kelancaran proyek itu sendiri karena ternyata dengan adanya kesepahaman semacam itu partisipasi masyarakat dan pemerintah menjadi kian tinggi. Proses dialog antar berbagai elemen yang berkaitan dengan penyelenggaraan proyek itu ternyata membawa implikasi penting yaitu adanya &lt;i&gt;sense of belonging&lt;/i&gt; terhadap program yang direncanakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Untuk menuju pada hasil tersebut memang harus dilalui berbagai proses, dengan prinsip-prinsip, strategi, mekanisme, dan model pendekatan yang berbeda. Bagaimanapun besarnya perbedaan pendapat, bila substansi proyek sendiri memang benar-benar merupakan upaya untuk mensejahterakan masyarakat, maka jalan penyelesaian atau titik temu akan bisa tercapai. Sebuah proyek yang sama sekali tidak ada manfaatnya bisa digugurkan, jika stakeholders menghendaki. Dari situ kelihatan bahwa partisipasi sosial menjadi sangat penting. Karena itu, pelibatan publik dalam sebuah proyek adalah soal politik atau kebijakan dan bukan semata-mata persoalan teknis. Disini pemerintah dituntut berbagi wewenang dengan masyarakat, karena pelibatan publik saat ini sangat berbeda dengan perencanaan partisipatif yang selama ini digunakan sebagai proses &lt;i&gt;bottom-up planning&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Pembagian otoritas antara pemerintah dengan masyarakat akan menghasilkan keputusan yang optimal, baik dilihat dari kepentingan masyarakat maupun kepentingan pemerintah. Memang sering muncul anggapan bahwa pelibatan publik akan memakan ongkos, waktu dan energi yang lebih banyak, tetapi dalam jangka panjang justru akan menghemat biaya ekonomi dan politik. Terbukti banyak kasus menunjukkan bahwa pelibatan publik yang benar malah bisa membuat pemerintah terhindar dari adanya penolakan-penolakan keputusan oleh masyarakat, yang mengakibatkan sebuah proyek menjadi terbengkalai. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Demikian pula dikalangan para stakeholders sendiri perlu ada pengertian yang sama tentang pelibatan publik, apa tujuannya, targetnya, otoritasnya, dan bagaimana prosesnya. Tanpa ada kesamaan pandangan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;maka proses maupun hasil pelibatan publik tak akan jelas arah yang ingin dicapai. Karena itu penegasan bahwa tujuan pelibatan publik adalah untuk pengambilan keputusan bersama &lt;i&gt;(joint decision making with public)&lt;/i&gt; sangat perlu ditetapkan dari awal. Kalau tidak, pelibatan publik akan terjatuh dalam dua hal: &lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, menjadi formalitas belaka, dilakukan sekedar untuk memenuhi tuntutan penyandang dana proyek. &lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, sekedar memberikan masukan kepada para pengambil keputusan. Dengan kata lain pelibatan publik hanya menjadi alat legitimasi pemerintah untuk mengambil keputusan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Pada dasarnya pelibatan publik adalah suatu proses dialog dan negosiasi antara kepentingan semua stakeholders untuk memperoleh keputusan yang optimal. Dasar dari proses dialog tersebut adalah: terbuka, demokratis dan rasional. Dalam kegiatan pelibatan publik, pihak pemerintah harus diwakili oleh &lt;i&gt;decision maker&lt;/i&gt; (bukan aparat teknis) yang bersedia memberikan informasi secara terbuka serta berbagi otoritas dengan masyarakat dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat. Sementara masyarakat sebagai stakeholders dituntut untuk dapat mengorganisir diri dan sedapat mungkin bisa memperoleh informasi tentang suatu masalah dengan sangat baik. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari distorsi didalam keterwakilan mereka dan distorsi informasi dalam setiap tahapan pelaksanaan pelibatan publik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Proses pelibatan publik ini perlu dilakukan secara berkesinambungan, mulai tahap-tahap ketika keberadaan proyek tersebut belum diputuskan sampai pengawasan pada saat proyek itu berlangsung. Dengan pelibatan dan perencanaan, maka diharapkan masyarakat juga akan terlibat dalam pemeliharaan. Tanpa mengurangi esensi kegiatan pelibatan publik, kegiatan pelibatan publik perlu dilembagakan dan memperoleh dasar hukum yang bersifat mengikat, baik bagi birokrasi pemerintahan maupun masyarakat, sehingga dapat digerakkan setiap waktu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: trebuchet ms;"&gt;Dalam proses ini peran NGO sebagai lembaga pendamping masyarakat sangat diperlukan. Pelembagaan keterlibatan publik bukan sekedar mengorganisir kekuatan publik, tetapi lebih pada memperkuat tradisi pelibatan publik, sehingga ia akan muncul dimana saja secara spontan tanpa harus ada desakan dari luar apalagi menunggu terjadinya konflik atau kebuntuan. Kondisi ini dikembangkan dalam proses pendampingan. Dengan adanya kontrol dari publik, maka pelaksanaan proyek demi proyek atau pembangunan yang hanya memenuhi kebutuhan pelaksana proyek saja tetapi merugikan masyarakat, bisa dihindari. Sepanjang pengalaman yang diperoleh menunjukkan bahwa mekanisme pelibatan publik walaupun memakan waktu, tetapi jauh lebih murah dan lebih efisien baik secara ekonomis dan secara waktu ketimbang proyek yang tanpa melibatkan publik. Banyak contoh membuktikan, bahwa proyek yang tidak melibatkan publik dipastikan akan mengalami pertentangan panjang, dan ketika menimbulkan apatisme masyarakat, proyek akan rusak karena tidak dirawat, sementara rehabilitasinya tentu akan menelan biaya yang jauh lebih besar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;*Direktur Eksekutif LANSKAP&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9068598759995211418-2264268868035692880?l=lanskap-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/2264268868035692880'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/2264268868035692880'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lanskap-artikel.blogspot.com/2008/04/substansi-pelibatan-publik.html' title='Substansi Pelibatan Publik'/><author><name>LANSKAP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16525646099308139572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_GeVrtHBSwVI/SNiCsaeAeTI/AAAAAAAAAz4/Pl5X__vx_Nc/S220/Logo+LANSKAP.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9068598759995211418.post-4447167412536435743</id><published>2008-04-26T04:52:00.000-07:00</published><updated>2008-10-19T02:49:54.700-07:00</updated><title type='text'>Relevansi Pembangunan Pantura Yang Representatif</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Oleh Gatot Yan. S&lt;/span&gt;*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;link style="font-family: trebuchet ms;" rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CGATOTY%7E1.S%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Tahoma; 	panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:1627421319 -2147483648 8 0 66047 0;} @font-face 	{font-family:"Book Antiqua"; 	panose-1:2 4 6 2 5 3 5 3 3 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:LibreSansSerifSSi; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:131 0 0 0 9 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoBodyText, li.MsoBodyText, div.MsoBodyText 	{margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:LibreSansSerifSSi; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.MsoBodyText3, li.MsoBodyText3, div.MsoBodyText3 	{margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Book Antiqua"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:Tahoma;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span  lang="ES-MX" style="font-size:100%;"&gt;Beberapa saat setelah UU Nomor 22 Tahun 1999 mengenai Otonomi Daerah diluncurkan, MarkPlus&amp;amp;Co memulai riset untuk merumuskan dan merancang sebuah model yang dapat digunakan oleh para Bupati dan &lt;i&gt;marketer&lt;/i&gt; daerah untuk mengembangkan dan memasarkan daerahnya. Hasil yang ditelurkan dari riset tersebut adalah model “Platform Pemasaran Daerah” dan &lt;i&gt;“Strategic Place Triangle”&lt;/i&gt; yang kemudian oleh para Kepala Daerah di beberapa Kabupaten/kota di Indonesia dijadikan sebagai dasar konsep pemasaran daerah dalam menjaring perhatian Investor. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span  lang="ES-MX" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span  lang="ES-MX" style="font-size:100%;"&gt;Timbulnya fenomena Otonomi Daerah mungkin tidak terlepas dari perubahan pola ditingkat global-regional, dimana mulai efektifnya pemberlakuan AFTA yang menuntut berbagai negara untuk mulai menggeser orientasi mereka dalam pengelolaan kawasan dari &lt;i&gt;local orientation&lt;/i&gt; ke &lt;i&gt;global-cosmopolit orientation&lt;/i&gt;. Dengan perkembangan baru ini, berbagai daerah di Indonesia dihadapkan pula pada persaingan global yang tidak bisa ditawar dengan daerah dan kota lain di seluruh dunia. &lt;/span&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:100%;"&gt;Jogjakarta misalnya, dalam sektor pengembangan Pariwisata kini tidak lagi bersaing dengan Bali, Bandung atau Jakarta, tapi sekaligus juga harus bersaing ketat dengan Kuala Lumpur, Phuket dan Singapura. Hal tersebutlah yang konon membuat Pemda Jogjakarta merasa &lt;i&gt;ketar-ketir&lt;/i&gt; dan buru-buru menggandeng MarkPlus&amp;amp;Co untuk merancang pola pemasaran pariwisata yang selanjutnya meluncurkan program kampanye branding &lt;i&gt;“Jogja Never Ending Asia”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:100%;"&gt;Berbagai perubahan besar tersebut akan memaksa Pemerintah Daerah diseluruh Indonesia untuk mulai meninjau ulang pendekatan dan cara pandang mereka dalam mengelola daerahnya masing-masing. Perubahan pertama akan memaksa Pemda untuk mentransformasi diri dari &lt;i&gt;bureaucratic-monopolistic government&lt;/i&gt; ke system Pemerintahan yang &lt;i&gt;entrepreneurial-competitive government&lt;/i&gt;, artinya pemda dituntut untuk jeli dan selalu berfikir keras dalam melihat dan memanfaatkan peluang yang muncul untuk memakmurkan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya. Disamping itu Pemda juga mesti mendorong adanya kompetisi penyedia layanan publik dalam upaya mereka memberikan &lt;i&gt;excellent-service&lt;/i&gt; kepada para konstituennya, apakah itu investor, wisatawan atau masyarakat luas. Perubahan kedua mengharuskan Pemda bermetamorfosis diri dari Pemda yang “cuek-bebek” menjadi Pemda yang berorientasi pelanggan dan bertanggung jawab terhadap seluruh &lt;i&gt;stakeholder&lt;/i&gt; nya secara seimbang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:100%;"&gt;Perubahan ketiga akan mendorong Pemda untuk mulai mengevolusi diri menjadi pemerintahan yang berwawasan global. Mereka membuka diri terhadap masuknya sumber daya global dan berupaya mendapatkannya, tidak perduli dari mana sumber daya tersebut berasal. Mereka membuka diri terhadap investor asing, perusahaan asing, kepemilikan asing, produk asing, teknologi asing, bahkan orang-orang terbaik asing, sejauh itu semua memiliki kontribusi positif terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat. Jargon “Putra Daerah” dalam pembangunan daerah misalnya, sudah waktunya dikesampingkan. Karena urgensinya disini adalah bagaimana mendapatkan talenta terbaik – terlepas darimana mereka berasal.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:100%;"&gt;Upaya lain yang tidak boleh lepas dari perhatian pemda dalam mencapai target proses pembangunan yang sinergi dan berkesinambungan adalah dengan terus menerus memperbaiki &lt;i&gt;liveability, investability&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;visitability&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;Liveability&lt;/i&gt; daerah bisa ditingkatkan dengan menjamin kompetitifnya biaya hidup (&lt;i&gt;cost of living&lt;/i&gt;), memperbaiki fasilitas umum dan layanan publik, menekan angka kriminalitas disamping tentu menciptakan lingkungan yang nyaman. &lt;i&gt;Investability&lt;/i&gt; ditingkatkan dengan menyediakan tenaga kerja terampil yang memadai, terus memperbaiki infrastruktur dan fasilitas produksi, menjamin tetap menariknya peluang investasi, akses yang mudah ke pusat-pusat bisnis nasional/global serta system birokrasi dan regulasi yang kondusif. Sementara &lt;i&gt;Visitability&lt;/i&gt; diperbaiki dengan menyediakan fasilitas transportasi dan akomodasi yang kompetitif, terus meng-&lt;i&gt;upgrade&lt;/i&gt; dan merevitalisasi tujuan-tujuan wisata, membangun kemudahan serta menciptakan suasana aman dan nyaman. Disamping itu, &lt;i&gt;global-oriented government&lt;/i&gt; juga berupaya keras membangun kemampuan inovasi, kapabilitas operasional dan jaringan berskala global sebagai jembatan bagi mereka untuk dapat berpartisipasi dan mengambil keuntungan maksimal dari terbentuknya ekonomi global.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:100%;"&gt;Jika kita sepakat mengadopsi konsep tersebut atau konsep manapun dalam proses pembangunan pantura yang inti tujuannya lebih diarahkan bagi pemberdayaan masyarakat dan peningkatan daya saing daerah, maka yang pertama harus dipersiapkan adalah bagaimana menjadi tuan rumah yang baik bagi berbagai kalangan yang akan terlibat dalam proses pembangunan tersebut, dan untuk menjadi tuan rumah yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;baik tentu harus tercipta kolaborasi kohesif antara masyarakat, kalangan bisnis dan pemerintah. Tiga pelaku utama ini menjadi semacam mata rantai yang tidak terpisahkan dan harus dapat saling mengeduksi agar mereka menjadi &lt;i&gt;knowledgeable&lt;/i&gt; dan terus menyamakan persepsi dalam rangka mendongkrak produktivitas daerah yang pada gilirannya juga akan mengangkat standar hidup masyarakat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:100%;"&gt;Melihat konsep yang nyaris mirip dengan pola &lt;i&gt;simbiosis mutualisme&lt;/i&gt; tersebut, maka menjadi hal yang teramat penting untuk selalu menjaga keutuhan dan kesamaan persepsi dari tiga mata rantai yang kesemuanya tentu memiliki kepentingan sesuai dengan kapasitas dan urgensinya masing-masing. Jika kita bicara tentang Pantura, sekilas akan terlintas dibenak kita betapa pantura Tangerang saat ini sudah disesaki oleh ratusan ribu atau bahkan jutaan masyarakatnya yang &lt;i&gt;majemuk, pluralistis, heterogen&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;multi dimensional,&lt;/i&gt; artinya disini tentu begitu banyak kepentingan dan aspirasi yang harus diakomodir secara adil, arif dan bijaksana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:100%;"&gt;Kendati demikian, ada aspek-aspek mendasar yang menjadi target Otonomi Daerah serta beragam retorika yang ada didalamnya yang tidak boleh kita kesampingkan, bahkan harus kita letakkan ditempat yang paling prinsipil. Dibalik semua penerapan konsep dan strategi dalam menyiasati persaingan global dan otonomi daerah, mesti kita pahami pula bahwa semuanya haruslah bermuara pada peningkatan kesejahteraan taraf hidup masyarakat sebagai sebuah tujuan akhir yang paling fundamental dan hakiki. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:100%;"&gt;Bahwa pemberian keleluasaan bagi Pemerintah Daerah untuk melakukan pengaturan dan pengurusan wilayahnya sendiri berdasarkan asas otonomi bertujuan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan dan peran serta masyarakat serta peningkatan daya saing daerah dengan tetap memperhatikan prinsip Demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan dan kekhususan suatu daerah dalam system Negara Kesatuan Republik Indonesia. Demikianlah kira-kira makna dan tujuan yang melandasi Legislatif dan Eksekutif Negeri ini menetaskan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;" class="MsoBodyText3"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;" class="MsoBodyText3"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:100%;"&gt;Dengan mengusung konsep kedaulatan rakyat, percepatan pembangunan pantura selayaknya lebih berorientasi dan mengedepankan kepentingan publik serta bertanggung jawab kepada publik. Bagaimanapun juga, masyarakat adalah kekuatan sejati yang kritis dan responsif yang memiliki kesadaran akan dirinya, Hak-haknya dan Kepentingan-kepentingannya. Mereka memiliki keberanian untuk menegaskan eksistensi diri, memperjuangkan pemenuhan hak-haknya, dan mendesak agar kepentingan-kepentingannya terakomodir melalui cara-cara yang prosedural dan demokratis. Sementara dilain sisi, minimnya tingkat kesadaran masyarakat akan dampak-dampak pembangunan yang berpotensi merusak sendi-sendi kehidupan semakin menguatkan indikasi terjadinya degradasi lingkungan hidup yang semakin tidak terkendali. Selain belum adanya keberpihakan pengambil kebijakan untuk memprioritaskan problem-problem kesejahteraan dan kemiskinan, juga dalam menentukan arah pembangunan yang ada, terkadang tidak dibarengi dengan penegakan hukum secara adil dan menyeluruh. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;" class="MsoBodyText3"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;" class="MsoBodyText3"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:100%;"&gt;Ironisnya, situasi ini menjadikan posisi korban pembangunan yang mayoritas adalah masyarakat marjinal semakin terpuruk bahkan hak-hak dasarnya tidak dipenuhi dan seakan terabaikan. Tingginya angka pengangguran, Rusaknya lingkungan hidup, kebanjiran dibeberapa kantong pemukiman serta proses pembangunan kawasan pantai yang kurang mempertimbangkan kearifan akan keanekaragaman hayati, berupa &lt;i&gt;mangrove&lt;/i&gt; dan berbagai ekosistem laut merupakan sebuah fakta bahwa target-target pembangunan ini belum mampu mengakomodir seluruh kepentingan masyarakat pantura.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;" class="MsoBodyText3"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"   lang="SV"&gt;Dilandasi oleh beragam kenyataan diatas, kita sepakat jika Pantura yang kita cintai dan kita bangga-banggakan ini harus dirubah oleh tangan-tangan profesional yang benar-benar memiliki &lt;i&gt;kapasitas, Integritas,&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;kredibilitas&lt;/i&gt; yang memadai agar tercipta keseimbangan antara laju pembangunan dengan peningkatan taraf kehidupan dan kesejahteraan masyarakat. Kita sepakat bahwa Percepatan Pembangunan Pantura adalah sebuah keharusan yang tidak bisa ditunda-tunda lagi, akan tetapi tanpa mengesampingkan niat baik pemerintah, seharusnya dipertimbangkan juga upaya untuk tetap menghormati dan mengangkat potensi, budaya dan kearifan lokal sehingga dalam mengambil kebijakan pembangunan kepentingan publik lebih dikedepankan dan tidak lagi sekedar membonceng dibalik kepentingan bisnis semata. Kita akan sangat bangga menjadi &lt;i&gt;Putra Pantura&lt;/i&gt; jika rangkaian proses pembangunan dipantura ini mampu membuat semua elemen masyarakat tersenyum lebar termasuk elemen Buruh, Petani, Nelayan, Pedagang Dll. Satu-satunya jawaban yang paling sederhana dan relevan agar kelompok masyarakat marjinal ini ‘&lt;i&gt;tersenyum’&lt;/i&gt; melihat proses pembangunan pantura adalah dengan senantiasa mempertimbangkan, menjaga dan melestarikan sumber-sumber kehidupan mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;*Direktur Eksekutif LANSKAP&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://lanskap-menu.blogspot.com/2008/02/sema-fisip-unis-tangerang.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(153, 0, 0); font-family: georgia;"&gt;Reklamasi Dadap&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9068598759995211418-4447167412536435743?l=lanskap-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/4447167412536435743'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/4447167412536435743'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lanskap-artikel.blogspot.com/2008/04/relevansi-pembangunan-pantura-yang.html' title='Relevansi Pembangunan Pantura Yang Representatif'/><author><name>LANSKAP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16525646099308139572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_GeVrtHBSwVI/SNiCsaeAeTI/AAAAAAAAAz4/Pl5X__vx_Nc/S220/Logo+LANSKAP.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9068598759995211418.post-7670397650453036349</id><published>2008-04-26T04:43:00.000-07:00</published><updated>2008-04-26T04:51:41.518-07:00</updated><title type='text'>KNPI dan Patronase dalam Degradasi Peran</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; font-weight: bold; font-family: courier new;"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:"Book Antiqua";  panose-1:2 4 6 2 5 3 5 3 3 4;  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:roman;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0cm;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} h4  {mso-style-next:Normal;  margin:0cm;  margin-bottom:.0001pt;  text-align:justify;  mso-pagination:widow-orphan;  page-break-after:avoid;  mso-outline-level:4;  font-size:12.0pt;  font-family:"Book Antiqua";} @page Section1  {size:612.0pt 792.0pt;  margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;  mso-header-margin:36.0pt;  mso-footer-margin:36.0pt;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;Oleh: Alfath Abdul Fatah*&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;Belajar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sejarah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kepemudaan tidak cukup dengan menghapalkan cerita tentang Budi Oetomo, dan sumpah pemuda. Juga tak cukup untuk paham sejarah berdirinya KNPI, dan menerimanya wadah tunggal untuk berhimpun pemuda kita. Kita boleh bangga dengan apa yang disumbangkan oleh kaum muda pada masanya masing-masing. Mereka adalah pahlawan dan harus kita akui, karena pemuda yang besar adalah pemuda yang pintar bercermin dari sejarah pendahulunya. Juga kaum muda memiliki karakter yakni sebagai pelapis generasi pewaris dan pelanjut kelangsungan hidup masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" face="trebuchet ms" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" face="trebuchet ms" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ada satu hal yang pasti dalam sejarah gerakan kaum muda di Indonesia, yakni semangat kepeloporan. Semangat ini adalah &lt;/span&gt;&lt;i style="font-family: trebuchet ms;"&gt;“Virus Psikologis”&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; sebagai energi dan daya dorong bagi pembaharuan. Virus ini lahir dari kesadaran sosial dan pembaharuan. Dengan semangat kepeloporan , sesuai bangunan psikologis yang kritis, skeptis, kaum muda senantiasa berjalan di garda terdepan untuk mengambil prakarsa perubahan dan pembaharuan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;menuju kondisi masyarakat yang lebih baik.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" face="trebuchet ms" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;h4  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/h4&gt;&lt;h4 style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;ETOS KAUM MUDA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" face="trebuchet ms" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" face="trebuchet ms" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" face="trebuchet ms" style="text-align: justify;"&gt;Semangat sejarah kepeloporan kaum muda hakikatnya adalah etik perjuangan untuk menegakan kebenaran dan fitrah manusia. Dan inilah menjadi tanggung jawab kita semua sebagai kaum muda terutama&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;KNPI sebagai Ormas tempat berhimpunnya kaum pemuda,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;memiliki tanggung jawab yang sangat besar. Semenjak kelahirnya, KNPI harus mampu membangun wacana perubahan bagi kaum muda dan menjadikannya sebagai anak masyarakat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang mandiri, visioner dan mampu menjadi subyek sosial. Karena kritik paling keras terhadap KNPI adalah ketidak mandiriannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;Sebagai sosok organisasi Pemuda, eksistensi KNPI banyak di pertanyakan, perannya makin surut, kiprahnya dinilai tidak bersentuhan dengan dinamika kepemudaan secara kualitatif. sehingga eksistensi KNPI lepas dari rumah sosialnya, juga KNPI hampir kehilangan jati dirinya. Kinerja KNPI sebagai wadah berhimpun visi, orientasi dan misi kaum muda dapat dikatakan tidak mantap, maka KNPI saat ini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;harus mampu mendongkrak jatidiri dan sosoknya. Orientasinya mampu dirumuskan dalam situasi sosial yang berubah, dan kinerjanya sebagai wadah berhimpun dapat di pertajam dengan kerja-kerja organisasi yang berkualitas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;Degradasi peran KNPI di atas bukan disebabkan oleh dukungan elit politik yang goyah tetapi oleh tuntutan dinamika kepemudaan yang bergeser dan dinamika internalnya. Perhatian pemerintah terhadap KNPI sangatlah besar bila dibandingkan dengan OKP lainnya. Tetapi perhatian ini tidak mampu mendongkrak kinerja KNPI yang sehat dan berkualitas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;h4 style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/h4&gt;&lt;h4  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;PATRONASE &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;KNPI sebetulnya merupakan cerminan relasi antara negara dan kaum&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;muda, sekaligus sebagai produk dari relasi itu. Membicarakan KNPI dengan mengabaikan variable negara hanya akan menjelaskan tampak luarnya, sementara realitas terdalam tidak dapat dibaca. Tampak luar itu adalah realitas internal KNPI yang seakan tegak sebagai sosok organisasi yang otonom, padahal tidak,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;karena&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;KNPI lahir dari kebijakan korporatisme yang kemudian segenap kebijakan strategis dari KNPI menjadi harus mendapatkan persetujuan pemerintah (penguasa). Artinya organisasi atau ormas yang menentang terhadap kebijakan pemerintah dapat dibubarkan atau dibekukan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;KNPI yang merupakan produk dari kebijakan korporatisme tentu tidak mudah untuk melepaskan dari logika pembinaan atau pengendalian. Pembinaan inilah yang sangat kondusif bagi berkembangnya budaya restu. Karena tanpa restu dan dukungan dari sang Pembina akan mempunyai makna dan nihil politik. Budaya restu ini mempunyai implikasi yang sangat dominan. Orientasi aktivitas pemuda yang memliki karakter yang kritis akan terkungkung &lt;i&gt;(kooptasi)&lt;/i&gt;, sehinnga tidak mampu melakukan tekanan &lt;i&gt;(pressure)&lt;/i&gt; kepada pemerintah dalam menyalurkan aspirasinya politiknya. Fungsinya hanya sekedar saksi dan legitimasi bagi formalisasi ketukan palu yang sudah diputuskan sebelumnya. Forum pengambil kebijakan kehilangan dinamika, karena lebih banyak dikendalikan oleh remote kekuatan di balik layar. Untuk mendapatkan restu dan memenuhi kepentingan politiknya, bagi aktivitas mutlak dibutuhkan patronase politik. Sang pemimpin ibarat klien politik yang mencari fatronnya yang berfungsi sebagai pelindung, sekaligus kekuatan pendongkrak bagi mobilitas politiknya, Sedangankan sang patron (penguasa) si klien menjadi kepanjangan tangannya, untuk melakukan pembinaan atau pengendalian politik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;Realitas tersebut tidak mudah untuk merubahnya. Kalupun berubah hanya pergeseran personal, baik pada tingkat klien dan patron (penguasa). Klien bisa mencari patron baru bila yang lama sudah tidak berkuasa. Sebaliknya patron juga gampang mencari klien baru, bila yang lama ternyata tidak cakap atau mbalelo.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;Hal tersebut telah terjadi di tubuh KNPI Kabupaten Tangerang, Inilah yang menjadi faktor determinan. Soal kualitas, kapabilitas, kapasitas dan integritas pribadi bukanlah sesuatu yang menentukan, meski tetap penting. Dalam kondisi demikian, maka restu politik sang patron termasuk kekuatan finansial menjadi faktor yang paling penting. Sementara forum-forum yang berdimensi intelektual dan kritis dapat dikatakan hilang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;h4 face="trebuchet ms" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/h4&gt;&lt;h4 face="trebuchet ms" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;VISI&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;KNPI KE DEPAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;Memperhatikan kondisi tersebut diatas, serta berbagai peluang ke depan, maka terdapat beberapa hal yang mesti diperhatikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;oleh para aktivis KNPI kabupaten Tangerang dalam menata organisasinya ke depan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;KNPI sebagai wadah berhimpun pemuda Kabupaten Tangerang, semakin dituntut untuk mengembangkan sikap-sikap kepemudaan yang kritis dan progresif, sekaligus menghindarkan diri dari sikap dan prilaku yang membebek &lt;i&gt;(epigonistik).&lt;/i&gt; Prilaku tersebut bukan tidak sejalan dengan dinamika kepemudaan yang kritis dan dinamis, Tetapi akan membuat image bahwa KNPI tidak lebih sebagai kepanjangtanganan pemerintah untuk meredam dinamika kaum muda yang memiliki karakter &lt;i&gt;agent of chengs&lt;/i&gt; di Kabupaten Tangerang. Selain itu KNPI dituntut untuk tidak apriori terhadap elemen apapun baik pemerintah maupun berbagai dinamika ragam potensi kepemudaan di antaranya LSM dan OKP lainnya. KNPI juga harus mampu menyikapi secara obyektif berbagai problem sosial yang terjadi dan menyikapinya secara kritis, korektif dan konstruktif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Kedua,&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; KNPI harus tanggap atas realitas dan dinamika kepemudaan yang mulai jenuh. Karena kejenuhan ini semakin jelas sebagai bentuk protes terhadap berbagai realitas sosial seperti, ketidak adilan, KKN dsb. Problema tersebut mesti diantisipasi dengan berbagai bentuk dan ragam pemikiran, sikap dan aktivitas. Karena hal tersebut akan memberikan kontribusi yang besar bagi KNPI secara positif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Ketiga,&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; KNPI perlu menyeimbangkan proporsi orientasinya baik orientasi politik, ekonomi maupun kulturalnya, Orientasi terhadap politik menjebak KNPI pada kepentingan pragmatis yang sempit dan sesaat. Karena KNPI akan kehilangan sikap kritis dan progresif, serta akan menjadi klien system patronase politik. Padahal politik KNPI adalah politik pemuda yang bernuansa luas dan bervisi kedepan, yakni pengembangan demokrasi dan kemandirian pemuda. Dalam membangun politik KNPI yang demikian maka dialog dengan berbagai elemen&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;harus terus menerus dilakukan sehingga akan melahirkan visi sosial yang tajam dan akan menjadi cerminan masyarakat secara luas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Keempat,&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; Mari kita kembali ke Khittah KNPI sebagai wadah pemuda harus senantiasa dijaga dan diejawantahkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam program organisasi. Sehingga KNPI tidak lagi dimonopoli kalangan tertentu, sementara kualitas perannya semakin hilang. Sebagai wadah Pemuda, KNPI eksistensinya dituntut harus mampu memainkan perannya dalam bersentuhan dengan kebutuhan, aspirasi dan kepentingan segenap pemuda Kabupaten Tangerang, khususnya dalam aktualisasi potensi yang dimilikinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Kelima,&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;secara internal&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;banyak problem KNPI yang mendesak mesti dibenahi sebagai jawaban logis dari dinamika internal maupun eksternal.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Problem-problem inilah yang menjadi sebab mengapa KNPI terasa mengalami degradasi peran, meski metabolisme organisasi masih berjalan normal. Serta memperkukuh nilai-nilai independensi sebagi peran untuk menjaga kredibilitas KNPI. Hal ini patut diperhatikan, demi senantiasa menjaga obyektifitas dan kekritisan kerja-kerja KNPI.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  lang="SV" &gt;&lt;br /&gt;Hal yang tersebut diatas juga mesti dilakukan pada potensi-potensi kaum muda lainnya yang konsern terhadap perkembangan pembangunan di kabupaten Tangerang, Benar bahwa KNPI disiapkan oleh pemerintah sebagai wadah berhimpun para pemuda, tetapi berbagai benturan antara perspektif pemikiran dan kepentingan lebih mengedepan dari pada kerja-kerja kemanusiaan dan kemasyarakatan yang dilakukan. Belum lagi dengan munculnya saling sinis antara komunitas study dan gerakan dengan aktivis LSM, atau kelompok independen lainnya, Sekali lagi konflik tersebut membutuhkan dialog keterbukaan, karena tujuan masing-masing tampaknya tidak berbeda yakni untuk mensubstansikan masa depan kabupaten Tangerang yang sejahtera.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;&lt;span lang="SV"&gt;*Divisi Hukum &amp;amp; Advokasi LANSKAP, mantan Pengurus KNPI Kab. Tangerang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:12;"  lang="SV" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:12;"  lang="SV" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9068598759995211418-7670397650453036349?l=lanskap-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/7670397650453036349'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/7670397650453036349'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lanskap-artikel.blogspot.com/2008/04/knpi-dan-patronase-dalam-degradasi.html' title='KNPI dan Patronase dalam Degradasi Peran'/><author><name>LANSKAP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16525646099308139572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_GeVrtHBSwVI/SNiCsaeAeTI/AAAAAAAAAz4/Pl5X__vx_Nc/S220/Logo+LANSKAP.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9068598759995211418.post-8306678982042604077</id><published>2008-04-25T00:01:00.000-07:00</published><updated>2008-04-25T00:04:15.009-07:00</updated><title type='text'>Penilaian Kinerja Pelayanan Publik</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Terjadinya silang pendapat antara beberapa Satuan Perangkat Kerja Daerah (SKPD) dengan pihak konsultan Sucofindo ketika mempresentasikan kerangka acuan rencana kerjasama untuk melakukan serangkaian penilaian kinerja di bidang pelayanan Puskesmas di Kota Tangerang. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Perbedaan pandangan yang membuahkan keraguan akan independensi Sucofindo pada saat melakukan penilaian kinerja Puskesmas itu, apakah dapat dijamin sikap sportivitas/fairnessnya. Namun dimaklumi Konsultan Sucofindo salah satu lembaga swasta yang memiliki kompetensi di bidangnya mau melakukan perbuatan yang tidak terpuji. Kita berkeyakinan tidak demikian halnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Sertifikasi ISO-9000 yang dikeluarkan Sucofindo kepada unit Organisasi Pemerintah atau pun organisasi swasta masih sangat layak kredibilitasnya. oleh karena itu Pemerintah Kota Tangerang mempercayakan konsultan Sucofindo untuk melakukan penilaian kinerja pelayanan puskesmas apakah telah memberikan kepuasan masyarakat atau malah sebaliknya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Kualitas pelayanan publik khususnya bidang pelayanan kesehatan sebagai pemenuhan kebutuhan layanan yang diberikan sudah sepatunya memberikan kepuasan terhadap masyarakat. Pelayanan publik yang diberikan oleh segenap Aparatur Pemerintahan Kota Tangerang sudah saatnya menjadi memiliki daya saing yang tinggi dalam berbagai aktivitas publik atau menjadi center of excellence, sebagai pusat keunggulan manajemen pemerintahan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Kepuasan masyarakat terhadap aktivitas layanan yang diberikan itu dari perspektif teoritis agar memuat prinsip-prinsip dasar antara lain, (1) &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Transparansi&lt;/span&gt;, yakni pelayanan yang bersifat terbuka, mudah dan dapat diakses oleh semua pihak yang membutuhkan; (2) &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Akuntabilitas&lt;/span&gt;, yakni pelayanan yang dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; (3) &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;kondisional&lt;/span&gt; yaitu aktivitas pelayanan yang diberikan sesuai dengan kondisi dan kemampuan pemberi dan penerima pelayanan dengan tetap berorientasi pada aspek efisiensi dan efektivitas; (4) &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;partisipatif&lt;/span&gt; adalah segenap aktivitas pelayanan publik agar dapat menstimulasi peran serta seluas-luasnya kepada masyarakat dengan memperhatikan segenap aspirasi, kebutuhan, dan harapan masyarakat; (5) Adanya kesamaan hak, yaitu segenap aktivitas pelayanan hendaknya tidak melakukan perlakuan diskriminatif terhadap masyarakat; (6) Azas keseimbangan antara hak dan kewajiban, yaitu segenap aktivitas pelayanan publik hendaknya mempertimbangkan aktivitas aspek keadilan antara pemberi dan penerima pelayanan tersebut. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Untuk itulah tentunya kita agar berpikir jernih. Terkait dengan penilaian yang dilakukan dan bahkan hasilnya juga dapat dirasakan diantaranya tahun 2003 konsultan Sucofindo melakukan penilaian aset daerah. Danbahkan pihak Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK-RI), ketika melakukan pemeriksaan Neraca Awal salah satunya menggunakan input data dari Sucofindo. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;hasil pemeriksaan BPK-RI terhadap penyusunan neraca awal itu menunjukkan opini bahwa Pemerintah Kota Tangerang wajar dengan mengecualian artinya tidak terjadi disclaimer. Semoga prestasi yang kita raih ini dapat terus dipertahankan serta ditingkatkan. Komitmen kuat Walikota Tangerang bersama jajaran MUSPIDA dan DPRD dalam membangun sebuah Pemerintahan yang bersih, bebas dari praktek KKN(Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) telah digelorakan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Hal ini sebagai bentuk konkrit dari bagaimana menciptakan Aparatur Pemerintah Kota Tangerang sebagai pengelola utama pelayanan publik hendaknya terus menyempurnakan secara terus menerus terhadap kinerja pelayanan yang diberikan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Menciptakan tata kepemerintahan yang baik (good corporate governance) memerlukan kerja keras dan kerjasama secara sinergi antara seluruh komponen yang ada. Tanpa itu mustahil dapat kita wujudkan. Oleh karena itu semangat kebersamaan dalam berbuat kebaikan merupakan nilai-nilai akhlak yang luhur serta terpuji agar bersemayam di hati masyarakat Kota Tangerang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;i style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Oleh: HM Harry Mulya Zein&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sekda Kota Tangerang&lt;br /&gt;sumber: www.tangerangkota.go.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9068598759995211418-8306678982042604077?l=lanskap-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/8306678982042604077'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/8306678982042604077'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lanskap-artikel.blogspot.com/2008/04/penilaian-kinerja-pelayanan-publik.html' title='Penilaian Kinerja Pelayanan Publik'/><author><name>LANSKAP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16525646099308139572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_GeVrtHBSwVI/SNiCsaeAeTI/AAAAAAAAAz4/Pl5X__vx_Nc/S220/Logo+LANSKAP.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9068598759995211418.post-4298194793791665911</id><published>2008-04-24T16:40:00.000-07:00</published><updated>2008-04-24T16:42:31.025-07:00</updated><title type='text'>Miskin, Tetapi Masih Pertahankan Budaya</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Seperangkat alat gambang kromong dan tehyan tersimpan di rumah Khow Peng Tjuk (64) di Kelurahan Selapangjaya, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang. Peng Tjuk dikenal sebagai pemain tehyan. Bersama adiknya, Khow Peng Ok (57), Peng Tjuk sering mendapat pesanan tampil mengiringi pesta perkawinan di kawasan pinggir Bandara Soekarno-Hatta tersebut. Gambang kromong memang salah satu bukti akulturasi budaya China dan Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Peng Tjuk dan Peng Ok adalah dua warga Tangerang yang acap disebut sebagai China Benteng. Kulit mereka gelap, tidak seperti warga Tionghoa lainnya. Empat puluh persen warga Kelurahan Selapajangjaya adalah orang Tionghoa yang sudah hidup turun-temurun di sana. Mereka adalah generasi ketiga. Hingga kini, sebagian dari mereka hidup pas-pasan, bahkan serba kekurangan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Rumah Peng Ok (57) sangat sederhana. Dindingnya terbuat dari tripleks dan atapnya atap rumbai. Peng Ok tinggal di sana sejak lahir. Namun, lelaki lulusan sekolah rakyat (SR) atau sekolah dasar itu terjerat kemiskinan struktural karena tak punya keterampilan lain. ”Dulu kakek punya sawah luas, tapi sudah digusur untuk bandara. Bahkan, SR di Kedaung Wetan pun ikut tergusur,” ceritanya kepada Kompas, Selasa (5/2) siang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat China Benteng di Tangerang sejak dulu memang dikenal berkulit gelap dan menghadapi kehidupan yang keras. Sebagian berhasil menjadi pedagang dan pengusaha, namun lebih banyak yang hidup sebagai pedagang kecil bahkan tukang cuci.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang tinggal di sekitar bandara umumnya kakek-nenek mereka dulu pernah memiliki sawah di lahan yang sekarang berubah menjadi bandar udara internasional. Tetapi, ganti rugi yang diperoleh pada saat itu tidak dapat mengangkat mereka dari kemiskinan struktural.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Istri Peng Tjuk bekerja sebagai pembuat dan penjual kue. Sang istri, Ny Neni, bersama empat anaknya bekerja keras siang malam agar dapat memperoleh uang dari hasil kue jajanan pasar itu. Namun, Peng Tjuk sendiri mengaku tidak bekerja dan ikut dalam grup kesenian itu. Dia mempraktikkan memainkan alat tehyan dan memainkan lagu Jali-Jali. Setiap kali dapat pesanan tampil di rumah kawin, Peng Tjuk dan Peng Ok bersama grupnya dibayar Rp 100.000 untuk dua malam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah Kota Tangerang sejak tahun 2004 menjadikan gambang kromong dan barongsai sebagai bagian dari promosi pariwisata. ”Grup-grup kesenian Tionghoa ini bahkan sering kami ajak pentas di mana-mana,” kata Kepala Seksi Promosi Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Pariwisata Kota Tangerang Yusef Zaenal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Jeffrey (24), pemuda Tionghoa, misalnya, sudah berulang kali diajak pemkot menggelar pertunjukan liong dan barongsai di berbagai kota di Indonesia. Ketua Umum Perkumpulan Barongsai Kelenteng Boen Tek Bio, Tangerang, ini memiliki 80 anggota. Pada bulan Februari ini, grup ini sembilan kali tampil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;oleh: R. Adhi Kusumaputra&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9068598759995211418-4298194793791665911?l=lanskap-artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/4298194793791665911'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9068598759995211418/posts/default/4298194793791665911'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lanskap-artikel.blogspot.com/2008/04/miskin-tetapi-masih-pertahankan-budaya.html' title='Miskin, Tetapi Masih Pertahankan Budaya'/><author><name>LANSKAP</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16525646099308139572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='8' src='http://4.bp.blogspot.com/_GeVrtHBSwVI/SNiCsaeAeTI/AAAAAAAAAz4/Pl5X__vx_Nc/S220/Logo+LANSKAP.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9068598759995211418.post-8874694143779169499</id><published>2008-04-24T16:27:00.000-07:00</published><updated>2008-04-24T16:30:13.915-07:00</updated><title type='text'>Katakan dengan YouTube</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;TEKNOLOGI komunikasi dan informasi memang terus berkembang. Jumlah pemilik weblog terus bertambah. Dan bukan hanya dengan kata-kata, jutaan orang mengekpresikan diri, tetapi juga melalui gambar. YouTube, video online yang memiliki slogan Broadcast Yourself, makin digemari. Dirilis sejak Februari 2005, YouTube kini diklik jutaan orang di dunia. Bahkan Google Inc melihat potensi YouTube dan kemudian mengakuisisinya pada November 2006.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Jutaan orang di dunia kini saling berbagi cerita, gambar melalui YouTube. Dan kini orang bisa mencari apa saja lewat YouTube. Saya pernah membaca bahwa industri rekaman di Amerika Serikat cukup terpukul dengan kehadiran YouTube. Bagaimana tidak, jika kita bisa dengan leluasa mendapatkan lagu-lagu dari grup band atau penyanyi dari YouTube dan mendengarkannya dengan santai lewat ear-phone atau head-phone. YouTube memang bekerja sama dengan CBS, BBC, Universal Music Group, Warner Music Group, The Sundance Channel dan banyak lagi. Liputan media dunia tentang YouTube pun makin banyak.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Dan yang menarik, September 2007 lalu, perusahaan produsen kamera digital dari Jepang, Casio mengeluarkan produk didesain khusus untuk YouTube, website berbagi-foto. Empat seri terbaru Exilim dapat digunakan untuk mengambil video yang kemudian di-upload ke YouTube.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Kandidat Presiden Amerika Serikat memanfaatkan YouTube sebagai salah satu alat kampanye. Dan Anda tahu, 90 persen rakyat Amerika memang sudah melek internet sehingga lebih mudah bagi Barack Obama, Hillary Clinton, John McCain menjangkau konstituen, penduk
