Minggu, 24 Februari 2008

SIKAP PEMIMPIN SEJATI

Oleh: Gatot Yan. S*


Bulan Januari 2008 mendatang masyarakat Kabupaten Tangerang akan melangsungkan hajatan besar, Pilkada Langsung. Hajatan ini pantas untuk dikatakan besar mengingat pasangan yang akan terpilih nanti pada kenyataannya akan mengatasnamakan rakyat untuk membuat dan menjalankan kebijakan-kebijakan yang menentukan nasib lebih dari 3 juta jiwa penduduk Tangerang.


Suka atau tidak suka, merekalah yang kemudian akan menorehkan tinta sejarah “Kota Sejuta Industri” ini. Mereka-mereka yang akan berlabelkan elit politik inilah yang nanti akan mendapat sebutan sebagai pimpinan rakyat, meskipun masih menjadi tanda besar apakah mereka mampu menjadi pemimpin yang sejati, atau justru menjadi pemimpin yang menghianati amanat rakyat.


Masyarakat menaruh harapan besar ke pundak mereka. Harapan akan berakhirnya masa-masa penderitaan yang selalu dibebankan kepada rakyat nampak jelas tercermin dari besarnya keinginan untuk berubah dan tingginya animo mereka untuk berpartisipasi dalam perhelatan Pilkada mendatang.


Masyarakat tidak berharap apapun selain keinginan untuk bersama-sama menuju kehidupan yang adil dan sejahtera. Seluruh masyarakat telah dengan sabar menunaikan tugasnya untuk berpartisipasi dalam setiap kebijakan yang dibuat (termasuk taat dalam membayar pajak). Sekarang saatnya para pemimpin membuktikan bahwa dirinya memang pemimpim sejati yang layak terpilih untuk memimpin rakyat. Sikap pemimpin sejati yang diharapkan oleh rakyat antara lain adalah:


1. Berfikir dan Bertindak ilmiah.


Tidak dapat dipungkiri bahwa selama ini kita masih dikuasai tipe-tipe pemimpin yang bergerak berdasarkan feeling atau pemikiran sesaatnya. Tidak heran jika pertarungan gagasan di level elit politik termasuk hal yang tidak mudah kita temui. Para pemimpin kita saat ini, hampir di semua level lebih menyukai pertarungan retorika, pilihan kata, media dan bahkan pertarungan massa. Lobi politik jauh lebih penting ketimbang mempertajam gagasan yang akan diusung.


Sejatinya, calon pemimpin harus menghargai rakyat yang akan memilihnya dengan tidak sekedar memberi janji dan simpati, tetapi lebih jauh mampu memberikan gambaran kepada masyarakat ke mana arah pembangunan ini akan digerakkan. Dengan pola politik seperti ini maka rakyat tidak akan salah pilih hanya karena sosok luar seorang calon pemimpin tetapi memang seluruh pola pikir yang ada pada dirinya akan bisa ditangkap. Cukuplah pembodohan kepada rakyat diakhiri sampai disini, marilah kita nilai bersama-sama siapa diantara elit politik yang ada saat ini yang berani mengambil political style by content, dan tidak sekedar political style by money and lobby.


2. Memiliki sikap empati dan sensitivitas terhadap rakyatnya.


Inilah modal dasar yang penting bagi seorang pemimpin sejati. Seorang pemimpin di level manapun mustahil memahami dengan baik rakyat yang dipimpinnya ketika mereka belum merasakan langsung kondisi rakyatnya. Tengok saja model pemimpin zaman era pertama Islam Umar bin Khatab yang saat membuka pintu Yerusalem memilih menaiki keledai kecil dan dengan pakaian ala kadarnya membuat posisinya tampak berada di bawah sang jendral penakluk kota tersebut.


Atau juga tengok Bapak Koperasi kita Bung Hatta yang menjadi sangat dikenang selain karena intelektualitasnya juga karena kesederhanaan dan kejujurannya. Semua bentuk empati dan simpatinya itulah yang membuat mereka menjadi jauh lebih paham seperti apa rakyat yang dipimpinnya ketimbang mereka-mereka yang memilih gaya borjuis saat menjadi elit politik.


3. Mampu berkomunikasi dengan rakyatnya.


Kapasitas ilmiah serta empati dan rasa sensitivitas yang baik pada akhirnya akan melahirkan seorang pemimpin yang mampu berkomunikasi dengan baik kepada rakyatnya. Komunikasi yang baik kepada rakyatnya bukanlah sekedar kemampuan retorika yang baik, tetapi juga kemampuan memilih hal yang akan dilempar kepada publik serta waktu yang tepat dalam melemparkannya. Dan yang terpenting dari semua itu adalah sang pemimpin akhirnya mampu mengambil sebuah kebijakan yang tepat dalam sebuah kondisi yang memang dibutuhkan oleh rakyat yang dipimpinnya.


4. Berani menuangkan gagasannya pada ruang publik.


Inilah karakter berikutnya yang akan lahir dari seorang pemimpin ketika dia memiliki ketiga karakter sebelumnya. Meskipun begitu, realitas yang kita lihat saat ini sangat jauh dari harapan. Perbedaan yang ada dari para elit politik lebih pada masalah yang tidak substansial seputar perebutan kursi atau ‘rejeki’ lainnya yang menyebabkan tidak ada dialektika ilmiah yang argumentatif yang bisa dinikmati oleh rakyat.


Memang ini bukan suatu keharusan, tapi dari situ kita bisa menilai bahwa elit politik kita memang tidak terbiasa mengajak publik untuk terlibat dalam pengambilan keputusannya. Karakter otoriter dalam berfikir masih sangat dominan yang membuat dirinya sulit bersikap transparan bahkan untuk sebuah pemikirannya.


5. Memiliki kredibilitas moral yang teruji.


Inilah kelengkapan akhir dari karakter pemimpin yang membuat seorang pemimpin menjadi sempurna. Ketika seluruh karakter di atas bisa dimiliki oleh seorang pemimpin maka namanya akan dikenang melampaui usianya. Meskipun begitu, karakter terakhir inilah yang akan menentukan apakah dirinya akan dikenang dengan harum atau sebaliknya. Kredibilitas moral baru benar-benar akan menjadi karakter pada diri seseorang manakala sifat ini telah teruji.


Itulah berbagai harapan yang saat ini sedang dinanti-nantikan oleh seluruh masyarakat Tangerang. Pemimpin sejati semodel Gandhi, Bung Hatta, Umar Bin Khatab, dan lainnya saat ini sedang ditunggu kehadirannya. Bahkan siapapun yang berkarakter seperti yang disebutkan di atas, bukannya tidak mungkin akan lebih dikenang sebagai pemimpin oleh masyarakat meskipun mereka bukanlah bagian dari elit politik formal. Seseorang yang berkarakter pemimpin sejati akan mampu menembus sekat-sekat kursi struktural sebagaimana seorang Gandhi yang senantiasa dikenang sebagai pemimpin India meskipun dia bukan presiden India.


Siapapun yang memenangkan Pilkada nanti, secara formal merekalah para pemimpin Tangerang ini. Tetapi sejarah yang akan menunjukkan kepada kita siapa diantara mereka yang memang pemimpin sejati. Selamat bertarung, kami menanti kiprah anda, dan jangan khawatir, kami siap untuk tidak memilih anda 5 tahun lagi jika anda menghianati amanat rakyat !!


*Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau JANGKAR PILKADA,


Pilkada Tangerang